My House, My Rules!

Sekarmelati
Chapter #12

Bab 12. Mengenal Arini


Maya menyandarkan punggung ke dinding, susah payah mengatur napas yang masih tersengal. Reaksi spontan tadi sudah pasti akan membuyarkan kedekatannya dengan Olive yang telah dibangunnya dengan susah payah.

Irfan sungguh keterlaluan, sungut Maya. Seenaknya saja mendadak memberi tanggung jawab besar kepadanya tanpa buku petunjuk apa pun. Bagaimana caranya menghadapi dua remaja sekaligus?

Dan sekarang Olive pasti kembali mengurung dirinya di kamar. Wajahnya merah padam. Bantingan pintu itu adalah puncak dari kemarahannya. 

Ia mungkin sudah menegur terlalu keras, tapi Maya tidak punya pilihan. Ia tidak mungkin membiarkan Olive dan Boni berbuat sesuka hati di rumahnya. Ini masalah prinsip. Sekali saja ia melonggarkan peraturan, akan kejadian lain yang lebih gawat dari sekadar berciuman. Amit-amit, pikirnya sambil menggeleng kuat-kuat. 

Maya lalu mengalihkan perhatian kepada Boni yang masih mematung di teras. "Terus terang saya kecewa, Bon," katanya. 

Remaja itu tidak berani beradu mata dengan Maya. "Saya yang salah, Tante, bukan Olive," jawab Boni dengan nada menyesal. 

"Baguslah kalau kamu mengakui kesalahanmu, tapi saya minta kamu untuk ikut aturan, oke? Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi, terutama di rumah saya."

Boni mengangguk. "Baik, Tante."

"Dan suka atau tidak, saya harus cerita ke Irfan soal ini."

Boni kembali mengangguk. 

Maya mengurut pelipisnya yang mulai berdenyut-denyut. Rasanya ia perlu berbaring setelah ini. 

"Sekarang kamu boleh pulang." Maya menyudahi pembicaraan. 

Dengan lunglai Boni berjalan menuju motornya yang terparkir di halaman. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia membalikkan badan dan menatap lurus ke mata Maya. 

"Saya akan jaga Olive baik-baik, Tante." Boni berhenti sejenak. "Sejak ibunya tidak ada, saya sudah janji." 

Maya mengambil napas. Wajah remaja itu tampak bersungguh-sungguh. Ucapan Boni membuat kemarahannya berangsur-angsur menghilang. 

Ia memang belum tahu banyak tentang sejarah keluarga Irfan, karena kekasihnya itu tidak pernah bercerita soal itu. Selama mereka berhubungan, Irfan sangat jarang mengungkit tentang mendiang istrinya. Boni pun tidak pernah muncul dalam obrolan mereka sehari-hari. Bagaimana ia bisa tahu seberapa dekat sebenarnya sosok Boni dengan Olive?

"Kamu ada waktu sebentar?" Maya menunjuk kursi teras. Suaranya tegas, tanda bahwa ia tidak menerima penolakan. 

"Eh?"

Maya lebih dulu duduk. 

Ragu-ragu Boni mendekat.

Maya memandang Boni. Ada pertanyaan yang harus ia tahu jawabannya. Ia tidak mungkin bertanya ke Olive. Ia juga enggan jika harus mengorek keterangan dari Irfan. Rasanya begitu sulit meski ia sudah berusaha menurunkan egonya. Padahal tidak semestinya ia cemburu pada orang yang telah berpulang. 

"Ibunya Olive, seperti apa dia?" tanya Maya setelah berpikir beberapa saat.

Boni menegakkan punggung. Pertanyaan itu datang terlalu tiba-tiba. Bagaimana cara menjelaskannya kepada Tante Maya? Dahinya berkerut. Bisa-bisa Olive marah jika ia mengatakan hal-hal bodoh.

"Tante Arini sudah seperti ibu saya sendiri," jawabnya sambil mengingat-ingat. "Wajahnya sangat mirip dengan Olive, sama-sama cantik." Boni tidak bisa menahan senyum. 

Maya ikut tersenyum.

"Om Irfan sering pulang malam. Jadi Olive lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibunya. Saya juga sering main ke rumah Olive karena kesepian di rumah," sambungnya. Sebenarnya ia ingin membandingkan Tante Arini dengan ibunya, tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. Rasanya tidak adil jika ia harus mencela ibunya sendiri. "Orang tua saya dua-duanya bekerja," kata Boni tanpa bermaksud menyalahkan siapa-siapa. Yang barusan ia katakan memang benar adanya, ia lebih kerasan berada di rumah Olive karena ada sosok ibunya yang hangat di dalamnya. 

Maya mengangguk maklum. "Apakah dia baik?"

"Banget," sahut Boni dengan senyum lebar. Kalau Om Irfan sedang tugas keluar kota, biasanya kami makan bareng bertiga di rumah. Tante Arini yang masak, kita cuma bantu makan saja."

Maya dan Boni tertawa berbarengan. 

"Jadi, dia pintar masak, ya?"

"Hmm, iya sih, tapi cuma masakan sehari-hari saja," kata Boni, mulai merasa nyaman untuk mengobrol. "Pernah sih, Tante Arini bikin kue, tapi jarang."

"Biasanya bikin kue apa?" tanya Maya ingin tahu.

Boni tercenung sejenak. "Keik marmer. Itu kue kesukaan Ibu dan Olive."

Lihat selengkapnya