My Ghost Family

GAZALI
Chapter #30

BAB 30 — YANG AKHIRNYA KUPAHAMI

Setelah Mata Terbuka

Senja masih menggantung di kebun.

Arif membuka matanya perlahan.

Beberapa detik ia tidak bergerak.

Tangannya masih terulur.

Namun tangan yang sejak tadi digenggamnya...

sudah tidak ada.

Arif menoleh.

Tempat Ayah duduk kosong.

"Yah?"

Tidak ada jawaban.

Arif berdiri tergesa.

Matanya menyapu kebun.

Pohon jambu.

Pagar.

Tanaman tomat.

Jalan kecil menuju rumah.

Tidak ada.

"Ayah?"

Mang Karjo membuka mata.

Ia melihat tempat kosong itu.

Wajahnya langsung berubah.

Ia tidak bertanya.

Tidak perlu.

Arif kembali berjongkok.

Tangannya menyentuh rumput yang sedikit rebah.

Masih hangat.

Ia mengusapnya perlahan.

Seolah berharap Ayah akan kembali muncul.

Tetapi tidak.


Yang Tertinggal

Arif duduk di tanah.

Air matanya mulai jatuh.

Namun kali ini ia tidak menangis seperti sebelumnya.

Ia hanya menundukkan kepala.

Lalu tiba-tiba teringat suara Ayah.

"Ternyata..."

Arif mengangkat wajah.

"Tuhan benar-benar mengabulkannya."

Ia mengingat kalimat berikutnya.

"Harapan Bapak..."

Arif terdiam.

Ia masih tidak tahu apa harapan itu.

Ia tidak tahu apa yang Ayah lihat ketika matanya terpejam.

Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi beberapa detik sebelum dirinya membuka mata.

Tetapi ada sesuatu yang mulai ia pahami.

Sesuatu yang selama ini selalu salah ia mengerti.


Ayah Tidak Pernah Membenciku

Arif memandang rumah.

Tiba-tiba semua kejadian selama tujuh hari itu seperti tersusun sendiri di kepalanya.

Cara Ayah memandangnya.

Cara Ayah marah.

Cara Ayah diam.

Cara Ayah mengajarinya memperbaiki pagar.

Cara Ayah membiarkannya bekerja sendiri.

Cara Ayah menunjukkan bagaimana menanam tomat.

Dan cara Ayah selalu memastikan dirinya makan.

Arif menutup mata.

Dulu...

setiap kemarahan Ayah ia anggap sebagai penolakan.

Setiap larangan ia anggap sebagai ketidakpercayaan.

Setiap nasihat ia anggap sebagai usaha untuk menahannya.

Sekarang ia melihat semuanya dari sisi yang berbeda.

"Ayah bukan marah karena aku mau pergi..."

Suaranya bergetar.

Mang Karjo diam mendengarkan.

"Ayah takut aku pergi."

Arif menunduk.

"Takut aku jauh."

Air matanya jatuh.

"Takut sendirian."


Yang Tidak Pernah Bisa Diucapkan Ayah

Arif teringat hari sebelum keberangkatannya ke Jakarta.

Tasnya sudah siap.

Semua orang memberi harapan agar ia pulang.

Kakek ingin memanen tomat bersamanya.

Maya ingin foto keluarga.

Ibu ingin memasakkan makanan kesukaannya.

Hanya Ayah yang diam.

Saat itu Ayah hanya menepuk pundaknya.

Tidak mengatakan apa-apa.

Arif dulu mengira...

Ayah sedang marah.

Sekarang ia mengerti.

Lihat selengkapnya