My Ghost Family

GAZALI
Chapter #21

BAB 21 — Rumah yang Terlalu Sunyi

Ayah masih berdiri di tengah ruang tamu. Kakinya terpaku. Pak Karjo tetap duduk di kursi kayu dekat jendela, menunduk dalam. Dari dapur, Arif masih duduk di lantai, memunggungi mereka berdua.

Detik jam dinding terdengar semakin keras. Tik. Tik. Tik. Terlalu keras untuk rumah sekecil ini.

Ayah akhirnya bergerak. Tangannya meraih saklar dan menyalakan lampu gantung. Cahaya kuningnya menyala, bergetar sebentar, lalu stabil. Cahaya itu seharusnya membuat hangat. Tapi malam ini justru sebaliknya. Cahaya kuning itu membuat setiap sudut yang kosong terlihat lebih jelas. Debu di atas lemari. Kursi-kursi yang tidak diduduki.

Ayah menatap satu per satu kursi kosong itu.

Kursi rotan Ibu yang biasanya ada selendang kecilnya.

Kursi plastik biru Maya yang kakinya sudah tidak rata.

Kursi goyang Kakek yang sekarang diam, tidak berderit lagi.

Ia menarik napas panjang. Napasnya berat, seperti ada yang menahan di dada.

"Kenapa..." suaranya serak, hampir berbisik. "Kenapa sekarang aku juga tidak bisa melihat mereka..."

Pak Karjo tidak mengangkat kepala. Ia tetap menunduk.

Tidak menjawab.

 

Semua Kemarahan Itu

Diam itu yang membuat Ayah berjalan.

Perlahan, ia mendekati Pak Karjo. Langkahnya pelan, tapi berat. Setiap langkah seperti menekan lantai.

Suaranya masih pelan di awal.

"Sejak awal... kau selalu tahu lebih dulu."

Pak Karjo diam.

Ayah berhenti satu langkah di depannya.

"Kau selalu datang. Tiap ada yang hilang, kau yang pertama datang."

Pak Karjo tetap diam. Tangannya terkepal di atas lutut.

"Kau selalu bilang tunggu. Sabar. Nanti ingat sendiri."

Diam itu semakin lama, semakin menyakitkan.

"Sekarang jawab aku!"

Ayah menunjuk dada Pak Karjo. Jemarinya gemetar.

"Apa sebenarnya yang kau sembunyikan dari aku, Jo? Apa?"

Pak Karjo masih tidak menjawab. Ia memejamkan mata.

Sesuatu di dalam dada Ayah putus.

Ayah mengguncang bahu Karjo.

Karjo tetap diam.

Ayah melepas.

Mundur.

Tertawa kecil.

"Lagi-lagi diam..."

Ia berbalik, tangannya menyapu gelas kosong di atas meja kayu dengan kasar.

PRANG!

Gelas itu pecah berantakan di lantai. Pecahannya menyebar sampai ke kaki kursi.

Arif terkejut di dapur. Bahunya tersentak, tapi ia tetap tidak berbalik.

Ayah berteriak, suaranya pecah. Bukan lagi marah, tapi seperti orang yang tenggelam.

"Jawab aku! Kenapa keluargaku satu per satu menghilang? KENAPA HARUS KELUARGAKU? KENAPA?"

Rumah itu memantulkan teriakannya, lalu menelannya kembali menjadi sunyi.

 

Aku Juga Lelah

Pak Karjo memejamkan mata lebih kuat. Bahunya naik turun. Tangannya yang tadi terkepal, sekarang gemetar hebat.

Lihat selengkapnya