My House, My Rules!

Sekarmelati
Chapter #8

Bab 8. Bertahan


Irfan dan Olive berdiri di depan pagar kayu bercat coklat yang terbuka. Keduanya saling melempar pandang lalu berpaling bersamaan menatap rumah di hadapan mereka. Rumah Maya tampak asri, seperti rumah-rumah cantik yang ada di majalah. Tanaman semaknya bertabur bunga yang mekar sempurna. Ayunan di bawah teduh pohon dan rumput yang menghijau dengan batu-batu kerikil yang tertata rapi. 

Rumah semacam ini pernah menjadi tempat tinggal mereka. Meski rumah kontrakan mereka tidak memiliki ayunan, tapi suasananya terasa sama. Ada sentuhan seorang wanita di dalamnya. Ketika Arini masih ada, ia sering turun tangan merawat tanaman di halaman mereka yang tidak seberapa itu. 

Memasuki halaman rumah itu seperti deja vu. Ingatan tentang Ibu terasa menusuk hati. Matanya terasa panas. Susah payah ia menahan diri untuk tidak menangis. Sebelum air matanya menggenang, buru-buru Olive menegaskan bibir. Mereka sudah di sini, tidak ada lagi kata mundur. Tunggu, sebenarnya bisa saja dia berbalik dan lari pulang, tapi ayahnya tidak akan suka itu. 

Olive menyeret kakinya menyusuri jalan masuk berbatu. Matanya terus mengamati rumah itu. Jika dibandingkan dengan rumah susun yang sekarang mereka tempati, tentu bagaikan langit dan bumi. Bagaimana mungkin membandingkan rusun sederhana yang berisik dengan rumah apik dan nyaman seperti ini? Suasana perumahannya begitu tenang. Satu hal yang kemudian Olive tahu belakangan, Maya seorang perfeksionis. Semua yang ada di rumahnya tertata rapi, teratur sesuai dengan keinginannya. 

"Yuk, masuk." Irfan menggandeng tangan Olive. 

Olive mengikuti ayahnya dengan enggan. Sudah jelas ini bukan pertama kalinya ayahnya datang ke rumah ini. Langkahnya terlihat begitu percaya diri. Rumah Tante Maya bahkan mungkin sudah menjadi rumah keduanya. 

Olive pernah bertemu Maya sebelum ini. Hanya sekali. Waktu itu ayahnya yang diam-diam mengatur pertemuan itu. Olive mengira mereka akan pergi makan berdua seperti yang biasa mereka lakukan di akhir pekan sebelum dia diantar ke rumah Eyang untuk menginap. Tapi ternyata ada kejutan yang menunggunya hari itu. 

Seorang wanita yang belum pernah dilihatnya menyambut kedatangan mereka dengan senyum gugup. Olive mengernyit. Lipstiknya merah, terlalu berani. 

Perkenalan itu tidak berjalan lancar. Maya tampak terlalu berusaha mendekatkan diri, sementara Olive terus-menerus memasang wajah cemberut. Di tengah suasana canggung itu, ayahnya kelihatan putus asa. 

Sosok wanita yang sama muncul di teras, kali ini senyumnya lebar. Tidak terlihat lagi kegugupan seperti sebelumnya. Olive melirik ayahnya. Senyum yang sama menghiasi wajahnya. 

"Macet, Mas?" tanya Maya menggamit lengan Irfan. 

"Seperti biasa," sahut Irfan, masih dengan senyum. 

Olive melengos, mengalihkan mata ke arah jendela besar di bagian depan rumah. Ia memperhatikan orang-orang di balik kaca yang tampak sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Samar-samar Olive bisa membaui aroma kue yang lezat. Perutnya berbunyi tanpa bisa ditahan. 

Sepulang sekolah tadi, ia mengepak pakaian dan buku-buku pelajarannya sambil menutup mulut rapat-rapat. Ia hanya makan sedikit karena terlalu tegang. Meski tidak setuju dengan keputusan sepihak itu, tapi Olive sadar kalau tugas liputan itu sangat penting untuk ayahnya sehingga ia tidak punya pilihan selain menurut. 

"Berapa lama kamu pergi?" bisik Maya.

Irfan menepuk-nepuk lengannya. "Paling lama dua minggu," jawabnya.

"Bagaimana kalau dia tidak menyukaiku?" tanya Maya cemas. 

"Olive hanya perlu lebih mengenalmu. Nanti dia akan tahu kenapa aku memilihmu."

"Olive besok sekolah?"

"Urusan antar jemput sekolah, itu bagian Boni."

"Siapa Boni?"

Irfan berbisik. "Pacarnya Olive."

"Duh, Mas. Bagaimana sih? Masa mereka dilepas berduaan begitu saja?" mendadak insting keibuan Maya muncul. "Aku bisa kok mengantar Olive," katanya, meski nada suaranya terdengar kurang meyakinkan. 

"Tidak apa-apa. Biasanya juga begitu."

"Kamu yakin?"

"Aku percayakan Olive di tanganmu." Irfan meletakkan tangan di pundak Maya sambil tersenyum. 

Maya merengut. "Tanggung jawab besar ini," sahutnya. "Janji kamu akan cepat pulang, ya?"

"Pasti," sahut Irfan. 

Lihat selengkapnya