My House, My Rules!

Sekarmelati
Chapter #13

Bab 13. Erik

Olive sudah selesai berkemas sejak tadi. Ranselnya disembunyikan di kolong meja, jaga-jaga saja jika Zia mendadak masuk. Ia tidak ingin rencananya ketahuan. Olive tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyelinap keluar. 

Sebenarnya ia bisa saja pergi saat itu juga, tapi ia mencoba bersabar karena tadi ia sempat mendengar suara Tante Maya sedang berpamitan dengan Zia karena ada urusan yang harus diselesaikan. Setelah itu tidak terdengar apa-apa lagi. Zia juga sepertinya langsung kembali ke kamarnya, entah untuk membaca atau malah tidur. 

Samar-samar ia mendengar mesin mobil menyala dan menghilang beberapa menit kemudian. Ke mana Tante Maya pergi? Jangan-jangan ia hanya pergi sebentar dan kembali sebentar lagi. Olive mondar-mandir di dalam kamar dengan dada berdebar. Apakah sudah aman untuk pergi ataukah ia harus menunggu sebentar lagi untuk memastikan waktunya tepat. 

Ia kembali duduk dan mengetik pesan untuk Boni. Pesan itu dihapusnya cepat-cepat. Boni juga sebaiknya tidak tahu soal rencananya ini, pikirnya sambil menggigit bagian bawah bibirnya. Boni bisa saja memaksanya kembali ke rumah ini. Dan jika itu terjadi, ia tidak akan punya kesempatan untuk kabur lagi. 

Olive akhirnya memutuskan untuk menunggu sampai kegiatan di dapur produksi benar-benar selesai dan semua karyawan Tante Maya pulang sebelum ia mulai bergerak. 


...

Memiliki mantan suami adalah bagian terburuk dari sebuah perceraian. Sosok menyebalkan itu tidak mudah disingkirkan, apalagi jika seorang anak sudah telanjur hadir. Maya melihat pergelangan tangannya berulang-ulang. Erik terlambat, seperti biasa. Sekarang sudah lewat setengah jam dari janji mereka. Untung Zia tidak ikut dengannya. Bisa-bisa ia tidak bisa menahan emosi di depan anaknya itu. 

Sebelum berangkat menemui Erik, Maya tadi terpaksa berbohong kepada Zia kalau ia ada janji dengan salah seorang pelanggan tokonya. Kalau anaknya sampai tahu kalau Maya akan menemui Erik, bisa-bisa ia merengek bersikeras ingin ikut. 

Sebenarnya Maya tidak mempermasalahkan jika Zia bertemu dengan ayahnya, tapi kali ini ia perlu membicarakan hal penting yang tidak perlu didengar anak mereka. Bukan sekali ini saja Erik mangkir dari kewajibannya sebagai seorang ayah. Jika ia masih punya hati, seharusnya Maya tidak perlu bersusah-payah mengingatkan Erik. 

Erik memang sering seenaknya saja bertindak. Begitu juga ketika ia tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkan pernikahannya dengan Maya. Ternyata Erik belum siap melepaskan kemerdekaannya. Suatu hari, ia membawa gitar bass kesayangannya dan pergi bersama teman-temannya mengikuti tur band keliling Indonesia. Jika kepergiannya itu hanya untuk memenuhi egonya untuk bermusik, Maya tidak terlalu keberatan, tapi ketika seorang perempuan cantik dengan suara merdu ikut di dalam pelarian itu, Maya tidak bisa lagi menahan diri. Berpisah adalah jalan yang terbaik untuknya dan Zia. 

Maya menggerak-gerakkan tungkainya dengan gelisah. Tehnya sudah tawar karena es batu yang mencair. Ia menegakkan punggung ketika melihat orang yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul dengan senyum lebar tanpa rasa bersalah. Erik merentangkan tangan, bermaksud memeluk Maya. Tapi Maya mengelak sambutan itu dengan menepis tangannya. 

Erik tidak tampak tersinggung dengan sikap Maya. "Duh, galak amat, Mbak," katanya sambil tertawa. 

Maya cemberut. Sejak pertama kali mereka berkenalan, Erik memang tidak pernah bersikap dewasa di depannya. Jujur saja, dulu sikap seperti itu terasa menggemaskan. Bagaimana tidak, seorang laki-laki tampan dengan gaya cuek mau bermanja-manja dengannya. Maya juga tidak pernah mengira kalau dirinya bisa menarik perhatian laki-laki seperti Erik. Maya sosok yang serius, dan Erik sebaliknya. Awalnya ia mengira perbedaan itu akan menjadi bumbu yang menarik dalam hubungan mereka. Tapi ketika mereka akhirnya benar-benar menikah, dan Zia lahir setahun setelahnya, perbedaan itu semakin meruncing. 

Pernikahan menjadi terlalu serius untuk Erik. Dan dengan egois ia pergi begitu saja. 

"Kapan sih kamu bisa serius?" gerutu Maya, mendorong gelasnya menjauh.

"Aku serius loh sama kamu," kata Erik.

"Itu dulu," sindir Maya dengan tatapan tajam. 

"Sekarang juga masih, buktinya aku datang, kan?" Senyum masih menghiasi wajah Erik yang tampak usil.

"Sebenarnya tidak datang pun tidak apa-apa, asalkan kamu konsisten mengirim uang untuk keperluan sekolah Zia," tukas Maya kesal.

Erik terdiam sejenak. "Iya, iya, aku minta maaf," katanya.

Maya memandang wajah mantan suaminya itu. Erik mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Pesona itu belum sepenuhnya hilang. Laki-laki dengan penampilan bad boy memang selalu terlihat lebih menarik di mata lawan jenis, mungkin juga karena ada semacam ambisi dari perempuan-perempuan yang penasaran ingin menaklukkan laki-laki semacam itu, termasuk Maya. 

Ada kebanggaan tersendiri ketika Erik memilihnya waktu itu. Hati Maya jadi berbunga-bunga, apalagi ketika ia melihat tatapan iri dari perempuan-perempuan yang diam-diam memperhatikan mereka ketika jalan berdua. Namun ternyata pernikahan tidak serta-merta mengubah tabiat seseorang. Bahkan kehadiran seorang anak tidak lantas mengubahnya menjadi dewasa seperti harapan Maya. 

Maya menghela napas, lalu mengalihkan perhatiannya dari wajah Erik ke gelas tehnya yang hambar. 

"Zia tidak ikut?" tanya Erik, melihat ke sekeliling. 

Maya menggeleng lemah.

Erik mengembuskan asap ke atas kepala. "Dia masih anak aku loh," katanya. "Aku berhak ketemu dia."

"Kalau kamu benar-benar peduli dengannya, harusnya aku tidak perlu sampai meminta-minta tanggung jawab darimu." 

Lihat selengkapnya