Siapa mengira kalau air mata bisa mencairkan ketegangan di rumah Maya. Semua terjadi begitu saja. Seperti bendungan yang jebol karena sudah tidak kuat menampung debit air. Setelah menangis sesenggukan di dapur hari itu, perlahan-lahan Olive pun mulai membuka diri.
Kamarnya masih menjadi tempat persembunyian yang nyaman, tapi Olive tidak lagi mengurung diri seharian seperti sebelumnya. Bahkan ia sengaja tidak menutup rapat pintunya. Celah itu kemudian mengundang Zia untuk menyelinap masuk menyapanya, lalu mereka akan mengobrol di atas tempat tidur. Zia yang lebih banyak bercerita, Olive hanya mendengarkan saja. Setelah itu, Olive akan membantu Zia mengerjakan tugas-tugas sekolahnya jika ia ada waktu luang.
...
Malam itu Maya duduk tegak dalam gelap. Zia terlelap di sisinya, bergelung di dalam selimut yang hangat. Ia mengelus rambut Zia dengan hati-hati. Anaknya itu tampak tidur dalam damai, sama sekali tidak terusik seperti mamanya yang sedang kesulitan menutup mata.
Matanya mengerjap. Kejadian mengharukan di dapurnya kembali terkenang.
Waktu Olive mendadak menangis, Maya juga ikut menangis. Rasanya lucu jika mengingat keduanya bertangisan bersamaan. Mungkin waktu itu Maya menangisi hal lain, tapi itu tidak penting. Satu hal yang ia sadari kemudian, Olive tidak berusaha menjauh ketika Maya memeluknya erat.
Apakah itu pertanda bahwa keadaan membaik di antara keduanya? Maya merasa harus mengambil langkah yang lebih berani untuk mengambil hati remaja itu. Ia berpikir keras. Apa yang bisa ia lakukan?
Maya terjaga semalaman dengan kepala penuh. Rasanya baru sebentar matanya berhasil terpejam ketika alarm ponselnya sudah berdering nyaring. Maya memaksa dirinya untuk turun dari tempat tidur. Ia mengenakan sandalnya sambil menguap lebar. Zia masih tertidur ketika Maya berjingkat-jingkat menuju dapur.
Matanya seketika terbuka lebar begitu lampu dapur menyala, seolah-olah ia baru saja menenggak habis segelas kopi hitam. Maya sudah tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak perlu melakukan sesuatu yang hebat, ia hanya perlu melakukan hal yang semua ibu akan lakukan untuk anaknya: membuat bekal.
Maya mengeluarkan bahan-bahan makanan dari dalam kulkas. Sejenak membuka tutorial masak dari ponselnya lalu mulai beraksi. Ia memasak dengan penuh semangat. Sesekali ia menghirup teh hangatnya, bersenandung di sela-sela kegiatannya. Semua bekal sudah siap sebelum kedua anak itu bangun.
Olive tertegun ketika melihat kotak bekal di samping piringnya. Ia meletakkan tasnya di kursi dan duduk dengan wajah ragu.
"Itu buatan Mama," kata Zia sambil mengunyah nasi goreng.
"Oh."
"Sama seperti punyaku." Zia menunjuk kotak bekal di dekatnya.
Maya masuk ke ruang makan membawa piring berisi telur dadar.
Olive memandangnya. "Tante, terima kasih. Tapi kata Ayah, aku tidak boleh merepotkan selama di sini."
Maya tersenyum. Olive mungkin tidak tahu kalau ia akan melakukan apa saja untuk mendekatkan diri dengan Olive. "Tidak repot, kan sekalian bikinnya untuk Zia juga. Jadi uang jajanmu bisa dihemat, ditabung mungkin?"
"Iya, Tante."
"Mulai hari ini saya akan bawakan bekal untukmu. Harus dimakan. Kalau tidak, nanti saya yang dimarahi ayahmu kalau melihat anaknya kurus selama ditinggal pergi."
Zia terkikik.
Olive tertawa. "Terima kasih, Tante."
"Iya, sama-sama. Hari ini ada kegiatan apa sepulang sekolah?"
Olive menggeleng.
"Mau bantu saya, tidak? Ada pesanan kue lagi. Kalau mau, nanti sore langsung ke dapur, ya?"
"Iya, Tante. Siap."