My Ghost Family

GAZALI
Chapter #24

BAB 24 — Foto Terakhir

Pagi di Teras

Pagi masih sangat muda.

Kabut tipis menggantung di kebun. Embun masih menempel di daun-daun tomat yang mulai liar karena seminggu tidak diurus.

Ayah sudah duduk di kursi kayu di teras sejak matahari belum terbit. Secangkir kopi di sampingnya mulai dingin, tak sekali pun disentuh.

Tatapannya kosong mengarah ke jalan tanah di depan rumah. Namun sebenarnya, ia sedang menatap jauh ke dalam kepalanya sendiri.

Dari dalam rumah, jam dinding masih terdengar.

Tik.

Tik.

Tik.

Ayah memejamkan mata. Suara Arif semalam kembali terngiang.

"Aku sudah tahu... kalian sudah meninggal..."

Ia mengusap wajahnya perlahan.

"Aku sudah ingat sedikit... tapi belum cukup."

Ia mencoba mengurutkannya lagi. Sabang. Danau Toba. Telepon wawancara. Rajukannya sendiri di ruang tengah.

Setelah itu... gelap.

Ayah menggeleng pelan, berbisik pada dirinya sendiri.

"Apa yang terjadi setelah itu..."

 

Arif Datang Membawa Kotak

Pintu rumah terbuka pelan.

Arif keluar membawa sebuah kotak sepatu tua yang penuh debu. Ia duduk di samping Ayah. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk berbagi dinginnya pagi.

Beberapa saat, tak satu pun berbicara. Keduanya ikut memandang jalan yang kosong.

Lalu Arif berkata pelan, "Ayah nggak tidur?"

Ayah tersenyum tipis, "Sudah tua. Dikit-dikit bangun."

Arif tahu itu bukan jawaban sebenarnya. Ia meletakkan kotak itu di pangkuannya, membukanya perlahan.

Puluhan foto lama tersusun di dalamnya. Foto sekolah Maya. Foto ulang tahun. Foto panen tomat. Foto Ibu membuat kue. Foto Kakek tertidur di kursi goyang.

Arif membolak-balik semuanya. Lalu tangannya berhenti.

Ia mengeluarkan satu foto. Diam cukup lama. Foto itu disodorkannya kepada Ayah.

"Masih ingat ini?"

Ayah menerima foto itu. Tangannya langsung gemetar.

 

Foto Itu

Foto itu mulai kusam. Pinggirannya menguning. Tapi semua wajah masih jelas.

Ayah, Ibu, Kakek, Maya, Arif. Semua berdiri di halaman rumah, berjejer. Di belakang mereka pohon mangga, pot bunga, dan sepeda tua Maya yang bannya kempes.

Ayah menatap lama. Jari-jarinya mengusap perlahan wajah satu per satu. Berhenti di wajah Maya, lalu Ibu, lalu Arif.

Matanya mulai berkaca.

"Ini..."

Arif mengangguk, "Beberapa hari sebelum kita berangkat."

Ayah masih diam, tidak melepaskan foto itu.

Arif tersenyum kecil, "Maya yang maksa waktu itu. Katanya, 'Abang mau ke Jakarta, sebelum pergi kita harus punya foto baru. Nanti kalau kangen bisa dilihat.'"

Ayah menarik napas. Sesuatu mulai bergerak di kepalanya. Hangat, tapi perih.

 

Ingatan Mulai Terbuka

Foto itu perlahan memenuhi pandangan Ayah. Warnanya yang kusam menjadi hidup. Kuningnya menjadi cahaya sore yang hangat. Suara tawa mulai terdengar.

CUT TO FLASHBACK.

 

Maya Memaksa Semua Berfoto

Halaman rumah. Sore.

Lihat selengkapnya