Setelah Doa
"Amin."
Suara Ayah pelan, nyaris tenggelam oleh angin sore.
Ia mengusap wajah perlahan setelah menyelesaikan doanya di kebun belakang.
Tanah masih lembap sehabis disiram. Aroma tanah basah bercampur harum bunga melati yang ditanam Ibu di sudut kebun.
Entah mengapa, dadanya terasa jauh lebih ringan.
Sudah berhari-hari ia memohon. Agar keluarganya tetap diberi waktu. Agar rumah kecil itu tetap utuh.
Dan sore ini, ia merasa doanya didengar.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Ia berbalik menuju pintu belakang.
Begitu melangkah masuk ke dapur, langkah Ayah langsung terhenti.
Arif masih duduk di lantai.
Persis seperti ketika Ayah meninggalkannya beberapa menit lalu. Tidak berpindah sedikit pun.
Punggungnya membungkuk. Tatapannya kosong. Tangan kanannya masih terangkat di depan dada. Jemarinya sedikit melengkung, seolah masih menggenggam tangan seseorang.
Padahal tidak ada siapa-siapa di sana.
Ayah mengerutkan dahi.
Pandangannya beralih ke meja makan.
Loyang cake masih terbuka. Pisau pemotong masih tergeletak. Piring putih dengan sisa remah cokelat masih di tempat semula. Dua cangkir teh kini telah dingin.
Ruangan itu terasa aneh.
Seolah waktu berhenti tepat setelah Ayah keluar menuju kebun.
Ayah berjalan mendekat. Berjongkok di depan Arif. Tangannya menyentuh bahu anaknya perlahan.
"Rif..."
Tidak ada jawaban.
Ayah menepuk bahunya sedikit lebih kuat.
"Arif."
Beberapa detik berlalu. Barulah Arif berkedip. Pelan. Sangat pelan.
Namun tatapannya tetap kosong. Tidak melihat Ayah. Tidak melihat meja. Matanya terus tertuju ke ruang kosong di depannya.
Seolah seseorang masih berdiri di sana.
Ayah mengikuti arah pandangan itu.
Tidak ada apa pun.
"Kau kenapa?"
Arif tidak menjawab. Bibirnya bergetar kecil. Napasnya terdengar pendek.
Pelan-pelan ia menunduk. Memandangi telapak tangannya sendiri.
Lalu jemarinya bergerak. Menutup perlahan. Seolah berusaha menggenggam sesuatu yang baru saja lepas.
Namun telapak tangannya tetap kosong.
Ayah semakin bingung. Ia belum pernah melihat Arif seperti ini.
Ayah menghela napas panjang.
Mungkin Arif hanya terlalu lelah. Atau terlalu banyak pikiran.
Ia berdiri pelan. Matanya kembali menyapu dapur.
Cake. Pisau. Piring. Cangkir teh. Semuanya masih ada.
"Ibumu pasti lagi di depan..." gumamnya pelan, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri.
Ia mulai melangkah menuju pintu dapur.
Baru dua langkah, terdengar suara lirih dari belakang.
"...Yah."
Ayah berhenti. Menoleh.
Arif masih menatap tempat yang sama. Masih tidak melihat ke arahnya.
Dengan suara yang nyaris hilang, ia berkata,
"...jangan pergi jauh."
Ayah terdiam beberapa detik. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Namun ia segera mengusir perasaan itu. Ia mencoba tersenyum.
"Ayah cuma cari Ibu."