My Ghost Family

GAZALI
Chapter #12

BAB 12 — HARAPAN YANG TERKABUL

Pagi Setelah Panen

Pagi kelima.

Rumah kembali seperti biasa. Aroma tumisan tomat memenuhi dapur.

Ibu sibuk memasak hasil panen kemarin. Maya mengintip ke dalam wajan, lalu langsung menghela napas panjang.

"Tomat lagi?"

Kakek yang sedang menyeruput teh langsung tertawa.

"Kalau bukan tomat, nanti kau protes juga. Mau tanam mi instan di kebun?"

Semua tertawa.

Hanya Ayah yang tidak. Ia duduk sendirian di teras. Secangkir kopi di tangannya sudah mulai dingin.

Tatapannya sesekali jatuh kepada Kakek. Lama. Seolah sedang memastikan orang tua itu masih benar-benar ada.

Ucapan Pak Karjo semalam terus berputar di kepalanya. "Hari ketujuh... kalian akan menghilang..."

Tanpa sadar... Ayah kembali menoleh ke arah Kakek. Masih di sana. Masih tertawa. Masih mengomeli Maya yang diam-diam mengambil tomat paling merah.

Ayah mengembuskan napas pelan. Beberapa detik kemudian... ia kembali melihat ke arah yang sama. Lalu sekali lagi.

Arif yang duduk di anak tangga memperhatikan semua itu. Ia sempat mengernyit. Tetapi memilih diam.

Ibu keluar dari dapur sambil membawa sepiring gorengan. Melihat Ayah masih menatap ke arah yang sama.

"Kenapa kau dari tadi melamun terus?"

Maya langsung menyambung sambil tertawa.

"Jangan-jangan Ayah lagi banyak utang."

Ayah hanya mendengus pelan.

"Utang apanya."

Kakek ikut terkekeh.

"Kalau bukan utang... pasti lagi mikirin cucu. Sudah tua pun masih suka kebanyakan pikiran."

Semua kembali tertawa. Ayah ikut menarik sudut bibirnya. Senyum kecil. Dipaksakan.

Namun ketika tawa itu mereda... tatapannya kembali mencari Kakek. Seolah ia takut... pada saat ia berkedip... orang tua itu benar-benar menghilang.

 

Kakek Sangat Bahagia

Setelah sarapan... Kakek mengajak Arif ke kebun. Bukan untuk bekerja. Hanya melihat tanaman.

Kebun terasa lebih lapang setelah dipanen kemarin.

Kakek tersenyum puas. Ia mengusap batang tomat yang masih tersisa. Lalu berkata sambil tersenyum, memandang kebun lama sekali.

"Sekarang... aku tenang."

Arif tersenyum.

"Minggu depan kita tanam lagi ya, Kek."

Kakek hanya tersenyum. Tidak menjawab. Senyumnya seperti sudah selesai.

 

Pak Karjo Melihat Sesuatu

Pak Karjo datang. Dari jauh. Langsung berhenti di luar pagar.

Melihat Kakek. Kakek sedang tersenyum puas sambil memegang tomat.

Pak Karjo langsung diam. Ia seperti pernah melihat senyum itu. Senyum lega yang ia lihat setiap tahun sebelum seseorang hilang.

Pak Karjo memejamkan mata. Pelan. Berbisik.

"Senyum itu... aku pernah melihatnya..."

 

Arif Mulai Melihat

Saat membantu membawa keranjang, Arif hendak memanggil Kakek. Hendak menepuk bahu Kakek.

Tangannya berhenti.

Ia yakin... barusan ia menyentuh bahu itu. Tetapi... telapak tangannya hanya merasakan udara pagi.

Ia mencoba lagi. Kali ini berhasil, bahunya terasa.

Arif membeku.

"Perasaanku saja..."

Kakek sendiri... tidak menyadarinya. Masih sibuk menata keranjang.

Arif mulai panik. Jantungnya berdegup.

 

Ayah Masih Melihat Normal

Langkah Ayah terdengar mendekat dari arah rumah. Ia membawa segelas teh hangat.

"Apa yang kalian kerjakan di situ?"

Arif menoleh cepat. Wajahnya pucat.

"Yah..."

Ayah berhenti.

"Kenapa?"

Arif menatap Kakek. Lalu kembali menatap Ayah. Dengan suara yang gemetar, ia berkata,

"Yah... lihat tangan Kakek."

Lihat selengkapnya