Jakarta, 2022.
Hujan senantiasa dianggap sebagai pertanda baik. Bahkan ketika ia datang di tengah-tengah sebuah perpisahan yang kekal. Tapi adakah kebaikan dari hari ketika orang kesayangan harus ditanam dalam-dalam lalu ditinggalkan sendirian?
Setelah berhari-hari kering kerontang, semua orang mengira kemarau panjang sudah benar-benar datang. Ternyata ramalan cuaca tetaplah sekadar perkiraan, tidak selalu benar dan tidak mesti diamini. Di dunia ini hanya kematian yang pasti.
Matahari masih bersinar ketika rintik hujan tiba-tiba datang. Bukan untaian air deras, melainkan hanya titik-titik sehalus benang yang mendarat lembut di pipi dan dahi setiap orang. Kemunculannya yang nyaris tak kentara itu ternyata mampu membuat kepala-kepala yang hadir menengadah mencermati awan.
Angin kencang pun ikut memamerkan kekuatan. Pohon-pohon serentak meliuk, merunduk, meloloskan daun-daun yang tidak berpegangan erat.
Kerudung-kerudung berkibar dan topi salah satu kerabat terlepas, menggelinding di antara batu-batu nisan. Beberapa detik setelah itu, gerimis kabur begitu saja bersama embusan angin.
Dan kematian Arini sama dengan hadirnya hujan di musim kemarau, datang tiba-tiba di luar rencana. Irfan merasa seperti berada di dalam mimpi kala demam. Janggal dan canggung. Seolah-olah ia dijatuhkan dari tempat tinggi ke tengah-tengah kekacauan tanpa diberi pilihan.
Kematian adalah cara terkejam untuk memisahkan dua orang yang saling mencintai.
Irfan mengencangkan muka ketika bongkahan-bongkahan tanah mulai dijatuhkan ke dalam liang kubur. Timbunan tanah sudah mendekati permukaan tempatnya berdiri. Sosok istrinya tak terlihat lagi. Dadanya terasa nyeri. Ingin rasanya ia meloncat turun dan menemani istrinya di peristirahatan terakhirnya agar tidak sendirian di dalam sana.
Arini tidak pernah suka sendirian. Ia selalu merajuk jika Irfan mendapat tugas liputan ke luar kota. Meski begitu, Irfan tetap berangkat juga. Dan ketika ia pulang, Arini akan menyambutnya dengan wajah ceria, jam berapa pun itu. Irfan hafal suara langkah kakinya dari balik pintu dan senyumnya yang mengembang begitu pintu dibuka. Lalu pelukan hangat dan ciuman sekilas di pipi.
Air mata Irfan kembali mengambang. Kakinya hampir lemas. Irfan menoleh ke arah ibunya yang terus-menerus mengusap mata dan hidungnya dengan sapu tangan. Sementara ayahnya berdiri begitu dekat dengan lubang makam, mengawasi timbunan tanah yang perlahan-lahan menutupi jasad menantunya.