My House, My Rules!

Sekarmelati
Chapter #11

Bab 11. My House, My Rules!


Matahari masih terang ketika kedua remaja itu keluar dari halaman sekolah. Rasanya gerah tak tertahankan. Olive membuka kaca helm, membiarkan angin menampar-nampar wajahnya. Hari ini tidak ada pekerjaan yang menunggunya di dapur. Ia sedang ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Boni.

Olive mencolek pinggang Boni. "Nanti mampir dulu, ya? Jangan langsung pulang," katanya di sela deru motor.

"Kamu free?"

"Iya, lagi mager aja." Boni melambatkan laju kendaraannya. "Mau jajan bakso, tidak?"

"Pulang ajalah. Ngobrol-ngobrol di rumah."

Dahi Boni mengernyit. Selama Olive tinggal di rumah Tante Maya, ia memang belum pernah benar-benar mampir. Waktu itu Olive sendiri yang melarangnya karena merasa tidak enak. Jadi, kenapa sekarang dia malah memintanya?

"Bisa, tidak?" desak Olive sambil mencubit pinggang Boni. Sepeda motor itu seketika oleng sejenak.

"Iya, iyaa, bisa," sahut Boni sambil tergelak. 

Dari kaca spion, Boni melirik Olive. Gadis itu tampak sedang melamun. Bagaimana mungkin ia menolak? Apalagi sejak Tante Arini meninggal, Boni selalu berusaha menuruti semua kemauan Olive. Boni menjaga betul perasaan Olive, jangan sampai pacarnya itu kecewa atau sedih.

Dan ia juga sudah berjanji kepada Irfan untuk menjaga Olive selama ia pergi bekerja. Mampir sebentar tidak mengapa. Akan ada banyak hal yang bisa diobrolkan bersama Olive. Mungkin saja Olive bosan karena tidak ada yang bisa diajak bicara di rumah Tante Maya, atau justru sebaliknya? Sepertinya sekarang waktu yang tepat untuk mengorek keterangan dari Olive. 


Olive memang sibuk melamun. Sepanjang jalan ia diam saja. Ketika kedua memasuki halaman rumah Maya, ia bergegas turun dan berjalan ke bawah pohon. 

Boni meninggalkan motornya di depan toko lalu mendekati Olive yang duduk di ayunan. Di bawah rindang pohon, udara terasa sejuk. Olive mengangkat kedua kakinya dan berayun pelan. Semilir angin menerbangkan helai-helai rambut Olive. Keringat di dahinya hilang sudah. Toko tampak ramai pembeli. 

Boni duduk di bangku taman, memperhatikan Olive. Ada yang berbeda dengan kekasihnya itu. Ia tampak lebih kalem. Apa ada sesuatu yang mengubahnya? 

"Liv, kamu suka tinggal di sini?" tanyanya ingin tahu.

Olive mengangkat bahu. "Suka aja. Tapi kangen mau pulang."

"Tante Maya baik?"

"Baik," gumam Olive. Keningnya berkerut, tampak sedang memikirkan sesuatu.

"Jadi, kamu setuju ayahmu dengan Tante Maya?"

Bahu Olive kembali naik. 

"Kalau memang baik, mungkin seharusnya kamu ikut senang. Ayahmu tidak salah pilih."

Olive tidak langsung menjawab. 

Sangat mudah untuk menebak isi hati Olive. Cukup dengan membaca raut wajahnya, Boni bisa tahu apa yang sedang dirasakan gadis itu. Sekilas ia sempat melihat mata Olive berkaca-kaca, seperti sedang berusaha keras menahan tangis. Mungkin ia kangen ayahnya, pikir Boni. 

"Kasihan Ibu," kata Olive pelan.

Boni tercekat. Kehadiran Tante Maya mungkin terlalu cepat untuk Olive terima. Pasti tidak mudah ketika seseorang yang asing mendadak masuk ke dalam kehidupannya. 

Ia bangkit dan berdiri di belakang Olive, lalu mendorong ayunan itu lebih tinggi. Olive tersentak, seolah baru tersadar dari lamunan panjang. Sebentar kemudian senyumnya terkembang lebar, seiring dorongan menguat. Matanya terpejam dan tubuhnya dicondongkan ke belakang. Suara tawanya terdengar lepas. Boni ikut tertawa. 

Hanya ini yang bisa Boni lakukan. Menghibur Olive ketika hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ia mendorong lebih kuat. 

Ayunan itu berkeriut di sela-sela tawa mereka. 

Lihat selengkapnya