My Ghost Family

GAZALI
Chapter #16

BAB 16 — MEREKA SELALU KEMBALI

Pak Karjo Sudah Menunggu

Pagi masih basah oleh embun.

Kabut belum naik sepenuhnya dari kebun tomat. Butir-butir air menggantung di ujung daun, berkilau ketika sinar matahari pertama menyelinap dari balik pohon. Udara dingin dan tanah becek berbau humus.

Pak Karjo sudah duduk di bangku kayu depan rumahnya sejak tadi. Bangku yang sama yang sudah menemaninya puluhan tahun

Tatapannya kosong. Matanya menatap kebun, tapi pikirannya tidak di sana.

Sejak kemarin sore, sejak Arif datang dengan wajah bingung dan berkata, "Kakek tidak ada, Pak," kepalanya tidak berhenti berdengung.

Bukan karena Kakek menghilang. Ia sudah terlalu sering melihat melimat mereka  menghilang setiap tahun. Ia sudah hafal rasanya.

Pertama kalinya dalam hidupnya yang panjang, ada orang lain yang mengalami hal yang sama. Untuk pertama kalinya, ia tidak sendirian menjadi satu-satunya orang yang tidak bisa melihat.

Suara langkah kaki terdengar mendekat di jalan setapak yang becek. Langkah yang tergesa, menyeret.

Pak Karjo mengangkat kepala perlahan. Lehernya yang sudah keriput terasa kaku.

Arif.

Anak itu terlihat jauh lebih pucat dibanding kemarin. Jaketnya yang kemarin masih rapi kini kusut. Matanya sembab, merah di tepinya, seperti tidak tidur semalaman. Di tangannya, ponsel digenggam begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Layarnya menyala, menampilkan sesuatu.

Pak Karjo langsung tahu bahkan sebelum Arif membuka mulut. Ia tahu dari cara Arif berjalan. Cara orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang kedua kalinya.

"Bukan kabar baik..." gumam Pak Karjo pelan, suaranya hampir hilang ditelan kabut.

 

Sekarang Maya

Arif berhenti tepat di depan Pak Karjo. Jaraknya hanya dua langkah. Napasnya belum teratur, putus-putus, karena ia setengah berlari dari rumah tanpa pamit kepada Ibu dan Ayah.

"Pak..."

Pak Karjo mengangguk pelan, memberi isyarat agar Arif melanjutkan. Matanya yang tua menatap dalam.

"Ada lagi?" tanyanya. Pertanyaan yang sebenarnya ia takut jawabannya.

Arif terdiam beberapa detik. Ia menatap tanah, lalu menatap Pak Karjo, lalu menatap kebun tomat di belakangnya, seolah mencari tempat untuk menyembunyikan kata-kata itu. Bibirnya bergetar hebat.

Lalu berkata lirih, hampir tidak terdengar, seperti bisikan yang ia sendiri tidak ingin dengar.

"Sekarang... Maya."

Pak Karjo membeku. Sapu lidi di sampingnya bergeser sedikit karena angin, tapi ia tidak menoleh.

"Maksudmu?" Suara Pak Karjo tiba-tiba serak.

Arif menggeleng, air matanya sudah naik ke pelupuk. "Aku... aku tidak bisa melihat Maya lagi. Dari tadi pagi, Pak. Dari bangun tidur. "Pak...

aku tidak bisa melihat Maya lagi.

Dari tadi pagi. Pak. Saya benar-benar tidak lihat dia sama sekali."

Sunyi.

Sunyi yang panjang dan menyakitkan. Angin pagi yang menggerakkan daun tomat tiba-tiba terasa sangat keras suaranya, seperti ribuan bisikan.

Pak Karjo perlahan memejamkan mata. Napasnya terdengar berat, tersengal. Dada tuanya naik turun dengan susah payah. Ia memejamkan mata begitu lama, sampai Arif mengira ia pingsan.

Lama. Lama sekali. Seolah ia baru saja kehilangan harapan terakhir yang ia simpan dan rawat selama puluhan tahun.

Lalu ia membuka mata kembali. Matanya memerah, berkaca-kaca.

"Berarti..." suaranya parau, hampir tidak berbentuk kata. "Sudah dimulai."

 

Yang Selama Ini Aku Lihat

Dua kata itu — sudah dimulai — membuat tengkuk Arif merinding. Darahnya seperti berhenti mengalir.

"Sudah dimulai? Apa maksudnya, Pak? Apa yang sudah dimulai?"

Arif langsung berjongkok di depan bangku kayu itu, sejajar dengan lutut Pak Karjo. Ia mencengkeram ujung bangku, putus asa.

"Pak, sebenarnya apa yang terjadi? Tolong... tolong jelaskan ke saya. Saya mohon. Saya sudah gila rasanya. Tadi Ibu ketawa waktu saya bilang tidak lihat Maya. Ayah bilang saya masih ngantuk. Tapi saya tidak ngantuk, Pak. Saya tidak gila."

Pak Karjo menatap wajah muda di depannya itu dengan iba. Ia mengulurkan tangan keriputnya, ingin menepuk bahu Arif, tapi urung. Ia menggeleng pelan. Wajahnya penuh rasa bersalah.

"Aku berharap... kau tidak menanyakan itu, Rif."

"Kenapa?"

Lihat selengkapnya