Irfan memandangi secarik kertas di tangannya. Pagi itu tugas mendadak datang ke mejanya dan dua rekannya, Erwan dan Agnes. Mereka bertiga akan pergi menyeberangi lautan menuju Amerika untuk meliput suasana menjelang Pemilihan Presiden.
Pemilu tahun ini sangat terasa euforianya. Kemenangan seolah sudah di depan mata untuk salah satu Capres. Setelah presiden sebelumnya bercokol selama sepuluh tahun, kini waktunya untuk memilih pimpinan baru yang dapat memperbaiki masa depan Indonesia menjadi lebih baik. Antusiasme masyarakat menjelang Pemilu begitu tinggi. Itulah mengapa peristiwa itu akan menjadi berita yang menarik untuk diikuti.
Tugas ini adalah sebuah lompatan besar dalam karirnya sebagai jurnalis. Irfan berhak mendapatkannya karena ia sudah bekerja dengan baik selama ini. Menurut kantor, tidak ada yang siap berangkat selain dirinya. Irfan memang dikenal jarang menolak liputan ke luar kota, bahkan ke daerah 3T pun pernah ia datangi. Namun tugas kali ini justru membuatnya gundah. Irfan akan pergi selama dua minggu penuh, itu artinya ia harus meninggalkan Olive sendirian, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sejak Arini meninggal.
Irfan memutar otak. Masih ada waktu beberapa hari sebelum berangkat. Ia harus memastikan Olive aman selama jauh darinya.
*
Di dalam ruang tamunya yang megah dan sesak dengan sofa-sofa berlapis kulit berukuran raksasa, Bu Dewi memandangi tas dan koper-kopernya yang sudah dikemas jauh-jauh hari.
"Mama dan Papa kan mau pesiar ke Jepang. Tiket sudah di tangan. Tinggal berangkat. Bagaimana kamu ini," kata Bu Dewi mengingatkan.
Irfan meringis. "Duh, iya. Aku lupa soal itu. Aku harus bagaimana, Mah?" Irfan garuk-garuk kepala.
"Apa tidak bisa ditinggal di rumah sendirian? Olive kan sudah besar."
"Kalau hanya 1-2 hari mungkin tidak apa-apa, Mah, tapi aku kan pergi dua minggu." Irfan mengecilkan suaranya. "Lagi pula aku tidak percaya dengan tetangga-tetangga di sini."
"Kamu itu, kan Mama sudah bilang, cari rumah yang di komplek perumahan. Lingkungannya lebih aman."
"Di sini juga aman, Ma."
"Mana buktinya?"
Irfan menghela napas. "Iya, iya, nanti aku kerja keras sampai tipes supaya bisa beli rumah."
"Atau kamu bisa pulang ke sini," kata Bu Dewi sambil tertawa, lalu terdiam ketika sadar anaknya tidak ikut tertawa. "Tarik napas dulu," lanjutnya. "Pasti ada jalan keluarnya. Kalau mentok, coba saja cari pembantu. Tidak permanen, hanya untuk sebulan misalnya. Yang penting Olive ada yang menemani."
"Cari orang kan tidak gampang, Mah. Waktunya juga sudah mepet."
Bu Dewi menghela napas. Meski ingin, tapi ia tidak mungkin membatalkan perjalanannya. Perjalanan pesiar ini sudah ia tunggu-tunggu. Jika suaminya mendengar kalau Irfan akan pergi ke luar negeri di waktu yang sama dengan mereka, bisa-bisa mereka batal berangkat. Ia tahu benar bagaimana Ilham sangat menyayangi cucunya, apalagi setelah menantunya berpulang.
Kali ini Irfan harus mencari jalan keluarnya sendiri. Bu Dewi menguatkan hati. Ia percaya Irfan akan menemukan solusi terbaik. Meski begitu, ia perlu memastikan anaknya akan baik-baik saja.
"Bagaimana, Fan?" tanya Bu Dewi. "Apa Mama tunda saja pesiarnya?"
"Jangan, Mah. Olive tanggung jawabku. Nanti aku cari cara." Irfan menutup pembicaraan. Selama satu menit penuh ia mendekap ponsel di dada, lalu berbicara pada dirinya sendiri. "Maya."
Meski tahu kalau Maya adalah harapan satu-satunya saat ini, tapi ternyata tetap ada keraguan di hati Irfan. Satu jam telah lewat dan ia belum juga menghubungi Maya. Ia malah berusaha memusatkan pikiran ke layar laptop di depannya, mencoba menyelesaikan beberapa tulisan sebelum waktunya makan siang. Ponselnya tergeletak di atas meja. Kepalanya terasa penuh.
Meninggalkan Olive di rumah Maya akan jadi pilihan yang sempurna seandainya saja Olive tidak antipati dengan kehadiran Maya. Sekarang barulah Irfan menyesal karena tidak mencoba lebih keras lagi untuk mendekatkan keduanya. Seharusnya sesekali ia mengajak Olive ketika ia bertemu Maya. Maya selalu membawa Zia. Yah, tidak selalu, kadang Zia terlalu malas untuk pergi dan memilih tinggal di rumah dan membaca buku. Tapi perlahan-lahan Zia jadi dekat dengannya. Sesuatu yang tidak terjadi pada Olive dan Maya. Setiap kali Irfan menyebut nama Maya, Olive langsung merengut dan menutup mulut rapat-rapat. Reaksi Olive itulah yang membuatnya enggan mengajaknya. Irfan menggerutu. Seharusnya ia bisa memaksa Olive, tapi sudah terlambat sekarang.
"Mendung amat, lagi mikirin apa, Bang?" Agnes mengintip dari meja sebelah. Bulu matanya yang lentik mengerjap. Agnes sering disebut sebagai calon news anchor bermasa depan cerah, suaranya empuk dan wajah imutnya enak dilihat. Kamera menyukainya. Tapi seperti seorang pemula pada umumnya, Agnes harus mau bersusah-susah dulu, turun ke jalan untuk melakukan liputan.
Irfan sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di kantor, mengumpulkan data dan menulis berita untuk kemudian dibacakan Agnes. Hanya sesekali ia setor muka di depan kamera. Tapi setiap ada liputan ke daerah, Irfan harus berangkat. Hampir tidak pernah ada kata 'tidak bisa'. Ia selalu siap ke mana saja. Berhari-hari pun tidak masalah. Biasanya mereka bekerja dalam satu tim, meski tidak resmi tapi mereka selalu ditugaskan bersama: Irfan, Agnes, dan kamerawan sekaligus sahabatnya, Erwan.
Tujuan mereka kali ini adalah Amerika, sesuatu yang tidak mungkin Irfan tolak. Liputan ke luar negeri adalah kesempatan emas yang belum tentu datang lagi.
Irfan masih menopang dagu, mengabaikan Agnes yang terus mencerocos. Tangan kanannya menggerak-gerakkan tetikus sembarangan.
Erwan tiba-tiba muncul di antara mereka. "Sudah pada packing belum?"
"Sudah doong," seru Agnes, meloncat dari kursinya. "I'm so excited! Kita mau ke Amrik loh, guys!"
"Jiaah Amrik, jebakan umur nih," sahut Erwan.
Agnes tergelak. "Duh, maaf ya, Bang kalau tersindir."
"Jadi, menurutmu, saya sudah tua?"
"Lah, bukannya memang iya, Bang?" sahut Agnes sambil tergelak.