Lampu jalan sudah menyala ketika Irfan dan Olive kembali ke rumah. Teras gelap gulita. Tidak ada yang ingat untuk menyalakan lampu sebelum mereka berangkat ke permakaman tadi.
Bayangan daun-daun dari pohon peneduh di trotoar yang terkena sinar lampu seperti menari-nari di dinding teras.
Tak ayal Irfan bergidik. Belum genap sehari, tapi suasana rumah sudah terasa kosong dan dingin seperti lama ditinggalkan. Seakan ada elemen penting yang hilang dan otomatis memburamkan segalanya.
Sebenarnya orang tuanya sudah menahannya untuk tidak pulang. Tidak hari ini. Menginap saja dulu barang satu dua hari. Tapi Irfan menolak tawaran itu. Mereka harus pulang. Ia harus pulang.
Dan setelah sekarang ia benar-benar di rumah, lalu apa?
Irfan membeku di depan pintu. Kenyataan menampar pipinya berkali-kali. Tidak ada yang akan menyambutnya lagi. Tidak ada ciuman dan pelukan hangat. Tidak ada Arini di balik pintu. Lalu untuk apa ia pulang?
Dadanya kembali sesak. Susah payah ia menahan air mata. Irfan merogoh saku, tangannya sedingin es.
Olive menunggu dengan tidak sabar. Sudah setengah jam ia menahan pipis di perjalanan. Ia melongok, dilihatnya sang ayah tak kunjung membuka pintu. Punggungnya tampak membungkuk dan bahunya turun. Hati-hati Olive menepuk punggungnya. "Ayah? Kuncinya ketemu?"
"Oh, iya." Irfan tersentak, buru-buru memasukkan anak kunci. Ruangan di balik pintu itu tak kalah gelap. Irfan menyusuri dinding, mencari-cari tombol lampu.
Olive menggesek-gesekkan sepatu ke keset, merontokkan serpihan tanah kuburan yang masih melekat di alas kakinya. Sepatunya ditendang ke rak lalu ia menerobos masuk menuju kamar mandi.
Suasana menjadi lebih baik begitu lampu menyala. Irfan berdiri tegak di tengah ruang tamu yang lengang. Kursi-kursi dan meja ada di ruangan lain, sengaja digeser agar ada cukup ruang untuk para pelayat.
Dengan tangan gemetar, ia menutup pintu dan menguncinya. Ketegangan terasa di setiap sendi tubuhnya. Tadi pagi Arini masih terbaring di sini, berselimut kain batik tulis di atas karpet.
Irfan duduk, meraba permukaan karpet lalu berbaring menatap langit-langit. Rasanya tidak sama lagi, ia membatin. Matanya seketika terasa panas. Ia menutup muka dengan kedua tangan.
Apa yang sudah ia lewatkan?
Wajah istrinya kembali terbayang. Arini jarang mengeluh, tapi setelah diingat-ingat kembali, ada beberapa momen yang sempat Irfan lihat.
Seperti waktu ketika Arini sedang duduk di depan laptop sambil memijat-mijat pelipisnya. Kadang ia duduk bersandar dengan mata terpejam dan mengusap wajahnya dengan gerakan berulang-ulang yang (sekarang) terasa janggal. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Satu dua kali Arini pernah bilang kalau kepalanya terasa berdenyut-denyut. Dan bodohnya Irfan hanya menyuruhnya minum obat sakit kepala. Peristiwa itu lalu terlupakan begitu saja. Seharusnya ia bertanya apakah rasa sakit itu sudah hilang, ataukah sakitnya kembali dalam bentuk lain? Bagian tubuh mana yang terasa aneh? Apakah jantungnya ikut berdebar tak beraturan?
Irfan mengerang.
Arini selalu bilang kalau semua gejala yang ia rasakan itu mungkin berhubungan dengan stres. Pekerjaan yang ia lakukan memang berisiko besar mengalami tekanan. Tapi bukannya berhenti, ia malah terus menulis. Menurutnya, terlalu banyak cerita berdiam di dalam kepalanya. Cerita-cerita itu harus dikeluarkan agar tidak menyiksa pikirannya. Dan Irfan mempercayainya. Sakit kepala itu hanya bagian dari stres pekerjaan, tidak berarti sesuatu yang serius. Dan seperti biasa, Irfan salah. Seharusnya ia bisa melihat itu. Pelan ia menghela napas. Kepalanya mulai pening dan perutnya keroncongan. Ia baru ingat kalau ia belum makan siang tadi.
Suara pintu kamar mandi berderit. Irfan sontak menoleh. Olive melangkah keluar dalam gerak lambat.
Irfan menangkap kilauan di mata Olive. Apa itu air mata? Anak gadisnya itu pasti baru saja menangis tanpa suara karena Irfan tidak mendengar apa-apa. Air keran pasti sudah mengaburkan isakannya. Ia terhenyak, menyadari sesuatu.