My House, My Rules!

Sekarmelati
Chapter #15

Bab 15. Hiatus


Irfan memerosot turun, memukul lantai dengan kepalan tangan. Berada jauh dari rumah membuatnya tidak berdaya. Lucunya, kenapa setiap ada kejadian besar, ia malah tidak di tempat? Seolah-olah takdir sedang mempermainkannya. Meski mungkin itu kedengaran berlebihan. Maya yang terlihat bersama laki-laki lain tentu berbeda dengan kehilangan istri untuk selama-lamanya. 

Tapi entah kenapa Irfan justru merasakan kekosongan yang sama. Tidak pernah terbersit di dalam hatinya jika ia akan merasa seperti sekarang. Sekali lagi ia harus mengalami kehilangan seseorang yang disayanginya. Ada banyak hal yang harus ia bicarakan dengan Maya jika ia sudah kembali nanti. Tapi apa yang harus dibicarakan? Bukankah ia baru saja memutuskan untuk berhenti?

Ia kembali ke kamar sambil menyeret kaki. Erwan menatapnya dengan alis terangkat. "Fan?"

Agnes muncul dari dalam kamar mandi dengan sikat gigi terselip di mulutnya. "Ada apa?" gumamnya.

Irfan menjatuhkan diri di kasur. 

Erwan mengikutinya. "Lah, serius ini kayaknya? Apa ada masalah di rumah?"

Yang ditanya tidak menjawab. Matanya kosong menatap langit-langit. Ribuan jarum seolah menusuk-nusuk hati Irfan tanpa ampun.

"Ini bukan soal Olive, ya?"

Irfan menggeleng lemah. 

"Pasti soal perempuan," tebaknya lagi.

Irfan mengangguk.

"Apa pun itu, bisa diselesaikan nanti," hibur Erwan. 

"Tapi sudah telanjur putus, Bang," desah Irfan. 

"Siapa yang mutusin?"

Irfan menelan ludah.

Mata Erwan melebar. "Astaghfirullah! Kok bisa?!"

"Karena dia ketemuan dengan laki-laki lain," sahut Irfan, mencari pembenaran.

"Kamu tahu siapa laki-laki itu?"

"Mantan suaminya, Bang." Suara Irfan melemah, mulai sadara kalau alasannya ternyata tidak cukup kuat.

Erwan mengerutkan dahi. "Kalau tidak salah, kamu pernah cerita kalau mereka sudah punya anak, kan?"

Irfan termangu, berusaha menyambung kepingan-kepingan puzle yang berserakan di dalam kepalanya. Sebentar kemudian ia tergagap. "Mereka bertemu karena ada urusan dengan anaknya, ya?" tanyanya kepada dirinya sendiri.

Erwan tidak menyahut lagi. Dibiarkannya temannya itu kembali dalam diam.

Ketika Arini meninggal, Erwan menjadi saksi bagaimana hancurnya hati Irfan waktu itu. Berita duka yang datang ketika mereka sedang bertugas di luar kota membuat semuanya terasa lebih berat. Wajah Irfan seperti kanvas kosong. Sorot matanya redup seolah tak hidup. Isak tangis Agnes menambah suasana makin muram. 

Erwan berusaha menjadi satu-satunya orang yang harus tetap waras. Dalam kekalutan, ia bergerak mencari jalan keluar. Mereka bertiga harus pulang saat itu juga, mencari cara agar bisa kembali ke Jakarta secepatnya. Lalu nama sepupunya muncul. Tanpa berpikir dua kali, Erwan menghubungi saudaranya itu, meminta bantuan. 

Di dalam mobil yang melaju di jalan bebas hambatan, semua penumpang duduk membeku. Sesekali Erwan menengok ke belakang, memastikan keadaan Irfan baik-baik saja. Irfan bersandar dengan wajah menghadap jendela. Entah apa yang dilihatnya. Mungkin bayangan istrinya muncul di sana. Ketika tangan Irfan terangkat dan membelai permukaan kaca, Erwan tidak tahan lagi. 

Dan sekarang ia seperti melihat kejadian serupa, meski tidak sama persis tentunya. Irfan tampak murung, bagaikan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. 

Sudah sepantasnya Erwan cemas. Bukan hanya remaja yang lebai ketika putus cinta, pria seusia Irfan ternyata juga mengalami hal yang sama. Meski baru saja memutuskan hubungan dengan gagah berani, nyatanya ia runtuh juga. 

Sekarang Irfan merasa seperti orang bodoh karena sudah melakukan kesalahan terbesar di dalam hidupnya. Keputusannya ceroboh. Gegabah. Tanpa pikir panjang. Dan sekarang seolah tidak ada jalan untuk kembali.  

Tanah air terasa sangat jauh dari jangkauannya saat ini. Mereka masih harus bertahan beberapa hari lagi. 

Kepanikan mendadak menyerang. Bagaimana cara memperbaiki kesalahannya?

Lihat selengkapnya