Kebun yang Sunyi
Pagi mulai meninggi.
Kabut sudah hilang. Matahari menggantung bulat di atas kebun tomat, menyinari setiap daun yang masih menyisakan embun. Biasanya jam segini kebun sudah riuh — Ibu memanggil dari dapur, Maya mengomel kepanasan, Kakek batuk-batuk sambil menyeret cangkul.
Hari ini sunyi.
Ayah berdiri sendirian di tengah kebun tomat. Tidak memetik. Tidak menyiram. Hanya berdiri.
Tangannya menggenggam satu buah tomat yang sudah merah sempurna. Merah yang kemarin ia banggakan pada Arif. Tatapannya kosong menatap barisan tanaman yang ia rawat dengan tangannya sendiri.
Dari kejauhan terdengar samar suara mixer dari rumah.
Mmmm... Mmmm...
Ibu sedang membuat cake. Untuk Arif.
Ayah mendengarnya. Jelas sekali. Tapi ia tidak bergerak. Tidak menoleh. Ia hanya berdiri mematung di antara tanaman-tanaman yang seharusnya tidak pernah ia lihat lagi.
Setelah Semua Ini...
Ayah akhirnya duduk di bangku bambu yang ia buat sendiri dari bambu belakang rumah. Kayunya sudah reot dan berderit pelan.
Ia menatap seluruh kebun. Luas. Hijau. Berbuah lebat. Kebun yang ia tanam setelah ia seharusnya sudah mati tenggelam di Danau Toba.
Pelan ia berbicara sendiri. Suaranya serak, hampir hilang ditelan angin.
"Lucu..."
Ia menyentuh batang tomat di sampingnya. Jari-jarinya yang kasar membelai daunnya dengan hati-hati. Ia memeriksa buah yang mulai merah satu per satu, kebiasaan seorang petani yang tidak bisa hilang bahkan setelah kematian.
Sebuah tomat merah di ujung ranting hampir jatuh karena terlalu matang. Ayah dengan refleks menangkapnya.
Lalu ia memandangnya lama di telapak tangannya yang penuh tanah.
Lalu tiba-tiba ia sadar...
"Aku merawat tanaman... padahal aku sendiri sudah tidak hidup."
Ia tersenyum kecil. Bukan karena lucu. Melainkan karena lelah. Lelah yang begitu dalam sampai tidak ada lagi tenaga untuk marah atau protes. Hanya ada kelelahan yang menggantung.
Aku Sudah Ikhlas
Ayah menatap langit. Langit begitu cerah. Biru tanpa awan. Biru yang sama seperti hari mereka berangkat dulu, hari dimana ia memakai kemeja terbaiknya untuk berlibur.
Ia menarik napas panjang. Udara pagi yang segar masuk ke paru-parunya yang seharusnya sudah penuh air danau.
Lalu berkata lirih. Bukan kepada kebun. Bukan kepada siapa-siapa. Kepada langit.
"Ya Allah..."
"Kalau sebenarnya aku sudah mati... aku ikhlas."
Suara itu bergetar.
"Aku sudah lama ikhlas. Sejak di dalam air itu... waktu aku tidak bisa lagi menggapai tangan istriku... waktu aku tidak bisa lagi mendengar suara anakku memanggil Ayah... aku sudah ikhlas."