My Ghost Family

GAZALI
Chapter #11

BAB 11 — HARAPAN SEORANG KAKEK

Embun masih menempel di daun tomat. Tebal. Dingin.

Hari kelima dimulai.

Tak seorang pun di rumah itu tahu... Hari kelima dimulai.

Pagi itu terasa terlalu indah.

Seolah-olah waktu sedang berusaha mengingat setiap detiknya.

Kakek sudah berada di kebun sejak subuh. Topi capingnya miring. Keranjang bambu sudah diletakkan di samping pohon tomat yang berbuah lebat, merah-merah seperti tidak pernah dipanen.

Begitu melihat Arif keluar rumah sambil mengucek mata, wajah Kakek yang keriput itu langsung berbinar. Seperti anak kecil yang mainannya sudah datang.

Kakek: "Nah... bangun juga akhirnya si tukang tidur."

Arif mengucek mata, masih setengah mengantuk.

Arif: "Pagi kali, Kek. Jam berapa ini?"

Kakek tertawa, batuk kecil.

"Hari ini panen! Panen besar! Kau bilang mau bantu kan kemarin?"

Arif mengangguk sambil tersenyum.

Baginya... itu hanya panen biasa. Panen tomat pagi-pagi.

 

Janji Sepuluh Tahun Lalu

Mereka mulai memetik tomat. Kakek dengan hati-hati, Arif dengan asal.

Kakek tiba-tiba berkata sambil memutar satu buah tomat merah di tangannya, memandanginya lama.

"Ingat dulu?"

Arif menoleh.

Kakek: "Dulu kau bilang... kalau nanti sudah besar... tomat pertama yang merah... harus kita petik sama-sama. Kau sama Kakek. Janji."

Arif berhenti memetik. Baru ia ingat. Waktu dia SD, sekitar umur 7 tahun. Dia pernah janji itu sambil bermain di kebun ini.

Ia tersenyum malu.

"Masih diingat juga, Kek? “

Kakek tertawa, suaranya serak.

"Janji cucuku mana mungkin kulupa. Sudah Kakek tunggu."

Arif ikut tertawa.

Kakek memetik satu tomat yang paling merah, paling besar. Tomatnya diberikan ke Arif, dilempar pelan.

"Ambil!"

Arif menangkapnya. Licin. Tomat jatuh ke tanah, menggelinding.

Kakek suaranya pecah oleh tawa,

"Beginilah dari kecil! Ceroboh!"

Arif ikut tertawa sambil memungut tomat itu, mengelapnya dengan baju.

"Makanya Kakek jangan nyuruh aku jadi petani. Rugi bandar."

Tanpa sadar... hari itu... ia sedang memenuhi janji yang tertunda sepuluh tahun. Janji yang seharusnya dipenuhi di hari mereka berangkat ke Danau Toba dulu.

 

Semua Berkumpul

Ibu datang membawa teh hangat dalam teko dan gelas-gelas. Maya membawa ember kosong untuk tomat. Ayah keluar dari rumah membawa gunting tanaman yang sudah diasah.

Semua lengkap di kebun. Duduk melingkar di tikar di tengah kebun tomat.

Namun... ada yang berbeda.

Ayah lebih banyak diam. Tidak mengomel seperti biasanya kalau Maya salah petik. Sesekali ia memandang wajah satu per satu anggota keluarganya. Lama.

Lihat selengkapnya