My House, My Rules!

Sekarmelati
Chapter #3

Bab 3. Rumah Susun

Satu bulan setelah kepergian Arini


Pagi itu Irfan terbangun dan menatap langit-langit kamar, tidak berani menoleh ke sisi ranjangnya yang dingin. 

Ketika dulu Arini hamil tak lama setelah mereka menikah, Irfan mengajaknya untuk tinggal bersama orang tuanya agar Arini tidak sendirian selama ia bekerja. Suasana rumah Bu Dewi yang asri membuat mereka betah tinggal di sana, bahkan sampai Olive masuk ke Sekolah Dasar. Saat itulah ia dan Arini merasa sudah waktunya untuk menyewa rumah dan mengurus keluarga kecil mereka tanpa harus merepotkan kedua orang tuanya.

Badannya lalu miring menghadap tembok dingin. Rumah ini sebenarnya menyimpan banyak kenangan. Tapi kematian Arini yang tragis merusak semua kenangan indah itu. Irfan merasa harus membuat sebuah keputusan penting agar dirinya tetap waras. Pindah rumah adalah prioritas. Matanya mengerjap. Ia yakin Olive akan mengerti. 

Setelah beberapa menit berbaring dalam gelisah, Irfan akhirnya turun dari tempat tidur. Alunan musik terdengar dari dapur. Olive bersenandung di antara denting sendok, gelas, dan piring yang sedang dicuci. 

Tidak ingin mengganggu Olive, Irfan mengaduk kopi tanpa suara. Pintu ruang tamu dibuka. Matahari pagi begitu cerah, tapi mendung menggantung di dalam hati Irfan. 

Ia menyesap kopinya perlahan. Siaran berita dari ponsel menemaninya merenung.

Sepiring pisang goreng diletakkan di meja. Irfan menoleh. 

"Nasinya belum matang," kata Olive.

Irfan menepuk kursi di sebelahnya. Olive mencomot sepotong pisang lalu duduk. 

"Sudah satu bulan Ibu tidak ada di rumah ini. Ayah sudah mencoba..." Suara Irfan nyaris tak kedengaran. Ia berdeham. "Kita sudah mencoba," ulangnya. 

Olive berhenti mengunyah. Ayahnya kini tampak tertunduk lesu.

"Mungkin sudah waktnya kita pindah," kata Irfan dengan hati-hati. Entah reaksi apa yang ia harapkan dari anaknya, tapi ia sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk. 

Olive menghempaskan punggung ke sofa. Sekarang keduanya melamun. 

Irfan memandangi permukaan cangkirnya. "Bagaimana menurutmu?"

"Tidak apa-apa," jawab Olive cepat. "Mau pindah ke mana?"

Seketika Irfan gelagapan. Pertanyaan itu seakan menonjok ulu hatinya. Ia belum punya tujuan.  

"Sewa unit saja di rumah susun. Yang dekat dengan sekolah," kata Olive lugas. Matanya masih menatap teras. 

"Kenapa harus rusun?"

Olive menggoyang-goyangkan kaki. "Tidak ada alasan khusus sih. Rusun kan ramai. Di sana Ayah tidak akan kesepian."

"Siapa bilang Ayah kesepian? Kan ada kamu."

"Beda dong!" Olive tergelak sampai bahunya berguncang. 

Irfan ikut tertawa. 

Olive berhenti. Wajahnya berubah serius. "Ayah perlu suasana baru," tegasnya.

Semilir angin dari teras menyapa keduanya. Irfan tersenyum kecil. Hatinya seketika terasa sejuk. 


...

Pindah ke rumah susun sungguh sebuah ide yang tidak terduga. Bahkan Irfan sendiri tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Perubahannya terlalu drastis. Bagaimana mungkin mereka bisa pindah dari rumah dengan tiga kamar tidur ke sebuah gedung dengan ruangan-ruangan berukuran kecil yang sesak? Tadinya ia berniat tinggal bersama orang tuanya untuk sementara, tapi Olive sepertinya sudah membuat keputusan untuk mereka berdua. 

Meski awalnya ragu, sepulang kerja Irfan menyempatkan untuk datang ke rumah susun yang dimaksud. Lokasinya ternyata cukup strategis. Jaraknya sekitar 45 menit dari kantornya. Sebuah poin plus yang perlu digarisbawahi. Sekolah Olive pun cukup dekat.

Irfan menggelengkan kepala. Olive jelas sudah lebih dulu melakukan riset tentang tempat ini. Mungkin rusun ini bukanlah ide yang buruk. 

"Mau pindah ke sini, Mas?" Ibu pemilik warung meletakkan segelas kopi susu di atas meja. 

"Rencananya begitu, Bu. Ini saya masih lihat-lihat suasananya," jawab Irfan.

Ibu itu duduk di depan Irfan. "Di sini aman, Mas. Ramai juga. Penghuninya tidak aneh-aneh seperti di apartemen sana," katanya dengan nada meyakinkan.

Irfan manggut-manggut sambil mengunyah gorengan. Pendapat ibu itu bisa jadi benar. Ada beberapa hal yang membuatnya tertarik selain karena lokasinya yang tidak jauh dari kantor. Hanya butuh beberapa menit untuknya berjalan ke halte bus. Rusun ini memiliki tiga bangunan dengan delapan lantai. Lantai dasarnya diisi tempat-tempat usaha seperti warung makan, toko kelontong, penatu, dan berbagai macam usaha kecil lainnya. Sesuai dengan pendapat Olive, lingkungannya cukup ramai. 

"Masnya sudah menikah?"

Irfan nyaris tersedak. Pertanyaan itu datang terlalu mendadak. Ia buru-buru menelan makanannya. "Sekarang tidak, Bu. Istri saya sudah meninggal. Saya berdua saja dengan anak saya."

"Oo..." 

Ponselnya mendadak bergetar. "Maaf, Bu, saya terima telepon dulu," kata Irfan sopan. 

Ibu itu pun beranjak ketika seorang pelanggan warung datang dan menyapa. 

Lihat selengkapnya