My House, My Rules!

Sekarmelati
Chapter #7

Bab 7. Boni dan Olive

Banyak hal yang bisa terjadi dalam dua minggu. Bahkan untuk seorang remaja, ada banyak hal yang bisa terjadi dalam waktu beberapa menit saja. Sesuatu yang semua orang tua tidak suka tentunya. Bayangkan jika sepasang remaja ditinggal tanpa ada yang mengawasi. Irfan tidak ingin berprasangka buruk kepada anaknya sendiri, tapi ia juga tidak ingin kecolongan. 

Meninggalkan Olive sendirian bukanlah pilihan yang bijaksana. Irfan khawatir jika terjadi sesuatu yang akan ia sesali nanti. Ia tahu Arini akan melakukan hal yang sama dengannya. Arini akan berdiam di rumah menunggui Olive, memastikan tidak ada hal-hal aneh yang terjadi.

Selama ini, pergi bekerja selama berhari-hari tidak pernah menjadi masalah. Ada Arini yang akan menjaga Olive. Arini memilih untuk tidak bekerja. Ia selalu terlihat sibuk di depan laptop, menuliskan cerita-cerita yang menurutnya, berdiam di dalam kepalanya. Beberapa kali Arini bilang kalau ia sedang mengikuti lomba menulis. Ia tampak sangat bersemangat. Di sela-sela kesibukannya mengurus rumah, ia selalu bisa menyempatkan diri untuk duduk untuk menulis. Dua kali ia memenangkan lomba menulis cerpen. Irfan ingat betul wajah istrinya yang berseri-seri ketika mengabarkan keberhasilannya itu. Irfan juga ingat, bagaimana mendungnya wajah Arini ketika di lomba-lomba lain ia belum beruntung. Jika itu terjadi, Irfan akan mengajaknya makan di luar, berdua saja, atau bertiga dengan Olive. Setelahnya, mendung di wajah istrinya itu perlahan-lahan akan terurai. Dan ia kembali menjadi Arini, istri yang rajin dan ibu yang penyayang. Ia bahkan menyayangi Boni seperti anaknya sendiri.  

Tidak sekali dua kali Arini mengatakan hal itu. Dan setiap kali Irfan meragu, Arini meyakinkannya. Boni anak baik dan dia akan menjaga Olive, katanya waktu itu. Lalu Irfan percaya. 

Boni bukan orang asing di keluarga mereka. Olive dekat dengannya sejak mereka masuk SMP yang sama. Kebetulan mereka juga satu kelas. Arini jadi kenal ibunya, meski tidak dekat. Semua orang akan bilang kalau hubungan itu hanya cinta monyet. Hari ini naksir A, lusa jatuh cinta pada B. Tidak ada yang serius. Hal biasa yang terjadi pada anak-anak di usia remaja. 

Awalnya Irfan juga mengira kalau itulah yang terjadi pada anaknya, tapi ternyata ia keliru. Sampai sekarang mereka masih bersama. Arini tidak pernah melarang. Bahkan ia menganggap hubungan Olive dan Boni sangat menggemaskan. Irfan ingat ketika Arini menceritakan betapa lucunya kedua anak itu. Lucu memang, kali pertama Boni datang ke rumah, ia datang dengan alasan belajar bersama. Boni berdiri di depan pagar rumah sambil memanggil-manggil Olive, masih dengan seragam sekolah putih birunya. Dan Olive menyambut dengan rona di pipinya. 

Karakter Boni yang ceria rupanya berhasil memikat hati Olive. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam mengobrol di teras. Tawa keduanya sering terdengar dari dalam. Kadang Irfan bertanya pada dirinya sendiri: haruskah ia khawatir dengan pertemanan Boni dan Olive?

Arini yang menyuruhnya bersabar. Kita awasi saja dari jarak yang aman, begitu katanya ketika Irfan mengutarakan kekhawatirannya. 

Seperti anak remaja pada umumnya, hubungan Boni dan Olive dibumbui dengan canda, obrolan garing, dan pertengkaran-pertengkaran kecil yang tidak penting. Ketika mereka berdua berbeda pendapat, Olive akan uring-uringan sepanjang hari, menolak untuk menemui Boni atau membalas teleponnya. Ia lebih memilih untuk mengunci pintu kamar dan menangis tersedu-sedu sampai matanya bengkak. 

Irfan membiarkan Arini yang maju untuk mengatasi masalah anak mereka. Ia sendiri merasa clueless

Arini dengan sabar mengetuk pintu dan menyuruh Olive mencuci muka dan makan. Di meja makan itulah biasanya Arini menasihati Olive agar tidak berlarut-larut dengan emosinya. Masih banyak hal lain yang bisa dikerjakan selain menangisi pacar. Lebih baik habiskan energimu dengan belajar. Meski merengut, namun Olive selalu menuruti kata-kata ibunya. 

Sampai kemudian Boni dan Olive masuk ke SMA yang sama. Boni bukan lagi anak SMP yang polos. Penampilannya sudah makin dewasa. Kumis tipis menghiasi wajahnya yang tampan. Alisnya yang tebal dan senyumnya yang selalu mengembang membuatnya menjadi salah satu sosok idola di sekolah. Badannya semakin menjulang karena ia bergabung dengan klub basket. Olive tampak imut jika mereka berdiri bersebelahan. 

Lama-kelamaan, Boni menjadi bagian dari keluarga. Ia selalu ada. Ketika Irfan pergi ke daerah-daerah, Boni dengan senang hati mengambil alih tugas Irfan menjemput dan mengantar Olive ke sekolah. Dan ketika Arini tersungkur di teras, Boni yang pertama lari menolong. 

Boni memang anak baik, tapi tetap saja, Irfan tidak mungkin meninggalkan Olive di rumah sendirian. Harus ada orang dewasa yang mengawasinya. Harus ada yang bertanggung jawab selama ia pergi. Maya sudah bersedia, tapi sesuai perkiraan Irfan, Olive menolak mentah-mentah permintaannya.

"Tidak mau ah! Kenapa harus di rumah Tante Maya sih, Ayah?" kata Olive gusar. Ia bersandar di pintu kamar dengan tangan menyilang di depan dada. Matanya menyorotkan tatapan tak percaya, bagaimana mungkin ayahnya malah menitipkannya pada seseorang yang jelas-jelas tidak ia sukai. Maya terasa asing. Bagaimana ia harus bersikap? 

"Ayah tidak punya pilihan lain, Liv. Eyang dan Nini kan mau pesiar," jelas Irfan. 

Lihat selengkapnya