Rumah yang Kini Tinggal Berdua
Pak Karjo sudah benar-benar menghilang di balik gelap malam.
Ayah masih berdiri di teras. Matanya mengikuti jalan tanah yang kosong. Tidak ada lagi suara langkah sandal. Tidak ada lagi sosok yang bisa dipanggil. Hanya angin dan daun-daun yang bergesekan.
Perlahan ia masuk kembali ke rumah.
Dan saat itu juga ia sadar, rumah ini terasa lebih sunyi daripada sebelumnya. Lebih sunyi dari ketika Ibu hilang. Lebih sunyi dari ketika Maya dan Kakek hilang. Karena sekarang, orang terakhir yang masih bisa melihatnya juga sudah pergi.
Lampu kuning masih menyala, temaram. Pecahan gelas yang tadi ia sapu masih ada yang tertinggal di sudut. Kursi goyang diam. Jam dinding kembali berdetak, terlalu keras.
Tik.
Tik.
Tik.
Arif masih duduk di lantai dapur. Posisinya hampir tidak berubah sejak sore. Punggung membungkuk, menunduk.
Ayah memandang anaknya lama. Arif tidak bergerak.
Tak ada yang memulai pembicaraan.
Ayah Tidak Tahu Harus Mulai dari Mana
Ayah mengambil sapu lidi di sudut.
Ia mulai membersihkan pecahan gelas. Pelan-pelan. Tidak ada satu kata pun yang keluar. Hanya suara kaca yang beradu, dikumpulkan ke dalam pengki.
Sesekali Ayah mencuri pandang ke arah Arif. Dan Arif juga melihat Ayah. Tapi sama-sama menghindari tatapan, seperti dua orang asing yang terjebak di rumah yang sama.
Setelah semua pecahan selesai dibersihkan, Ayah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia duduk di kursi kayu. Lama.
Akhirnya, suaranya keluar, serak.
"Rif..."
Diam.
Ayah menatap lantai.
"Ayah bingung."
Tidak ada jawaban dari dapur.
"Selama ini... Ayah selalu merasa... Ayah yang harus menjawab semua pertanyaanmu."
Ia tersenyum kecil. Pahit.
"Malam ini... Ayah bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan Ayah sendiri."
Arif perlahan mengangkat kepala. Menatap ayahnya.
Tentang Mereka yang Hilang
Ayah melihat kursi-kursi kosong di sekelilingnya.
"Biasanya... Ibumu sudah marah karena tehnya dingin."
"Kakek pasti sudah batuk-batuk minta air hangat."
"Maya pasti sudah ribut."
Lalu suaranya mengecil.
"Sekarang... semuanya hilang."
Ayah menutup mata. Tangannya meremas lututnya sendiri.
"Ayah sudah mencari ke seluruh rumah. Ke kebun. Ke teras. Tidak ada. Tidak ada siapa-siapa."
Ia menarik napas panjang yang bergetar.
"Ayah masih berharap... besok mereka muncul lagi."
Arif tidak menjawab. Ia hanya mendengarkan, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Pengakuan Ayah
Ayah memandangi kedua tangannya. Meremas jemarinya. Membuka dan menutupnya lagi. Seolah memastikan dirinya masih ada, masih nyata.
Lalu berkata pelan, sangat pelan.