Awal tahun 2022.
Matahari masih bersinar ketika rintik hujan tiba-tiba datang. Bukan hujan yang deras, melainkan hanya titik-titik air mungil yang mendarat lembut di pipi dan dahi setiap orang. Namun tak urung kehadirannya membuat kepala-kepala yang hadir menengadah mencermati awan.
Angin bertiup sangat kencang. Kerudung berkibar-kibar dan topi salah satu kerabat terlepas dan menggelinding di antara batu-batu nisan. Beberapa detik setelahnya, gerimis menghilang bersama embusan angin.
Irfan mengencangkan muka, mencoba bersikap tegar ketika bongkahan-bongkahan tanah mulai dijatuhkan ke dalam liang kubur. Timbunan tanah sudah mendekati permukaan tempatnya berdiri. Sosok istrinya tak terlihat lagi. Dada Irfan terasa nyeri. Jika tidak ingat pada Olive, ingin rasanya ia meloncat turun dan menemani istrinya di peristirahatan terakhirnya agar tidak sendirian di dalam sana.
Arini tidak pernah suka sendirian. Ia selalu merajuk jika Irfan mendapat tugas liputan ke luar kota. Meski begitu, Irfan tetap berangkat juga. Dan ketika ia pulang, Arini akan menyambutnya dengan wajah ceria, jam berapa pun itu. Irfan hafal suara langkah kakinya dari balik pintu dan senyumnya yang mengembang begitu pintu dibuka. Lalu pelukan hangat dan ciuman sekilas di pipi.
Air mata Irfan kembali mengambang. Kakinya hampir lemas. Irfan menoleh ke arah ibunya yang terus-menerus mengusap mata dan hidungnya dengan sapu tangan. Sementara ayahnya berdiri begitu dekat dengan lubang makam, mengawasi timbunan tanah yang perlahan-lahan menutupi jasad menantunya.
Irfan menatap penggali kubur yang seolah-olah bekerja tanpa beban. Ingin rasanya ia berteriak. Berhenti! Sebentar! Tunggu dulu! Tapi cangkul itu terus bertubi-tubi menghunjam gundukan tanah di tepi liang dan melemparkan bongkahan-bongkahan tanah ke dalam lubang yang seolah tak berujung. Suara cangkul yang beradu dengan tanah membuat Irfan ngilu. Matanya mengerjap. Tidak lama lagi ia akan sampai ke penghujung hari. Akan ada esok yang harus dihadapi.
Ada satu hal yang meski pedih tapi benar adanya: kehidupan tetap berjalan meski seseorang yang dicintai baru saja pergi untuk selamanya. Matanya mengerjap. Irfan segera tahu, hatinya baru saja terluka. Siapa yang akan membangunkanku? Irfan menggigil. Siapa yang akan menyiapkan sarapan? Sudahkah Arini mengajari Olive memasak?
Olive baru naik ke kelas satu SMA. Meski begitu gadis remaja itu tampak lebih tegar daripada Irfan. Ia berdiri tegak, justru neneknya yang terlihat menyandarkan seluruh beban tubuhnya ke Olive. Boni, pacar Olive berdiri di belakang keduanya dengan sikap siaga, sambil berharap tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada pemakaman hari ini.