Apa yang baru saja kulihat? Olive bersembunyi di dalam kegelapan. Siapa laki-laki itu? Apa yang mereka lakukan di dalam rumah? Pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban itu menghujani pikirannya.
Ia mengintip lagi. Tidak ada siapa pun di teras. Sekali lagi ia mengumpat dalam hati karena sudah kehabisan baterai. Nyamuk berdenging di telinga dan mulai mengincar lengannya. Kakinya juga mulai kesemutan karena terlalu lama berjongkok. Dilihatnya jam di pergelangan tangannya. Hari makin larut, ia harus bergegas jika tidak ingin kemalaman. Olive keluar dari persembunyiannya dan buru-buru menyelinap melalui pagar yang terbuka.
Hari sudah benar-benar gelap ketika ia tiba di rumah. Olive menarik napas lega, bersyukur karena lingkungan rumahnya tidak pernah sepi. Rumah susun ini ibarat warung Madura yang buka 25 jam. Tidak ada yang benar-benar tidur di sini.
Warung kopi di dekat tangga masih ramai pengunjung. Sesekali terdengar suara tawa berderai dari bapak-bapak yang mengobrol sambil menyesap kopi pahit. Tak jauh dari situ, sekelompok pemuda berkumpul, bermain gitar sambil menyanyi bersama. Keramaian semacam ini yang tidak Olive temukan di rumah Tante Maya. Begitu menginjakkan kaki di halaman rumah susun ini, ia sudah merasa berada di rumah.
Olive sedang berjalan menaiki tangga ketika melihat Ayu di depan pintu rumahnya. Dilihat dari pakaiannya yang formal, sepertinya ia baru saja pulang kerja. Olive mengendap-endap agar tidak perlu menyapa, tapi perempuan itu telanjur melihatnya.
"Hei, Olive?" Ayu tampak terkejut. Ia urung membuka kunci pintu dan malah menghampiri Olive. "Dari mana kamu? Ini sudah malam banget loh, Liv, tidak baik anak gadis keluyuran malam-malam."
"Iya, Tante, ini juga saya mau pulang," sahut Olive sambil ngeloyor.
Ayu menghadang langkah gadis itu. Olive terpaksa berhenti.
"Kok lama tidak kelihatan?" Perempuan itu lalu celingukan. "Kamu sendirian? Di mana ayahmu?"
"Ayah masih di luar negeri, Tante," jawab Olive malas.
"Ow, pantas saja rumahnya sepi. Kamu nginep di mana?"
"Tante mau tahu aja, atau mau tahu banget?"
"Duuh, Olive, jangan gitu dong jawabnya," sahut Ayu sambil tersenyum lebar. "Kan saya cuma khawatir."
"Iya, maaf deh, Tante, jangan bilang Ayah, ya? Please?" Olive meringis sambil mengatupkan telapak tangannya di depan muka.
"Beres," sahut Ayu sambil mengedipkan sebelah mata. "Eh! Tunggu dulu!" Ia kembali menghentikan langkah Olive.
"Apalagi, Tante?"
"Kamu belum jawab, nginep di mana kamu?"
Olive diam sejenak. "Di rumah Ibu baru!" sahutnya sambil menyeringai.
"Eh? Apa?!"
Olive buru-buru kabur dari hadapan Ayu dan masuk ke rumahnya.
Lebih baik Tante Ayu tahu sekarang daripada nanti, pikirnya sambil menyeringai. Tapi kemudian Olive terdiam. Apa benar, Tante Maya akan menjadi ibunya? Bayangan kedekatan Tante Maya dan laki-laki tadi kembali melintas dan mengganggu pikirannya. Olive sempat melihatnya mencoba meraih tangan Maya, meski kemudian ditepis dengan halus.
Olive mendesah. Ia terlalu muda untuk memikirkan hal-hal semacam itu. Hal-hal yang seharusnya menjadi masalah orang dewasa, bukan remaja seperti dirinya.
Olive melihat sekeliling. Rumah jadi terasa sangat berbeda karena tidak ada orang selain dirinya. Gelap dan lengang. Rasanya seperti berada di dalam adegan film horor. Tak urung jantungnya berdegup samar. Tangannya masih memegang gagang pintu.
Kakinya melangkah masuk. Engsel pintunya mengeluarkan suara ketika ditutup.
Dari bak cuci, terdengar tetes air jatuh satu demi satu dari keran yang longgar karena Ayah tidak pernah punya waktu untuk memperbaikinya. Sebuah panci menampung tetesan air itu hingga meluber. Ia akan memastikan ayahnya meminyaki engsel pintu dan memperbaiki keran nanti.
Olive melempar ransel ke lantai dan menjatuhkan diri ke atas sofa. Badannya bergerak mencari posisi nyaman. Ia mendongak, menyandarkan leher ke punggung sofa yang empuk.
Sungguh berbeda rasanya dengan rumah Tante Maya yang apik. Bukan berarti ia tidak suka tinggal di sana, hanya saja suasananya yang berbeda. Meski sederhana, tapi rumah susun ini terasa seperti teman lama yang menyambutnya dengan pelukan hangat.
Ketukan keras dan beruntun mengejutkannya. Olive melihat jam dinding. Tanpa perlu membuka pintu ia sudah bisa menebak siapa yang datang malam-malam begini. Dengan malas Olive berdiri lalu menyalakan lampu.
Boni berdiri berkacak pinggang di hadapannya. "Liv, gila kamu, ya? Kamu kabur?"
...
Boni menenggak air mineralnya hingga tak bersisa. Botolnya diremuk dan dilempar ke tempat sampah. Salah seorang temannya keluar dari ruang studio sambil berkata, "Besok latihan lagi ya."
Beberapa hari belakangan ini Boni dan teman-temannya memang sering berkumpul untuk latihan. Ada festival band yang mereka ingin coba ikuti.
"Boni bisa, gak?" tanya yang lain.
Drummernya menyeringai. "Olive bolehin, gak?"
"Olive mana, Bon? Kok lama ga kelihatan?"
"Lagi nginep di rumah tantenya."
"Ooh, pantesan!" Semua orang serempak tertawa.
Teman-temannya benar. Selama ini Boni memang jarang kumpul-kumpul dengan temannya. Waktunya lebih banyak dihabiskan bersama Olive. Hampir semua temannya tahu dan maklum setelah tahu cerita di balik kedekatannya dengan Olive. Semenjak pacarnya itu menginap di rumah Tante Maya, Boni bisa meluangkan waktu bersama mereka.
"Sialan!" Boni ikut terbahak. "Besok, ayo!" tantangnya.
Temannya mengacungkan jempol.
Malam sudah larut. Band mereka adalah pelanggan terakhir di studio hari ini. Semua orang bersiap-siap pulang. Boni sedang memasukkan gitar bassnya ke dalam softcase ketika matanya tiba-tiba menangkap seseorang memasuki gerbang rusun dan berjalan cepat melintasi lapangan dan tempat parkir.
Boni melongok keluar. "Olive?" Dahinya berkerut.
...