Tint!
Timer oven berbunyi pelan.
Ibu segera berdiri. Dengan hati-hati, dengan kain lap yang sudah lusuh, ia membuka pintu oven yang sudah tua itu. Seketika, aroma cokelat meledak memenuhi seluruh dapur.
Harum yang pekat, manis.
Ibu tersenyum puas. Wajahnya berkeringat, tapi matanya berbinar.
"Alhamdulillah... Jadi juga."
Ia mengangkat loyang perlahan, meniup-niup ujung jarinya yang kepanasan. Cake cokelat itu mengembang sempurna. Permukaannya retak sedikit, persis seperti yang dulu selalu Ibu buat.
Arif masih berdiri di ambang pintu. Sejak tadi. Sejak ia gagal menghentikan Ibu.
Wajahnya pucat. Matanya terus memperhatikan setiap gerakan Ibu. Setiap detik terasa seperti hitungan mundur yang tak bisa dihentikan.
Setiap gerakan Ibu membuat dadanya semakin sesak.
Namun Ibu sama sekali tidak menyadarinya. Baginya... hari itu hanyalah hari ketika ia akhirnya bisa menepati janji kepada anak sulungnya yang sudah lama tidak pulang.
Janji yang Akhirnya Ditepati
Cake dipotong perlahan. Asap tipis masih mengepul dari dalamnya. Pisau berderit pelan menembus kue yang lembut.
Ibu mengambil potongan pertama. Yang paling besar. Yang pinggirannya paling rapi.
Meletakkannya di atas piring putih yang sudah mulai retak di pinggirnya. Piring yang sama yang dipakai Arif sejak kecil.
Kemudian mendorong piring itu pelan ke arah Arif.
"Yang pertama buat kamu."
Arif tidak bergerak. Tangannya tetap menggantung di samping tubuh. Dingin.
Ibu tertawa kecil.
"Lho? Dulu paling semangat kalau lihat cake begini."
Arif menggeleng pelan. Suaranya serak.
"Aku nggak lapar, Bu."
Ibu mengusap lengannya. Tangannya hangat. Nyata.
"Nggak apa-apa. Coba sedikit saja. Ibu sudah nunggu lama buat bikin ini. Dari sebelum kamu berangkat dulu, Ibu sudah janji kan?"
Kalimat itu. Ibu sudah nunggu lama. Itu yang membuat dada Arif kembali sesak seperti ditusuk.
Gigitan yang Paling Berat
Dengan tangan gemetar... Arif mengambil garpu di atas meja.
Garpu itu beberapa kali meleset dari piring. Tangan itu tidak mau menurut. Bergetar hebat.
Ibu hanya tersenyum geli.
"Masih ceroboh juga. Persis kayak waktu SD. Makan aja masih belepotan."
Seperti yang ia ingat ketika Arif masih SD. Kalimat yang sama.
Akhirnya sepotong kecil cake masuk ke mulutnya.
Aroma mentega memenuhi mulutnya. Teksturnya lembut. Rasanya manis, persis seperti yang ia ingat.
Rasa yang selama bertahun-tahun ia cari di toko-toko kue mahal Jakarta, tetapi tidak pernah ia temukan.
Namun setiap kunyahan terasa seperti hukuman. Seperti ia sedang mengunyah hitungan mundur ibunya sendiri.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia memaksakan diri menelan. Tenggorokannya sakit.
Lalu mengambil satu suap lagi. Dan satu lagi. Ia makan dengan cepat, seperti ingin menghabiskannya sebelum sesuatu terjadi.
Ibu memperhatikannya dengan wajah puas. Wajah seorang ibu yang akhirnya berhasil membahagiakan anaknya.
"Enak?"
Arif tidak sanggup menjawab. Mulutnya penuh cake dan air mata yang ia tahan. Ia hanya mengangguk pelan, dengan air mata yang akhirnya jatuh ke atas piring putih itu.