My Ghost Family

GAZALI
Chapter #29

BAB 29 — TUHAN BENAR-BENAR MENGABULKANNYA

Mata yang Terpejam

Senja turun di kebun.

Arif dan Mang Karjo masih memejamkan mata, mengikuti permintaan Ayah yang aneh itu. Keduanya duduk kaku, menahan napas, tidak tahu harus menunggu apa.

Di antara mereka, Ayah justru masih membuka mata.

Ia memandang keduanya. Arif di sampingnya, wajahnya masih basah, kelopak matanya bergetar menahan tangis. Mang Karjo menunduk dalam.

Keduanya tidak melihat apa pun. Mereka hanya patuh.

Ayah tersenyum kecil. Senyum yang tidak menyimpan kesedihan.

Untuk beberapa detik, ia menikmati keheningan itu. Keheningan yang bukan kosong, tetapi penuh. Angin bergerak pelan. Daun tomat bergoyang. Bau tanah basah naik dari kebun.

Ia menarik napas panjang. Pelan, dalam.

Seolah untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, dadanya tidak lagi sesak.

"Tenang sekali," bisiknya.


Suara Air yang Tidak Seharusnya Ada

Ayah akhirnya ikut memejamkan mata.

Beberapa detik berlalu.

Lalu...

Suara itu datang.

Bukan suara angin. Bukan jangkrik.

Suara air.

Pelan di kejauhan.

Cipratannya terdengar samar, lalu semakin jelas. Debur ombak menghantam kayu.

Ayah membuka mata.

Kebun tomat di hadapannya perlahan berubah.

Tanah di bawah tubuhnya bergoyang.


Satu Kali Lagi

Gelap.

Air gelap. Langit gelap.

Kapal berguncang keras. Air masuk dari sela-sela papan. Suara orang-orang berteriak, terdengar jauh seperti berasal dari tempat lain.

Ayah melihat keluarganya.

Mereka semua masih di dek yang sama.

Kakek memeluk Maya yang ketakutan. Ibu menggenggam tangan Arif erat-erat. Arif muda, dengan kemeja kebesaran, menatap Ayah dengan mata yang mencari perlindungan.

Ayah memandang mereka satu per satu.

Wajah-wajah yang selama sepuluh tahun hanya hidup di dalam foto.

Kemudian ia kembali mendengar doa yang pernah ia ucapkan hanya di dalam hati, ketika air sudah setinggi lutut.

Ya Tuhan...

Gelombang menghantam kapal lebih keras.

Masih banyak harapan kami yang belum terkabul.

Masih banyak yang belum sempat kami katakan.

Ayah melihat keluarganya, tenggelam setengah.

Izinkan kami berkumpul... satu kali lagi.

Cuma satu kali lagi.

Air naik.

Cahaya putih menelan semuanya.


Kembali ke Kebun Senja

Ayah tersentak.

Ia kembali berada di kebun.

Senja masih sama. Tanah masih sama.

Arif dan Mang Karjo masih memejamkan mata. Mereka tidak melihat apa yang baru saja terjadi. Tidak mendengar suara air itu.

Hanya Ayah yang mendengarnya.

Ia memandang Arif. Kemudian Mang Karjo. Lalu rumah pucat di belakang mereka.

Senyumnya perlahan berubah.

Kini ia mengerti.

Doanya sudah dijawab.

Tuhan tidak mengembalikan kapal itu.

Tuhan mengembalikan waktunya.

Lihat selengkapnya