My Ghost Family

GAZALI
Chapter #28

BAB 28 — HARI TERAKHIR


Jari yang Bergerak

Sore di jalan tanah itu tiba-tiba menjadi sangat sempit.

Ayah masih terbaring, kepalanya di pangkuan Arif. Mang Karjo berlutut di samping mereka, napasnya memburu setelah berlari, tangannya menepuk-nepuk pipi Ayah pelan.

"Bang! Bangun Bang!"

Arif menggenggam tangan Ayah erat, dingin.

Beberapa detik yang terasa seperti jam. Angin berhenti.

Lalu... jari Ayah bergerak. Sedikit. Hanya ujungnya menyentuh telapak tangan Arif.

Arif langsung menyadarinya. Matanya membelalak.

"Yah?"

Kelopak mata Ayah perlahan terbuka, berat. Ia menarik napas panjang, serak. Pandangannya buram, lalu fokus, pertama pada wajah Arif yang basah air mata, kemudian pada Mang Karjo.

Mang Karjo menghela napas lega, "Ya Allah... Bang... sudah sadar?"

Ayah mengangguk pelan, sangat pelan.

Mang Karjo segera berdiri, mengulurkan kedua tangannya, hendak mengangkat tubuh Ayah. "Ayo Bang, kita masuk dulu ke rumah. Pelan-pelan."

Ia hendak membantu Ayah bangun.

2. Jangan, Aku Mau di Sini Dulu

Mang Karjo sudah mengulurkan tangan.

Ayah melihat tangan itu. Kemudian matanya bergeser, melewati tangan itu. Melihat kebun di belakangnya. Tomat-tomat yang tadi berhamburan di tanah. Tanah yang becek. Pagar yang baru mereka perbaiki kemarin. Pohon jambu. Rumah.

Ia menggeleng, pelan tapi jelas.

"Jangan," kata Ayah, suaranya serak.

Mang Karjo berhenti, bingung. "Kenapa, Bang? Ayah baru saja pingsan. Nggak bagus di tanah."

Ayah perlahan berusaha duduk sendiri. Arif membantunya bersandar ke gundukan tanah.

"Tidak apa-apa," kata Ayah sambil tersenyum kecil, senyum yang anehnya terlihat damai. Ia kembali memandang kebun, dalam-dalam, seperti orang yang ingin merekam sesuatu.

"Aku ingin melihat kebun ini," katanya. "Untuk terakhir kalinya."

Arif yang sedang membersihkan tanah dari tangan Ayah terdiam. Tangan Arif berhenti.

Mang Karjo menatap Ayah. Kalimat itu terasa aneh, terlalu final untuk sekadar pingsan karena kecapekan.


Bukan Kebunnya

Ayah akhirnya duduk di bawah pohon jambu, di dekat kursi Kakek. Arif duduk di sampingnya, masih menggenggam tangannya, tidak berani lepas. Mang Karjo berdiri beberapa langkah dari mereka, memberi ruang, tapi tidak pergi.

Angin sore bergerak pelan. Daun tomat bergoyang, buah-buah merah berayun pelan.

Ayah memandang tanaman-tanaman itu satu per satu. Tangannya yang keriput menyentuh tanah, meremasnya, merasakan dinginnya.

"Dulu..." ia memulai, lalu berhenti. Suaranya hilang.

"Aku tidak pernah menyangka akan duduk di sini lagi," lanjutnya.

Arif melihat Ayah. "Ayah suka kebun ini, Yah?"

Ayah tersenyum, menggeleng.

"Bukan kebunnya," kata Ayah. Ia menoleh, melihat Arif lama. "Orang-orang yang pernah ada di sini."

Arif terdiam. Ia mengerti. Di kebun ini bukan cuma ada tomat. Ada Kakek yang mengomel, ada Ibu yang memanggil mereka makan, ada Maya yang berlari bawa kamera. Kebun ini adalah ruang tamu mereka yang kedua.


Menyebut Nama Satu Per Satu

Ayah mengalihkan pandangan ke arah rumah yang pucat itu.

"Kakekmu pasti senang lihat tomatnya merah begini," katanya pelan, seperti sedang berbicara kepada Kakek yang ada di sana. "Dia pasti bilang, 'Lihat, kan? Bisa tumbuh dari sini.'"

Arif menunduk, menahan sesuatu di tenggorokannya.

Ayah kemudian melihat ke arah jendela dapur.

"Ibumu juga pasti senang. Dapurnya pasti sudah wangi kalau dia lihat panen begini."

Kemudian ia menyebut nama terakhir, dengan senyum yang paling lembut.

"Maya..."

Lihat selengkapnya