My House, My Rules!

Sekarmelati
Chapter #9

Bab 9. Bisa karena Biasa


Sejak Ibu meninggal, Olive belum pernah memimpikannya. Ia sudah mencoba berbagai cara untuk mengundang kehadiran ibunya ke dalam mimpi, termasuk mengucapkan doa dan keinginannya berulang-ulang sebelum pergi tidur. Tapi kegigihannya hingga kini belum membawa hasil. Maka kerinduannya pada sang ibu terpaksa ditelannya begitu saja. 

Meski Olive bisa mengingat ibunya dengan memandangi fotonya kapan saja, tapi ada satu hal yang membuatnya takut: ia hampir lupa bagaimana rasanya ketika tangan Ibu membelainya lembut.

Kehangatan Ibu seperti segelas teh melati di tengah deras hujan. Ibu minum teh setiap hari, tak pernah terlewat. Ia juga sesekali minum kopi, tapi hanya ketika Ayah mengajaknya. Teh selalu menjadi kesukaannya. Kadang sepotong keik marmer di atas piring kecil menemani acara minum tehnya. 

Aroma wangi daun teh yang baru diseduh tak pernah gagal membuat Olive terbangun tanpa disuruh. 


Cuping hidung Olive mengendus. Ada aroma teh yang terhidu pagi ini. Dengan mata setengah terbuka, Olive merasa seolah sedang melihat ibunya menyelinap masuk ke kamar dan duduk di dekatnya. Mata Olive memejam. Ia bisa merasakan tangan ibunya membelai dan mengurai rambutnya yang kusut sampai akhirnya Olive benar-benar membuka mata.

Ia bangun dengan perasaan aneh. Ibunya tidak ada di kamar ini, tentu saja. Juga tidak ada rasa pegal di punggung seperti yang biasa Olive rasakan setiap bangun dari sofa. Olive bergelung lalu berbaring menatap langit-langit. 

Ketukan terdengar. Olive duduk dan menggelung rambutnya.

Maya mengintip dari celah pintu. "Sarapan sudah siap, Liv," katanya dengan senyuman. 

Olive mengangguk canggung. "Terima kasih, Tante. Aku mau mandi dulu."

"Oke, saya tunggu di ruang makan, ya," kata Maya menutup pintu.

Layar ponselnya berkedip. Olive membalas pesan dari Boni lalu melempar kembali ponselnya ke atas kasur. Karena di sini ia punya kamar mandi sendiri, Olive bisa membersihkan diri tanpa terburu-buru. Tidak perlu ada keributan di pagi hari ketika ia dan ayahnya berebut giliran mandi. Masih banyak waktu. Olive bersenandung riang. 


Ketika Olive akhirnya duduk di sebelah Zia, sepiring nasi goreng sosis sudah menunggunya. Zia tampak asyik mengunyah sambil membaca buku. 

Maya muncul dari dapur, kedatangannya diiringi dengan aroma teh panas yang seketika membuat Olive berhenti menyuap. Ia menelan nasinya dengan susah payah. 

"Kak Olive berangkat bareng kita, Ma?" tanya Zia dengan mulut penuh.

"Tidak. Katanya dijemput temannya," sahut Maya sambil menghirup tehnya.

"Eh, iya." Olive spontan melihat jam di tangannya. "Sebentar lagi Boni datang."

"Habiskan dulu sarapanmu." Maya meletakkan gelasnya. "Biasanya kamu bawa bekal?"

"Enggak, Tante. Jajan aja di sekolah. Ayah sudah bawakan uangnya kok."

"Kalau mau, besok saya bikinkan bekal. Olive sukanya makan apa?"

"Enggak usah, Tante. Aku beli aja." Olive buru-buru menolak karena merasa tidak enak. 

"Tidak apa-apa, kan sekalian bikin untuk Zia," sahut Maya, belum menyerah.

Zia mengangguk-angguk setuju. Kedua jempolnya diangkat.

Olive tidak menjawab lagi. Ia cepat-cepat menyelesaikan makannya dan membawa piringnya ke dapur.

Maya menyusulnya. "Taruh aja di bak, nanti saya yang cuci."

"Di rumah biasanya aku cuci sendiri. Punya Ayah juga," kata Olive, meletakkan perangkat makan yang baru dicucinya ke rak piring. 

"Saya bisa lihat kalau kamu anak yang rajin, Liv."

Olive menunduk. 

Pujian itu terdengar berlebihan. Karena seandainya Ibu masih ada, mungkin Olive tidak akan melakukan semua pekerjaan rumah itu. Mungkin ia akan menikmati masa remajanya seperti teman-temannya yang lain. Tidak ada yang perlu ia pikirkan selain sekolah dan hal-hal menyenangkan lainnya. 

Olive punya banyak keahlian yang didapatnya dari keterpaksaan. Jika ia hanya mengandalkan ayahnya, bisa-bisa mereka tidak punya perangkat makan bersih dan pakaian layak pakai. Begitu banyak yang harus ia pelajari dalam semalam. Ia tidak punya pilihan selain mengambil alih tugas Ibu.

Deru mesin sepeda motor terdengar dari arah pagar. Maya melongok ingin tahu.

Seorang remaja laki-laki berjaket merah mengangguk sopan ketika melihat Maya di jendela. 

"Itu Boni." Olive menyambar tas dan ponselnya. "Saya pamit, Tante," katanya, terburu-buru mengenakan sepatu.

Maya membuntutinya dan berhenti di teras. "Hati-hati ya, Liv," serunya.

Boni membantu Olive mengunci helm. 

"Itu Tante Maya?" tanya Boni dengan matanya. 

Olive menoleh ke arah teras lalu mengangguk.

"Kamu sudah pamit?"

"Ha? Ya, sudahlah."

"Beneran?" tekan Boni.

Lihat selengkapnya