Fase remaja seolah sengaja diciptakan untuk menguji kesabaran orang tua. Hampir semua orang bilang kalau membesarkan anak remaja itu tidak mudah. Mereka sering menentang kata-kata orang tua karena merasa dirinya sudah dewasa. Remaja menganggap dirinya paling benar dan lebih tahu dari siapa pun, termasuk orang tuanya.
Jika emosi labil dan hormon yang menggila digabung, maka jadilah Olive. Ya, dia sama saja seperti gambaran orang-orang tentang seorang remaja perempuan pada umumnya. Gaya bicaranya blak-blakan. Kadang terlalu terus-terang. Mungkin karena dia menganggap saya sebagai temannya. Meski kadang mengesalkan, tapi Olive anak yang baik dan perhatian. Ah, masa remaja memang penuh tantangan.
Seandainya bisa, Irfan tidak ingin melalui fase itu. Tapi ketika Arini berpulang, ia tidak punya pilihan lain.
*
Setelah hampir setahun berjalan, kekhawatiran Irfan sejauh ini ternyata tidak terbukti. Hubungannya dengan Olive tidak sesulit yang ia bayangkan sebelumnya. Sering Irfan merasa kagum pada dirinya sendiri. Dengan bantuan kedua orang tuanya, semua berjalan dengan lancar.
Kualitas hidup mereka perlahan membaik. Paling tidak itulah yang Irfan rasakan. Ia berusaha keras menjadi sosok ayah yang baik. Ketika Olive berbagi cerita tentang teman-temannya dan kegiatannya di sekolah, Irfan menjadi pendengar yang sabar.
Namun, meski Olive tampak kuat dan mandiri, ada satu topik yang selalu ia hindari. Ibunya. Irfan mencoba mengerti. Bahkan untuk dirinya sendiri, memikirkan Arini selalu membuatnya membeku sesaat. Kematian seperti luka yang tak pernah sembuh. Tak peduli berapa lama waktu berjalan. Sakitnya akan selalu ada.
*
Pagi yang sibuk. Irfan bangun sebelum subuh, tapi ia selalu mengalah dan membiarkan Olive menggunakan kamar mandi lebih dulu karena ia masuk pagi.
Setelah mandi, Olive akan membuat sarapan. Irfan tidak pernah meminta lebih. Telur dadar, tahu goreng, atau orek tempe. Semua itu bisa Olive buat dalam waktu singkat. Kadang ia masak sayur bening atau menumis buncis dan ayam. Jika keduanya terburu-buru, roti tawar bersalut mentega dengan sedikit taburan gula putih sudah cukup untuk mengganjal perut. Ternyata hidup sesederhana itu.
Bunyi denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Olive mengerjakan tugas sambil menghabiskan sarapan, sementara Irfan serius menonton berita. Suara air dituang ke dalam gelas dan botol minum. Aroma kopi yang semerbak. Berita di gawai Irfan dan lagu tahun 90-an dari TV bersahut-sahutan.
Dapur terasa sesak. Setiap barang seperti berimpitan, dijejalkan begitu saja. Kadang bahu mereka saling membentur ketika berpapasan. Dan Olive akan tertawa lebih dulu. Irfan tertawa kemudian. Hidup tidak pernah seseru sekarang. Seluruh rumah ini memang terasa sesak, tapi Irfan malah menyukainya. Seakan-akan tidak ada sekat antara dirinya dan Olive, membuatnya lebih mudah untuk mengawasi anaknya.
Dengan duduk di sofa saja, Irfan bisa melihat apa saja yang Olive kerjakan, apa yang ia tonton di TV, dan apa yang ia bicarakan dengan Boni di telepon.
Sebelumnya, Irfan tidak pernah sedekat ini dengan Olive. Arini selalu ada di rumah, Irfan tidak. Ketika jadwal liputan ke daerah-daerah datang, Irfan harus berangkat dan meninggalkan rumah selama berhari-hari. Jarak membuatnya jauh dari keluarga.
Tapi waktu itu semua terasa benar. Irfan pergi lama untuk bekerja, bukan untuk bersenang-senang. Ia memastikan semua tagihan terbayar, uang belanja terpenuhi, dan urusan sekolah Olive beres.
Istri dan anaknya selalu di rumah, menunggunya pulang. Lalu mereka akan pergi makan malam bertiga. Minggu pagi akan dihabiskan Irfan untuk tidur panjang. Dan Senin, semua kesibukan itu kembali terulang.
Lalu Arini tiba-tiba pergi untuk selamanya. Kepergiannya membuat Irfan mulai berpikir kalau semua yang telah ia kerjakan adalah kesalahan. Pekerjaan yang dibanggakannya selama ini ternyata sudah menjauhkannya dari keluarga. Kenyataan itu mengguncang Irfan, menjungkirbalikkan dunia yang menurutnya sempurna.
Tapi semua sudah terjadi. Irfan tidak bisa mengulang kembali yang sudah berlalu. Meninggalkan pekerjaannya sekarang malah akan memperburuk keadaan. Sekarang ia hanya harus menyesuaikan kesibukannya di kantor agar tidak bertabrakan dengan kegiatan di rumah.
Olive menumpuk piring kotor di bak cuci.
Jam dinding menunjukkan pukul enam. Boni biasanya sudah menunggu di bawah.
"Jangan dicuci," katanya pada Irfan. "Nanti pulang sekolah, Olive yang beresin. "Aku berangkat dulu ya, Ayah." Olive mencium tangan Irfan.