My Ghost Family

GAZALI
Chapter #23

BAB 23 — Hari yang Hampir Terlupakan

Malam yang Tidak Mau Selesai

Rumah sudah gelap.

Lampu ruang tamu sudah Ayah matikan, tapi ia tidak beranjak ke kamar. Ia duduk sendirian di kursi kayu. Di depannya, Arif tertidur di sofa dengan posisi meringkuk, napasnya pelan tapi tidak tenang.

Jam dinding berdetak.

Tik.

Tik.

Tik.

Kalimat Arif terus terngiang di kepala Ayah, mengulang-ulang seperti kaset rusak.

"Aku sudah tahu... kalian sudah meninggal..."

"Sepuluh tahun lalu..."

Ayah memejamkan mata. Kepalanya sakit. Ia memaksa dirinya mengingat. Bukan yang hilang, tapi yang sebelum hilang.

Sedikit demi sedikit... suara-suara itu mulai kembali. Tidak jelas dulu, hanya gema. Lalu semakin terang.

CUT TO FLASHBACK.

 

Rumah yang Masih Penuh Tawa

Rumah terang.

Terang sekali. Lampu menyala semua. Dapur mengepul. Bau sop ayam Ibu menyebar sampai ruang tengah.

Maya berlari membawa kamera digital kecil, memotret apa saja. Kakek baru pulang dari kebun, masih membawa cangkul, sandal penuh tanah.

Ayah masuk dari pintu depan membawa map plastik bening. Wajahnya cerah, berkeringat, tapi cerah.

Ia meletakkan map di meja dengan bangga.

"Sudah selesai."

Semua menoleh.

Ibu yang di dapur: "Apa yang selesai?"

Ayah tersenyum bangga. Mengeluarkan isinya. Tiket kapal. Print reservasi hotel. Beberapa lembar kertas fotokopi KTP.

"Liburan kita ke Sabang. Semuanya sudah Ayah urus."

Maya langsung melompat, "Serius?! Sabang beneran?!"

Ayah tertawa, "Tiket. Penginapan. Sampai mobil sewa di sana. Sudah beres semua."

Maya langsung mengambil tiket itu, membolak-baliknya seperti harta karun. Kakek pura-pura membaca dengan kacamata terbalik, "Wah, tulisan Arab ini."

Ibu mengelap tangan, mendekat, "Hotel mahal kali ini, Yah?"

Ayah menjawab enteng, "Sekali-sekali lah. Keluarga ini sudah lama tidak jalan jauh."

Kakek mengangguk puas, "Akhirnya. Bapak sudah bosan lihat kebun terus."

Ibu tersenyum, "Capek juga ya ngurus semuanya sendirian."

Ayah mengangguk, "Tapi sekali-sekali keluarga ini harus jalan. Harus punya cerita."

 

Usulan Arif

Arif yang sejak tadi diam melihat tiket itu, lalu tersenyum kecil.

"Yah..."

Ayah menoleh, "Ada apa?"

Arif duduk di tepi meja. Memikirkan sesuatu.

"Gimana kalau jangan Sabang?"

Semua langsung melihat Arif.

Maya protes duluan, "Lho? Kok jangan? Kan sudah diurus Ayah?"

Ayah ikut bingung, "Kenapa? Ada yang salah?"

Arif menggeleng cepat, "Bukannya nggak bagus. Sabang bagus sekali. Cuma... Sabang jauh, Yah. Harus nyebrang. Capek di jalan. Kita baru pertama kali liburan lagi setelah lama. Nanti habis waktu di jalan."

Ia mengambil peta lipat dari dalam map, membukanya.

"Kalau ke Danau Toba saja? Dekat. Nggak terlalu capek. Pemandangannya juga bagus. Kalau nanti aku sudah kerja, kita tabung, baru kita jalan yang jauh ke Sabang. Sekalian lama di sana."

Rumah menjadi hening.

Kakek mengangguk pelan, "Masuk akal juga. Toba juga belum pernah Bapak kesana lagi."

Ibu ikut melihat Ayah, "Aku juga nggak masalah. Yang penting kumpul."

Lihat selengkapnya