Langkah yang Tiba-Tiba Berat
Sore itu kebun sudah mereka tinggalkan.
Jalan tanah menuju rumah masih lembap setelah hujan semalam. Arif berjalan di samping Ayah. Di tangannya, ember seng setengah penuh tomat merah yang baru dipetik. Beberapa masih ada tanahnya.
Mereka berjalan berdampingan. Tidak banyak bicara. Tidak perlu.
Tiba-tiba, langkah Ayah melambat.
Arif yang menyadari duluan, "Yah?"
Ayah tidak menjawab. Tangannya naik, memegang pelipis kiri. Wajahnya menegang, menahan sesuatu yang datang tiba-tiba, tajam.
"Yah, kenapa?" Arif berhenti.
Ayah mencoba melangkah lagi, satu langkah. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Lututnya melipat.
BRUK.
Ayah jatuh miring ke tanah. Ember di tangannya terlepas, tomat-tomat berhamburan, menggelinding ke selokan kecil, ke rumput.
"AYAH!"
Arif langsung berlutut, panik, menopang kepala Ayah dengan pahanya. Wajah Ayah pucat, matanya setengah terpejam, napasnya berat.
"Yah! Yah, bangun! Jangan tidur di sini!"
Dari kejauhan, dari arah warung, Mang Karjo yang sedang membawa kayu bakar melihat mereka. Ia langsung berlari.
"Bang! Arif! Astagfirullah!"
Mang Karjo berlutut di sisi lain, memeriksa nadi Ayah, menepuk pipinya pelan.
"Bang, bangun Bang!"
Ayah tetap tidak bergerak. Tangan Arif gemetar menggenggam tangan Ayah yang dingin.
"Ayah nggak sadar, Mang!"
Langit sore di atas mereka masih jingga, tapi bagi Arif, semuanya tiba-tiba menjadi gelap.
Foto yang Hidup di Dalam Gelap
Dalam kesadaran Ayah, gelap.
Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara Arif yang memanggil. Tidak ada rasa sakit.
Hanya gelap yang pekat dan tenang.
Perlahan, di tengah gelap itu, muncul sebuah titik cahaya kecil. Titik itu membesar. Menjadi sebuah foto.
Foto keluarga yang tadi pagi ia genggam. Foto yang pinggirannya menguning.
Ayah menatapnya.
Di sana ada Kakek dengan topi capingnya. Ibu dengan celemek tepung. Maya dengan kamera digital kecilnya. Arif dengan kemeja yang kebesaran. Dan dirinya sendiri, berdiri agak kaku di paling pinggir.
Foto itu diam. Lalu perlahan... bernafas.
Warna kusamnya menjadi hidup. Kuningnya menjadi cahaya sore yang hangat. Suara tawa mulai terdengar, pelan, lalu semakin jelas. Aroma kue dari oven Ibu.
Rumah yang sama, tapi jauh lebih ramai.
Sore yang Baru Ia Lihat Kembali
Ayah melihat kembali hari itu. Beberapa hari sebelum kapal itu berangkat. Hari yang selama ini hilang dari kepalanya.
Arif muda sedang di ruang tengah, memasukkan baju ke dalam tas ransel besar untuk berangkat ke Jakarta. Wajahnya tegang, antara semangat dan takut.
Semua mengucapkan harapan dengan lantang.
Ayah melihat dirinya sendiri di hari itu. Berdiri agak jauh, di dekat pintu, bersandar. Tidak ikut merubungi tas Arif.
Kemudian Ayah muda itu mendekat. Pelan. Ia menepuk pundak Arif. Tangannya tinggal di sana, lama. Lebih lama dari tepukan Kakek.
Ayah yang sekarang, yang sedang menonton dari dalam gelap, memperhatikan dirinya sendiri. Seolah baru kali ini ia benar-benar memperhatikan dirinya pada hari itu.
Harapan yang Hanya Ada di Hati
Tiba-tiba, Ayah mendengar suara.
Suara yang sangat ia kenal. Suara yang bukan keluar dari mulut, tapi dari dalam dada.
Suara hatinya sendiri di hari itu.
“Ayah nggak marah kamu pergi, Rif.”
Ayah terdiam.
“Ayah cuma takut kamu jauh... dan lupa pulang.”
Tangannya mengepal.
Ia melihat dirinya di masa lalu membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu.
Tapi tidak ada suara.