My House, My Rules!

Sekarmelati
Chapter #16

Bab 16. Memberi Ruang


Tiket sudah di tangan. Tugas liputan mereka akhirnya usai juga. Waktunya berkemas dan kembali ke rumah. Seharusnya hari itu menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu. Tapi anehnya, justru Irfan merasa cemas karena kepulangannya berarti cepat atau lambat ia harus menghadapi Maya. 

Maya mengiriminya beberapa pesan setelah kejadian itu, tapi Irfan menahan diri dan mendiamkannya. Jika nanti mereka harus membicarakan nasib hubungan mereka, menurutnya obrolan itu sebaiknya dilakukan secara langsung. 

Emosi yang sempat menguasainya kini sudah benar-benar hilang. Waktu itu ia lupa akan satu hal: Maya punya mantan suami. Suka tidak suka, Irfan harus menerima kenyataan itu.

Koper-koper dimuat ke dalam bagasi. Tawa dan senyum ceria tak lepas dari wajah kedua rekan kerjanya. Dua minggu mungkin terasa sebentar bagi sebagian orang, tapi untuk sebagian lagi yang sedang bersusah payah menahan rindu, dua minggu terasa seperti selamanya. 

Irfan memasang sabuk pengaman. Pramugari cantik tersenyum ramah menyapa. Irfan mengangguk sopan. 

Satu perjalanan panjang yang membosankan lagi. Tapi kali ini ia tidak keberatan karena ada Olive yang sudah tidak sabar menunggunya pulang. Irfan memejamkan mata. Suara Erwan dan Agnes masih terdengar jelas di telinga. Punggungnya bergeser, mencoba mencari posisi yang nyaman. Desing mesin pesawat memaksa matanya kembali membuka. Irfan memandang ke luar jendela. Selamat tinggal Amerika!


...


Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh jam lebih, akhirnya mereka mendarat dengan selamat di Jakarta. 

Pintu kedatangan internasional. Irfan meregangkan tubuhnya yang kaku. Erwan berdiri di dekatnya, memeriksa satu per satu barang bawaan mereka dengan teliti. Sementara Agnes langsung kabur ke kedai kopi terdekat.

Tidak ada waktu untuk berleha-leha. Mereka harus segera ke kantor untuk menghadap redaksi dan membuat beberapa laporan. Agnes menguap berkali-kali. Matanya sembab. Sudah tiga gelas kopi ia habiskan sejak mereka tiba di Tanah Air. 

Di meja seberang, Erwan menghadap laptop sambil mengunyah nasi uduk. Mereka bertiga masih harus bertahan di kantor sampai beberapa jam ke depan.

Ponsel Irfan bergetar lagi. Olive terus menerus mengirim pesan. Irfan hanya mengetik satu kata: sabar. 

Satu pesan dari Maya juga masuk, membuat Irfan termangu beberapa saat. Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, ia memilih untuk tidak membalas pesan itu dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. 

Larut malam barulah Irfan benar-benar pulang. Olive menyambutnya di lantai bawah. Irfan merentangkan tangan dan memeluk anaknya erat-erat. 

Tak urung matanya basah. Lega rasanya. Ia sudah pulang. Ia sudah di rumah. 

Keduanya berjalan beriringan menaiki tangga. Irfan mendadak berhenti melangkah. 

"Boni mana?"

Yang ditanya hanya mengangkat bahu, seolah tak peduli.

Irfan menajamkan mata. "Kalian berantem?"

"Tidak sih," sahut Olive dengan nada biasa-biasa saja. "Cuma lagi sibuk aja. Boni dan teman-temannya lagi sering latihan karena ada kompetisi band."

"Beneran?" tanya Irfan memastikan.

"Ayah tahu tidak, aku sekarang ikut ekskul basket di sekolah," kata Olive, mengalihkan arah pembicaraan.

"Wah, bagus itu," puji Irfan sungguh-sungguh. Ia menatap anaknya penuh kekaguman. 

Sejak Arini meninggal, Olive tampak enggan mengikuti kegiatan apa pun di sekolah. Waktu senggangnya biasanya dihabiskan hanya bersama Boni. Dan sekarang Olive sudah mengambil keputusan berani. Sesuatu yang mungkin terlihat sederhana, tapi sangat besar artinya untuk Irfan. 

Satu hal melintas di dalam kepalanya. Mungkin sudah waktunya ia membeli mobil. Akan lebih mudah untuknya mengantar-jemput Olive latihan nanti. 


...

Setelah melewati fase jet lag dan mengejar target pekerjaan kantor yang berjibun, Irfan mengajak Olive mengunjungi rumah orang tuanya.  

Lihat selengkapnya