My Ghost Family

GAZALI
Chapter #14

BAB 14 — FOTO TERAKHIR

Makan Malam Tanpa Satu Kursi

Malam turun perlahan. Bukan malam yang gelap gulita, tapi malam yang hangat. Lampu ruang makan yang kuning itu menyala, menerangi meja kayu yang sudah berumur puluhan tahun. Aroma sambal tomat yang baru diulek Ibu memenuhi seluruh rumah, bercampur dengan bau ikan goreng yang masih panas.

Ibu berdiri di pintu dapur sambil memanggil semua orang, dengan suara yang tetap lembut meski lelah.

IBU:

"Sudah... Makan dulu. Nasi nya keburu dingin nanti."

Ayah keluar dari kamar. Langkahnya pelan, tidak seperti biasanya yang hentak-hentak. Maya membawa piring-piring. Arif berjalan paling belakang, kepalanya agak menunduk.

Begitu duduk melingkar di tikar... Arif langsung melihat ke kursi Kakek. Kursi kayu kecil di sudut meja. Kursi yang selalu diduduki Kakek.

Kosong.

Ia menoleh kepada Ibu.

ARIF:

"Bu... Kakek mana?"

Ibu tetap menyendok nasi ke piring, tanpa melihat ke arah kursi itu. Wajahnya datar.

IBU:

"Oh... Kakekmu sudah makan duluan. Katanya badan kurang enak. Sudah tidur dia."

Arif menoleh ke arah kamar Kakek. Pintu kayu itu tertutup rapat. Tidak ada cahaya dari celahnya.

Ia mengangguk pelan.

ARIF:

"Ooh..."

Namun... entah kenapa... dadanya tetap terasa tidak nyaman. Ada yang mengganjal. Seperti ada yang kurang, tapi ia tidak tahu apa.

AYAH

"Bah, sudah... kau makan dulu, Arif. Jangan mikir yang macam-macam. Kakekmu itu sudah tua, wajar kalau capek. Kau makan lah yang banyak. Nanti tomatnya nangis kalau tidak dimakan."

 

Makan Malam yang Masih Hangat

Meja makan kembali ramai, tapi ramai yang dipaksakan. Di tengah meja ada semangkuk sayur bening, ikan goreng yang masih berdesis, dan... semangkuk besar sambal tomat merah menyala.

Maya melihat lauk di meja. Lalu menghela napas panjang, gaya anak gadis yang bosan.

MAYA:

"Tomat lagi..."

Ibu tersenyum sambil menyendok nasi.

IBU:

"Panennya banyak. Kalau tidak dimasak sekarang... Besok busuk semua. Sayang kan."

Maya mengambil sepotong ikan. Lalu melihat sambal tomat itu lagi.

MAYA:

"Besok tomat lagi. Lusa tomat lagi. Lama-lama aku merah juga kayak tomat ini. Nanti dikira anak tomat pula aku."

Semua tertawa. Arif akhirnya ikut tersenyum tipis. Tawa itu membuat rumah terasa sedikit hidup kembali.

Sendok beradu dengan piring. Suara gelas. Tawa kecil Ibu.

Rumah itu... terlihat sangat normal dari luar. Sangat normal.

Hanya... Ayah hampir tidak menyentuh makanannya. Nasinya masih utuh. Matanya tidak di piringnya.

AYAH (mencoba ikut tertawa, tapi suaranya berat):

"Bah, kau ini Maya... Baru makan tomat seminggu sudah ngeluh. Dulu Bapakmu ini makan tomat tiap hari, tengok... sampai sekarang masih ganteng kan? Masih kuat. Kau harus banyak belajar dari Bapakmu ini."

MAYA:

"Iya, iya, Bapak paling ganteng sekebun."

Semua tertawa lagi. Tapi Ayah tertawanya hampa.

 

Ayah Mengingat Semuanya

Sementara yang lain berbicara... Ayah hanya memperhatikan. Ini bukan kebiasaan Ayah. Biasanya Ayah yang paling ribut kalau di meja makan.

Sekarang tatapannya bergantian. Pelan. Satu per satu ia tatap.

Ibu. Yang sedang tersenyum sambil mengambilkan ikan untuk Maya.

Maya. Yang masih manyun tapi lucu.

Arif. Yang masih sesekali melirik ke kamar Kakek.

Lalu... kursi kosong milik Kakek.

Di kepala Ayah, semua ucapan itu berputar-putar seperti kaset rusak.

Ucapan Pak Karjo sore tadi. "Hari ketujuh... Satu per satu..."

Lalu perkataan Arif pagi tadi. "Kakek tadi di situ..."

Kemudian pengakuan Pak Karjo yang membuat jantungnya mau copot. "Aku juga tidak lagi melihat beliau."

Lihat selengkapnya