Siang yang Tidak Lagi Sama
Matahari mulai condong ke barat. Cahayanya tidak lagi menyengat, tapi menggantung kekuningan di atas kebun tomat yang baru selesai dipanen. Rumah kembali tenang. Terlalu tenang untuk ukuran rumah yang seharusnya ramai.
Di dapur, Ibu masih berkutat dengan panci dan kompor kayu. Suara centong beradu dengan wajan terdengar sesekali. Di teras samping, Maya duduk bersila di atas tikar lusuh, menyortir tomat hasil panen. Yang merah dipisah ke bakul anyaman, yang masih hijau dikumpulkan di karung. Tangannya cekatan, tapi matanya sesekali melirik ke dalam rumah.
Dari dalam rumah... sesekali terdengar suara Ayah.
AYAH:
"Iya, Pak. Iya. Nanti kita tanam lagi lah. Jangan buru-buru. Pelan-pelan saja kita kerjakan."
Jeda sebentar, lalu terdengar lagi.
AYAH:
"Bah, sudah ku bilang kan, Pak. Bapak duduk saja di situ. Biar aku yang urus. Bapak minum teh nya aja dulu. Nanti keburu dingin."
Nada Ayah itu... hangat, menghormati, tapi dengan gaya khasnya yang tidak bisa pelan. Meledak-ledak, keras, logat Medannya kental sekali. Seolah memang ada seseorang yang sedang duduk di depannya, di ruang tengah.
Di luar pagar bambu yang sudah miring, Pak Karjo berhenti. Langkahnya tertahan. Caping di kepalanya ia pegang. Ia mendengar semua itu dengan jelas.
Namun ia tidak segera masuk. Sudah dua hari ini ia merasa ada yang tidak beres dengan rumah itu.
Tatapannya jatuh ke kursi bambu di bawah pohon tomat. Kursi bambu tua tempat Kakek biasa duduk sore-sore sambil mengawasi kebun. Kursi itu kosong.
Angin sore berembus pelan, menggerakkan caping petani yang masih tergeletak di tanah dekat bedengan tomat. Caping milik Kakek. Sudah dari pagi di situ.
Pak Karjo refleks hendak mengambilnya. Tangannya sudah setengah terulur. Lalu berhenti. Ada rasa berat yang tidak bisa ia jelaskan.
Pelan ia berkata, hampir seperti gumam.
"Masih ditinggal juga..."
Pak Karjo menghela napas panjang. Napas orang tua yang menyimpan banyak cerita. Lalu ia melangkah mendekat ke pagar. Sendalnya berdecit menginjak tanah kering.
Ayah yang Mulai Ragu
Ayah berdiri di ambang pintu. Badannya yang besar itu menghalangi sebagian cahaya dari dalam. Bajunya masih baju panen yang kotor oleh tanah. Begitu melihat Pak Karjo di luar, wajahnya langsung berubah, seperti menemukan tempat mengadu.
AYAH:
"Karjo! Oi, Karjo! Sini kau dulu, Jo! Kau dari mana aja? Dari tadi ku tunggu!"
Pak Karjo menoleh.
"Iya."
Ayah terdiam sebentar. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seolah memilih kata, padahal biasanya Ayah ini kalau bicara tidak pernah milih-milih, langsung keluar aja.
AYAH:
"Karjo... Arif... si Arif itu loh, dari tadi aneh kali. Aku perhatikan dari pagi."
Pak Karjo hanya mendengar. Tidak menyela. Ia tahu kalau Ayah sedang mulai cerita, lebih baik didengarkan saja dulu.
Ayah kembali berkata, suaranya sedikit direndahkan, tapi tetap dengan gaya Bataknya yang blak-blakan.
AYAH:
"Dari selesai panen tadi... dia itu terus bertanya sama aku. 'Kakek di mana, Yah?' Bah, ditanya nya terus. Sampe pusing kepala ku."
"Padahal..."
Ayah menoleh ke ruang tengah. Ke arah kursi kayu dekat jendela.
Kakek... masih duduk di sana. Dengan sarung kotak-kotak dan baju koko putih yang sudah agak pudar. Sedang menyeruput teh dari cangkir seng. Asap tipis masih mengepul.
Ayah kembali menatap Pak Karjo dengan wajah bingung yang dibuat-buat lucu, tapi matanya menyimpan takut.
AYAH:
"Padahal... Bapak masih di rumah, Jo. Masih di situ dia. Duduk. Kau tengok lah. Masih di situ kan? Kenapa Arif bilang Bapak hilang? Anak itu ngarang-ngarang aja. Atau matanya yang kelilipan tanah tomat tadi? Bah, heran aku."
Pak Karjo tidak menjawab. Ia menatap ke arah yang ditunjuk Ayah. Ke ruang tengah.
Keheningan
Lama. Sangat lama keheningan itu menggantung.
Pak Karjo hanya memandang rumah itu. Pandangannya kosong tapi dalam. Lalu ia memandang kursi bambu di bawah pohon tomat yang kosong. Kemudian ia memandang kebun tomat yang baru dipanen, yang daunnya sudah mulai layu.