My House, My Rules!

Sekarmelati
Chapter #2

Bab 2. Hari-Hari tanpa Ibu


Lampu jalan sudah menyala tapi teras rumah mereka gelap gulita. Tidak ada yang ingat untuk menyalakan lampu sebelum mereka berangkat ke permakaman. 

Irfan membeku di depan pintu. Tidak ada yang akan menyambutnya lagi. Dadanya kembali sesak. Susah payah ia menahan air mata. Irfan merogoh saku, tangannya dingin seperti es. 

Olive menunggu dengan tidak sabar di belakangnya. Dilihatnya punggung ayahnya yang terlihat bungkuk dan bahunya turun. Dengan hati-hati ia menepuk punggungnya. "Ayah? Kuncinya ketemu?"

"Oh, iya." Irfan tersentak. Buru-buru ia memasukkan anak kunci. Ruangan di balik pintu itu tak kalah gelap. Irfan menyusuri dinding, mencari-cari tombol lampu. 

Olive mengentak-entakkan sepatunya ke keset sebelum menerobos masuk dan langsung menuju kamar mandi.

Suasana menjadi lebih baik setelah lampu dihidupkan. Irfan berdiri tegak di tengah ruang tamu yang lengang. Kursi-kursi dan meja ada di ruangan lain. Tadi pagi Arini masih terbaring di sini, di atas karpet berselimut kain batik tulis. Dengan gerak lambat ia menutup pintu dan menguncinya. 

Irfan duduk lalu berbaring menatap langit-langit. Rasanya tidak sama lagi, ia membatin. Matanya seketika terasa panas. Ia menutup muka dengan kedua tangan. 

Apa yang sudah ia lewatkan? Wajah Arini kembali terbayang. Arini jarang mengeluh, tapi setelah diingat-ingat kembali ada beberapa momen yang sempat Irfan lihat. Waktu itu Arini sedang duduk di depan laptop sambil memijat-mijat pelipisnya. Kadang ia duduk bersandar dengan mata terpejam dan mengusap wajahnya dengan gerakan berulang-ulang yang (sekarang) terasa janggal. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Satu dua kali Arini pernah bilang kalau kepalanya terasa berdenyut-denyut. Dan bodohnya Irfan hanya menyuruhnya minum obat sakit kepala. Peristiwa itu lalu terlupakan begitu saja. Seharusnya ia bertanya apakah rasa sakit itu sudah hilang, ataukah sakitnya kembali dalam bentuk lain? Bagian tubuh mana yang terasa aneh? Apakah jantungnya ikut berdebar tak beraturan? 

Irfan mengerang. Arini selalu bilang kalau yang ia rasakan itu mungkin berhubungan dengan stres. Pekerjaan yang ia lakukan memang berisiko besar mengalami tekanan. Tapi bukannya berhenti, ia malah terus menulis. Menurutnya, terlalu banyak cerita berdiam di dalam kepalanya. Cerita-cerita itu harus dikeluarkan agar tidak menyiksa pikirannya. Dan Irfan mempercayainya. Sakit kepala itu hanya bagian dari stres pekerjaan, tidak berarti sesuatu yang serius. Dan seperti biasa, Irfan salah. Seharusnya ia bisa melihat itu. Pelan ia menghela napas. Kepalanya mulai pening dan perutnya keroncongan. Ia baru ingat kalau ia belum makan siang tadi.

Olive yang sedari tadi memperhatikan ayahnya akhirnya mendekat. "Ayah?"

Irfan menatap Olive dengan senyum yang dipaksakan. "Liv, kita makan di luar, yuk!"

Buru-buru Olive mengangguk.

Meski tidak saling mengakui, tapi di dalam hati, kedua orang yang sedang berduka itu merasa lega karena bisa sejenak terbebas dari kebekuan. Mereka akan pergi dan kembali dengan kekuatan penuh untuk menghadapi kenyataan. 

Lihat selengkapnya