Makan Malam
Malam.
Ibu memanggil semua orang makan dari dapur.
"Makan! Nasi sudah masak!"
Maya sibuk mengambil piring dari rak, menghitung. "Satu, dua, tiga, empat, lima..."
Kakek mengeluh dari kebun, baru masuk sambil membawa keranjang, "Bah, siapa yang petik tomatku yang masih hijau tadi? Belum merah sudah dipetik! Sayang kali!"
Suasana kembali seperti keluarga biasa. Seperti tidak pernah ada piring pecah kemarin malam.
Ayah datang paling akhir. Keluar dari kamar, rambutnya masih basah habis cuci muka.
Arif sudah duduk di kursinya. Mereka saling melihat sesaat di meja makan.
Tidak ada lagi amarah seperti kemarin malam. Tetapi juga belum ada kata maaf. Hanya sisa canggung.
Ibu menyendok nasi satu per satu. Maya membagikan sendok.
Ayah mengambil seekor ikan goreng dari piring tengah. Tanpa sadar, refleks, ia meletakkan bagian terbesar, bagian perut ikan yang paling gurih, ke piring Arif.
Refleks kebiasaannya dulu, sepuluh tahun lalu, setiap Arif pulang sekolah.
Arif menatap ikan itu lama. Lalu menatap Ayah.
Ayah pura-pura sibuk mengambil sambal, tidak menatap balik.
"Bah, sambalnya kurang pedas. Siapa yang buat? Mamakmu ya?"
Tak seorang pun membahas ikan itu. Namun Ibu yang melihat dari seberang meja tersenyum kecil, matanya berkaca-kaca.
Teras
Setelah makan. Piring sudah dicuci Maya.
Ayah keluar ke teras. Duduk di bangku kayu yang kemarin dia perbaiki bersama Arif. Duduk sendirian, menatap halaman yang gelap.
Beberapa saat kemudian... pintu berderit pelan.
Arif ikut keluar. Tidak terlalu dekat. Hanya duduk di bangku sebelah, jarak satu meter.
Jangkrik berbunyi di kebun. Angin malam meniup daun mangga di atas mereka.
Lama. Tidak ada yang bicara.
Ayah berkata pelan, tanpa menoleh, menatap langit malam.
"dingin?"
Arif mengangguk, juga menatap langit.
"Iya, Yah."
Itu saja. Dua kata. Namun itu percakapan pertama mereka sejak pertengkaran piring pecah itu. Dan bagi keduanya, dua kata itu sudah lebih dari cukup untuk malam ini.
Pak Karjo Datang
Langkah sandal terdengar dari gang yang gelap.
Tok. Tok. Tok.
Pak Karjo datang membawa termos kopi hitam dan tiga gelas plastik. Ia tersenyum melihat dua orang keras kepala itu akhirnya duduk di teras yang sama lagi, setelah kemarin saling mendiamkan.
"Wah, ada kopi gratis," katanya pelan.
Ia menuang kopi ke gelas. Tangannya sedikit gemetar karena sudah tua dan malam dingin. Kopi tumpah sedikit ke lantai teras.
Ayah melihat tumpahan itu. Pak Karjo pura-pura tidak terjadi apa-apa, cepat mengelap dengan kakinya.
Tidak ada yang banyak bicara. Mereka bertiga hanya memandang halaman yang diterangi lampu teras kuning. Rumah terasa damai. Terlalu damai.
Arif Dipanggil
Dari dapur terdengar suara Ibu, lembut.
"Rif... ke sini dulu. Bantu Ibu angkat panci."
Arif menoleh ke dalam. Lalu berdiri. Sebelum masuk ia sempat melihat Ayah sekilas.