My House, My Rules!

Sekarmelati
Chapter #3

Bab 3. Maya

2023, ulang tahun tanpa sosok ibu.


Maya duduk di balik meja kerja sambil memegang ponsel dengan resah. Sebuah keik marmer di dalam dus sudah tersedia di hadapannya. Karyawan terakhirnya baru saja pulang. Permukaan meja dapur mengilap tanpa noda. Semua peralatan sudah dicuci bersih, siap untuk digunakan kembali besok. Peraturan di dapurnya sederhana saja: tidak boleh kotor, tidak boleh berantakan. Dan semua karyawannya sudah hafal betul soal itu. Selarut apa pun, mereka tidak boleh meninggalkan tempat sebelum semua pekerjaan bersih-bersih selesai. 

Hidupnya sudah cukup kacau. Pertengkaran. Perceraian. Dan seorang anak perempuan berumur tujuh tahun yang tidak henti-hentinya bertanya kapan papanya akan kembali ke rumah. 

Maya mendengus. Karena itulah ia tidak ingin sisi lain dari hidupnya ikut berantakan. Toko kue itu adalah kebanggaannya. Ia membangun usaha itu dari nol. Ketika mentalnya hancur karena Erik pergi begitu saja, Maya menggali kembali hobi lamanya dan berusaha keras menjadikannya mesin pencetak uang. Ia tidak bisa mengandalkan mantan suaminya untuk hal yang satu itu. Bahkan ia harus memohon-mohon agar Erik tidak lupa membiayai anak mereka. Setelah beberapa kali Erik mangkir dari kewajibannya, saat itulah Maya sadar kalau ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. 

Rumah peninggalan orang tuanya hanya membutuhkan sedikit sentuhan agar semua rencana di dalam kepalanya dapat terwujud. Sedikit renovasi dan keberanian, dan jadilah sebuah toko kue dengan tiga orang karyawan yang solid. 

Toko sekaligus dapur produksi menempati ruangan terluas di rumah itu. Bagian depannya dijebol dan dipasang pintu untuk memudahkan pelanggan masuk. Jendela-jendela berukuran besar membuat aktivitas di dapur dapat terlihat jelas dari luar. Semua orang bisa menilai kualitas tokonya karena memang tidak ada yang perlu disembunyikan. 

Jika ada sesuatu yang tidak beres, Maya bisa segera mengetahuinya. Ketika anaknya sudah tertidur, dan malam masih panjang, Maya biasa menyeduh teh manis dan berjalan berkeliling rumahnya, mengecek semua pintu, dan mampir ke dapur, memastikan semua sudah beres. 


Sore itu semua pekerjaan selesai lebih cepat. Hanya tersisa satu pesanan lagi. Sebuah kue ulang tahun yang dipesan setahun yang lalu tercatat di dalam bukunya. Waktu itu, sang pemesan datang sendiri ke rumahnya untuk melihat-lihat katalog kue. Perempuan itu membayar tunai kue pilihannya. Sebuah keik marmer sederhana tanpa tambahan apa pun. Maya sudah menawarkan beberapa pilihan hiasan, tapi perempuan itu menolak. Cukup sebuah keik marmer resep jadul sesuai keinginannya. Kue itu untuk anak perempuannya yang akan berulang tahun. 

Maya menyanggupi tanpa berpikiran macam-macam. Tidak sedikit pelanggannya yang memesan kue jauh-jauh hari. Tapi pesanan keik kali ini berbeda. Sampai sekarang belum ada konfirmasi ke mana kue itu harus dikirim. Dan hari ini Maya baru sadar kalau perempuan yang memesan kue itu tidak meninggalkan nomornya. Hanya ada satu nomor dengan nama seseorang tercatat di bukunya, Irfan.  

Maya menekan nomor dan menunggu. Entah kenapa rasa gugup menghinggapi hatinya. Tidak biasanya ia merasa seperti itu. Padahal jauh sebelum ia bercerai dengan suaminya, Maya biasa mengurus usahanya sendiri. Semua pesanan ia yang pegang. Pun menghubungi klien atau toko bahan kue langganannya, semua ia lakukan sendiri. Tapi kenapa hari ini ia bersikap seperti anak magang yang belum berpengalaman?

Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja dengan tidak sabar. Beberapa deringan lewat dan ia mulai menggigiti bibir dengan cemas.


*


Kerumunan orang tampak di depan pintu lift. Irfan mengumpat dalam hati. Ia sedang terburu-buru. Hari ini anak gadisnya berumur 17 tahun. Akan ada makan malam sederhana di rumah orang tuanya untuk merayakan ulang tahun Olive. 

Irfan mengetik setengah pekerjaannya hingga menit-menit terakhir menuju waktu pulang dan berjanji akan menyelesaikan sisanya setelah acara Olive selesai. Kali ini ia tidak akan membiarkan pekerjaan menyita waktunya.

Hari ini begitu istimewa bagi Irfan sekaligus momen yang mendebarkan karena ulang tahun kali ini akan berbeda. Sudah setahun berlalu sejak kepergian Arini, dan mereka berdua baik-baik saja. Irfan tersenyum bangga. Sungguh tidak mudah membesarkan seorang gadis remaja. 

"Anak remaja itu semakin dilarang, semakin berontak," kata Bu Dewi ketika Irfan meminta saran. 

Ketika Arini meninggal, hatinya remuk redam karena melihat anaknya harus membesarkan Olive sendirian. Rasanya ia ingin turun tangan membantu namun suaminya menahannya. Menurut Ilham, Irfan dan Olive sebaiknya punya ruang sendiri karena bagaimanapun juga, Irfan adalah seorang laki-laki sekaligus kepala rumah tangga. Tidak elok rasanya jika mereka ikut campur dalam keputusan-keputusan penting yang akan diambilnya. Meski begitu, bukan berarti mereka sebagai kakek dan nenek Olive lepas tangan begitu saja. Pintu rumah mereka terbuka lebar kapan saja. Dan kebebasan yang mereka berikan ternyata terbukti ampuh untuk mendekatkan mereka dengan Irfan dan Olive. Setiap akhir pekan, Olive menginap di rumah sehingga Pak Ilham dan Ibu Dewi punya banyak waktu bersama cucu mereka. 

Dan setiap kali Irfan datang mengantar Olive, Ibu Dewi akan menggandengnya menjauh sambil berbisik: "Bagaimana? Minggu ini apa ada rencana pergi? Dengan teman kantor mungkin?"

"Aku belum ada pikiran ke sana, Bu," sahut Irfan dengan muka datar. Ide bertemu dengan perempuan lain tidaklah menarik baginya. Irfan menghargai perhatian ibunya, tapi untuk saat ini ia lebih membutuhkan dukungan agar dapat membesarkan Olive dengan baik. 

Ibu Dewi menggeleng gemas. "Mau sampai kapan sendiri?"

Irfan mengangkat bahu. "Lebih baik Ibu kasih aku saran untuk menghadapi Olive. Sekarang dia sudah besar, makin pintar berdebat. Dan sekarang dia selalu pakai lipstik," bisiknya dengan nada cemas.

"Sebaiknya jangan terlalu ketat mengawasinya. Jadikan dia temanmu. Nanti ia akan bercerita banyak soal kegiatannya sehari-hari dan tentang perasaannya."

Irfan menurut. Ia berusaha keras untuk menjadi sosok ayah yang santai. Sampai hari ini, cara itu berhasil. Olive sangat terbuka padanya. Bahkan ia tidak segan menyampaikan pendapatnya kepada Irfan secara blak-blakan. 

Tentu saja ada sisi baik dan buruk dari model pengasuhan anak semacam itu, tapi Irfan menahan diri. Kehilangan seorang ibu sudah sangat berat untuk Olive. Irfan tidak ingin menambah beban di hati anak kesayangannya itu.


Irfan melirik jam tangan di pergelangan tangan kanannya. Tak sabar menunggu pintu lift yang tak kunjung terbuka, ia akhirnya memilih turun lewat tangga darurat. Beberapa lantai dilalui dengan setengah berlari. Napasnya hampir habis ketika ia tiba di luar gedung. 

Sejak tadi sakunya terus-menerus bergetar. Irfan terpaksa menurunkan kecepatan langkahnya. Sebuah nomor tidak dikenal muncul. Alisnya berkerut. Irfan tidak pernah mau mengangkat telepon dari nomor asing, tapi kali ini ia membuat pengecualian.


*

Lihat selengkapnya