Pagi Keenam
Pagi keenam datang dengan tenang.
Kabut tipis masih menggantung di atas kebun tomat, belum diusir matahari. Udara dingin menggigit kulit. Dari dapur terdengar suara Ibu memasak sarapan, wajan berdesis pelan.
Arif baru keluar dari kamar sambil menguap. Langkahnya masih malas.
Pandangannya berhenti pada ponselnya yang tergeletak di meja ruang tengah. Layarnya masih menyala. Foto keluarga yang semalam mereka ambil.
Ia mengambilnya. Tersenyum kecil.
Lengkap. Akhirnya.
"Akhirnya jadi juga," gumamnya. Hangat.
Di ruang tengah...
Ayah masih duduk bersama secangkir teh yang uapnya masih mengepul. Sesekali ia melirik ke arah kursi di seberangnya. Ke arah Kakek.
Ucapan Pak Karjo semalam terus terngiang di kepalanya, jelas seperti baru saja diucapkan.
"Aku juga tidak bisa melihat beliau."
Ayah kembali menatap Kakek.
Masih duduk.
Masih tersenyum.
Masih tampak begitu nyata.
Ia menghela napas pelan, mencoba menenangkan debarnya sendiri.
"Kalau begitu... kenapa cuma Karjo yang tidak melihat?"
Maya Belum Keluar
Sarapan hampir siap.
Arif duduk di meja makan. Matanya mencari ke sekeliling. Ke dapur. Ke lorong kamar.
Tidak ada.
Maya.
Ia mengira adiknya masih mandi. Biasanya memang paling lama.
Ibu datang membawa dua piring nasi goreng. Diletakkannya satu di depan Arif.
"Bangunin Maya nanti. Suruh makan, keburu dingin," kata Ibu.
Arif mengangguk. "Iya Bu."
Beberapa menit berlalu. Nasi goreng di piringnya sudah tidak mengepul lagi. Suara gayung atau pintu kamar mandi tidak terdengar sama sekali.
Sarapan mulai dingin.
Maya belum juga datang.
Rasa hangat tadi mulai tergeser sesuatu yang aneh.
Arif berdiri. "Kubangunin dulu."
Tidak Ada
Arif berjalan menuju kamar mandi. Pintunya terbuka lebar.
Kosong. Lantai kering. Ember kosong. Tidak ada jejak air.
Ia beralih membuka pintu kamar Maya. Pelan.
Rapi. Selimut terlipat rapi. Boneka beruang duduk manis di atas bantal. Tidak ada siapa-siapa.
"Maya?"
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba sekali lagi.
"Maya!"
Tetap sunyi.
Ia berkeliling ke belakang rumah. Dapur belakang. Tempat jemuran. Lalu ke teras depan yang berembun.