Kebun yang Kehilangan Suaranya
Pagi itu kebun terasa berbeda.
Tidak ada Kakek. Tidak ada suara sandal jepitnya yang biasanya menyeret tanah becek di pagi hari. Tidak ada suara batuk keringnya dari sudut kebun, tidak ada topi capingnya yang biasanya tergantung di ujung bambu dekat bedengan.
Hanya ada angin. Dan daun-daun tomat yang bergerak pelan, saling bersentuhan.
Arif berdiri di tengah-tengah itu. Ia memetik satu yang paling merah, yang paling besar. Ia mengangkatnya ke depan matahari, memandangnya lama di telapak tangan seperti memandang sesuatu yang berharga.
Dari belakang, suara ember seng beradu dengan tanah.
Ayah datang, membawa ember kecil dan pisau dapur yang sudah tumpul.
"Jangan yang itu," kata Ayah.
Arif menoleh. "Kenapa? Ini yang paling merah."
Ayah mendekat, menunjuk tangkai di atasnya. "Lihat batangnya. Masih hijau, masih muda. Kalau yang ini kamu paksa petik sekarang, nutrisi pohonnya berhenti di sini. Besok yang lain nggak jadi merah."
Arif mengernyit, tidak mengerti.
Ayah lalu memetik tomat lain di sebelahnya. Warnanya sama merah, tapi tangkainya sudah agak kering, kecoklatan, dan sedikit keriput.
"Yang ini," kata Ayah, menyerahkannya pada Arif. " Yang ini sudah waktunya dipetik."
Arif menerima tomat itu. Dingin, berat, ada tanah yang masih menempel. Matanya lalu tanpa sengaja tertuju pada kursi kayu yang kosong di bawah pohon jambu, di pinggir kebun. Kursi rendah, kakinya sudah dimakan rayap sedikit, tempat Kakek biasanya duduk sambil mengupas ranting kering dan mengawasi mereka.
"Biasanya Kakek di sini jam segini," kata Arif pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Ayah ikut melihat ke kursi itu. Lama. Pandangannya kosong tapi dalam.
"Iya," jawab Ayah akhirnya. "Jam segini biasanya dia sudah di sini. Ngomel karena embunnya belum hilang kita sudah injak-injak bedengan."
Tidak ada yang tertawa. Kalimat itu menggantung, dan kursi itu tetap kosong.
Ayah yang Juga Pernah Ingin Pergi
Arif akhirnya duduk di tanah, di sela-sela bedengan, tidak peduli celananya kotor. Ayah ikut duduk di sampingnya, dengan jarak satu lengan. Keduanya menghadap ke arah yang sama: kebun, kursi kosong, dan rumah di kejauhan.
Arif memutar tomat di tangannya terus-menerus.
"Kakek dulu suka ngomong soal tomat terus, ya? Kenapa sih? Kan cuma tomat. Kenapa nggak jagung atau yang lebih mahal?" tanya Arif.
Ayah tersenyum kecil, senyum yang pertama pagi itu. Senyum yang mengingat.
"Karena tomat itu jujur," kata Ayah.
"Jujur gimana?"
"Kamu kasih air, dia tumbuh. Kamu cuekin seminggu, dia liar. Nggak bisa bohong."
Ayah menatap kebun yang terbentang di depannya. Bukan kebun yang luas, tapi cukup untuk membuat mereka tidak perlu beli sayur ke pasar selama bertahun-tahun.
"Karena dulu Ayah juga pernah seperti kamu, Rif."
Arif menoleh cepat. "Seperti apa?"
"Pernah pengen pergi jauh. Kabur."
Kata kabur itu keluar begitu saja.
"Waktu muda, jauh sebelum kamu lahir, Ayah juga berpikir kalau pergi jauh, hidup mungkin lebih baik. Di sini cuma tomat, cuma tanah. Di luar sana ada uang, ada bangunan tinggi. Bisa dapat uang lebih banyak. Bisa punya rumah yang lebih besar dari ini, yang lantainya bukan semen."
Ayah menghela napas. Udara pagi masuk ke paru-parunya.