My Ghost Family

GAZALI
Chapter #25

BAB 25 — PAGAR YANG KITA PERBAIKI


Pagi yang Terlalu Sunyi Untuk Ditahan Sendirian

Pagi masih sangat muda.

Kabut tipis menggantung di kebun. Embun masih menempel di daun-daun tomat yang mulai liar karena seminggu tidak diurus.

Ayah sudah duduk di kursi kayu di teras sejak matahari belum terbit. Secangkir kopi di sampingnya sudah dingin, tak sekali pun disentuh. Di tangannya, foto keluarga yang pinggirannya sudah menguning itu masih ia genggam erat.

Dari dalam rumah, jam dinding terdengar pelan.

Tik. Tik. Tik.

Ayah memejamkan mata. Suara Arif semalam kembali terngiang. Kalian sudah meninggal. Ia mencoba mengurutkannya lagi. Sabang. Danau Toba. Telepon wawancara. Rajukannya sendiri. Lalu sore itu di halaman.

Setelah itu, gelap.

"Apa sebenarnya harapanku waktu itu?" bisiknya, hampir hilang ditelan angin.

Tidak ada jawaban.

Arif keluar dari pintu, membawa kotak sepatu itu. Ia duduk di samping Ayah, tidak terlalu dekat. Lama mereka hanya memandang jalan tanah yang kosong.

Lalu Arif berdiri. Matanya berhenti pada pagar depan rumah yang miring, papan bawahnya lapuk dimakan rayap.

"Yah," kata Arif pelan, "pagarnya kita perbaiki, yuk?"

Ayah mendongak. Ia cepat-cepat mengusap matanya, melipat foto itu dan memasukkannya kembali ke dalam kotak.

"Kalau tidak diperbaiki, nanti makin rusak."

Arif mengambil papan sisa di samping rumah. Ayah mengambil palu yang bersandar di dinding. Pagi itu dimulai tanpa pelukan, tanpa kata-kata besar. Hanya palu dan paku.

 

Kayu yang Tidak Boleh Dipaksa

Ini bukan sekadar memperbaiki pagar.

Ayah meletakkan papan baru di atas papan lama yang lapuk. Ia tidak langsung memaku.

"Ukur dulu," katanya. "Jangan asal potong."

Arif mengukur, memotong. Hasilnya masih miring, kepanjangan beberapa senti.

Ayah mengambil gergaji kecil, memotong ulang dengan pelan. "Pegangin ujungnya."

Arif memegang. Serbuk kayu jatuh ke tanah.

Giliran memaku, paku Arif bengkok.

"Jangan langsung keras," kata Ayah. "Ketuk pelan dulu buat nentuin posisi. Baru keras. Kalau terlalu keras dari awal, kayunya pecah."

Arif mencoba lagi. Tok pelan, lalu tok yang lebih mantap. Paku masuk lurus.

Mereka bekerja berdua. Kadang diam, kadang hanya suara palu. Pagar yang miring itu perlahan mulai tegak kembali.

 

Lihat selengkapnya