Pulang
Arif berjalan pulang dari rumah Pak Karjo.
Jalan setapak yang tadi becek terasa lebih panjang dari biasanya. Kabut sudah mulai naik, tapi kepalanya justru semakin berkabut.
Ucapan lelaki tua itu terus berputar di kepalanya, seperti kaset yang nyangkut.
"Jawabannya mungkin ada padamu."
"Kalau memang ada seseorang yang bisa menyelesaikan semua ini... orang itu adalah kau."
Langkahnya lambat. Matanya kosong. Ponsel di sakunya terasa berat. Di dalamnya ada foto keluarga yang belum sempat ia cetak.
Apa yang harus kucari? Apa yang kulewatkan? Apa yang ada padaku?
Ia tidak tahu. Ia bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.
Sesampainya di rumah, pintu kayu itu sedikit terbuka. Dari dalam, terdengar suara yang tidak biasa pagi-pagi begini.
Mmmmm....
Suara mixer tua. Berdengung pelan.
Ibu sedang di dapur, mengaduk adonan di dalam mangkuk plastik hijau yang sudah lama. Punggungnya membungkuk, dasternya yang bermotif bunga-bunga.
Melihat Arif masuk, ia menoleh dan tersenyum seperti biasa. Senyum yang hangat, yang dari kecil selalu membuat Arif merasa aman.
"Udah pulang?" tanyanya.
Arif mengangguk pelan. Tenggorokannya kering. "Iya, Bu."
"Lagi bikin apa, Bu?"
"Cake." Ibu tersenyum tanpa menoleh, kembali fokus pada adonan. "Kesukaanmu. "
Arif ikut tersenyum kecil. Otomatis. Lega rasanya melihat Ibu masih ada. Masih bisa dilihat. Setelah Maya yang menghilang dari matanya pagi ini, melihat Ibu masih berdiri di sana terasa seperti anugerah.
Namun... entah kenapa... dadanya terasa sedikit sesak.
Cake?
Kenapa tiba-tiba membuat cake? Padahal beberapa hari lalu Ibu sudah masak banyak. Meja makan penuh. Ayam goreng, sambal, sayur. Bukankah itu sudah lebih dari cukup?
Kenapa sekarang cake?
Ia belum menemukan jawabannya. Rasa lega itu perlahan tergeser rasa aneh yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia masuk ke kamar, menutup pintu pelan.
Mencari Jawaban
Pintu kamar ditutup, tapi suara mixer itu masih terdengar. Mmmmm.... menembus dinding papan.
Arif berdiri lama di tengah kamarnya. Tatapannya berputar ke seluruh ruangan. Lemari kayu yang catnya sudah mengelupas, meja belajar yang penuh coretan, kalender lama yang sudah tidak diganti.
"Jawabannya ada padamu."
Kalimat itu seperti terus mengejarnya, memojokkannya.
Ia mulai membuka lemari. Satu per satu. Laci atas, laci bawah. Kotak-kotak kardus yang sudah berdebu.
Buku sekolah SD. Surat-surat lamaran kerja yang gagal. Buku tulis yang sudah menguning. Album foto yang sudah ia lihat ribuan kali.
Tidak ada. Tidak ada yang aneh.
Ia tidak menemukan apa yang dicari, karena ia sendiri tidak tahu apa yang ia cari.
Ia berpindah ke kamar Maya. Pintu kamar itu tidak dikunci. Kamar itu masih serapi biasanya. Terlalu rapi untuk kamar anak perempuan yang baru saja menghilang.
Boneka beruang masih duduk di atas bantal, menghadap pintu seolah menunggu. Pita rambut warna-warni masih tergantung rapi di kaca. Di meja belajar,.
Beberapa foto masa kecil ditempel di dinding.
Kancing baju SD yang sudah karatan. Gelang plastik dari pasar malam. Tiket masuk kebun binatang yang sudah luntur. Pita lomba tujuh belas Agustus juara harapan dua.
Tidak ada. Semua hanya sampah kenangan yang manis.
Ia membuka laci paling bawah. Kosong, hanya ada debu.
Ia menghela napas panjang, frustrasi. Duduk di lantai kamar Maya yang dingin.
"Jawabannya sebenarnya apa..." bisiknya pada dirinya sendiri, pada boneka beruang itu, pada siapa saja yang mau mendengar.
Matanya lalu jatuh pada sebuah kotak tua yang terselip di bawah ranjang Maya. Kotak sepatu yang sudah penyok, warnanya cokelat pudar, hampir terlupakan karena tertutup kain pel.
Kotak yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Foto Terakhir
Kotak itu berdebu tebal.
Arif menariknya perlahan. Menupuk debunya. Batuk kecil.
Di dalamnya... tidak ada sepatu. Hanya ada sebuah amplop cokelat besar yang sudah lecek, diikat dengan karet gelang yang sudah melar.
Ia membukanya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Foto-foto lama. Banyak sekali.
Foto ulang tahun Maya yang ke-10, dengan kue tart abal-abal. Foto sekolah Arif waktu masih pakai seragam putih biru. Foto masa kecil Maya yang ompong. Foto Ayah ketika masih muda, masih gagah dengan kumis tipis, memeluk Ibu yang masih langsing.
Tawa, bahagia, semua masih utuh.
Lalu... tangannya berhenti.
Di paling bawah tumpukan, ada satu foto keluarga yang ukurannya sedikit lebih besar. Kertasnya sudah agak menguning.
Di foto itu, mereka berlima. Berdiri di depan rumah yang sama. Kakek, Ayah, Ibu, Maya . Semua tersenyum.
Di belakang foto, ada tulisan tangan Ibu yang sangat ia kenali. Tulisan yang miring, halus.