Senja menyapa kerumunan anak-anak klub basket yang sedang duduk-duduk di tepi lapangan. Latihan baru saja usai. Sekarang mereka sedang melepas lelah sambil membahas acara class meet yang akan berlangsung minggu depan. Olive menyipitkan mata. Tangannya menempel di dahi, menghalau sinar matahari yang menyilaukan. Sinar itu mendadak hilang karena terhalang tubuh seseorang. Olive menengadah. Boni berdiri tegak di dekat kakinya.
Mau pulang bareng?" ajak Boni.
Olive bisa mendengar teman-temannya berbisik-bisik sambil cekikikan.
"Aku naik bus aja, sama teman-teman," sahut Olive, memeluk bolanya erat-erat.
"Oh. Oke." Boni memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. "Kalau gitu aku duluan, ya?"
Olive mengangguk sambil melambaikan tangan sekilas.
Boni membalikkan badan dan berjalan meninggalkan lapangan. Berapa lama mereka harus bersikap seperti ini, tanyanya dalam hati. Sejak kejadian itu, mereka seperti dua orang yang tidak saling mengenal sebelumnya. Boni melajukan motornya keluar halaman sekolah dan berbelok ke kanan. Ia menepi lalu mematikan mesin.
Tidak lama kemudian ia melihat Olive dan teman-temannya berjalan menyeberang ke halte bus. Olive memainkan bola basket di tangannya sambil asyik mengobrol dengan salah seorang temannya.
Boni memantau dari jauh, merekam semua gerak-gerik Olive. Ia ikut tertawa ketika melihat pacarnya itu tertawa. Ah, rupanya Olive mulai membuka diri. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dan Boni tidak keberatan. Masa muda tidak terjadi dua kali. Ia percaya kalau perasaan mereka tidak berubah. Perasaannya tidak berubah.
Masih ada banyak waktu untuk mereka berdua nanti.
Ponsel di sakunya bergetar. Boni membaca pesan yang masuk lalu cepat membalas: Kita jadi latihan malam ini.
Matanya kembali ke satu titik. Suka atau tidak suka, ia akan tetap ada di dekat Olive, menjaganya meski dari jauh, sesuai dengan janjinya kepada Tante Arini.
Bus yang ditunggu akhirnya tiba. Ketika Olive sudah memasuki bus barulah Boni memacu sepeda motornya.
...
Irfan duduk menghadap laptop. Sambil mengecek email, Irfan menyuap nasi goreng buatan Olive. Dari sudut matanya, ia menangkap gerakan Olive yang sedang bersiap-siap, berjalan mondar-mandir di depan kamar mandi, menyisir rambut lalu mengikatnya erat ke belakang. Ia sudah memakai seragam lengkap. Irfan sekilas melirik jam di tangannya. Masih terlalu pagi untuk ke sekolah. Dahinya mengernyit.
"Sudah mau berangkat?" tanyanya memastikan.
Olive mengangguk.
"Berangkat bareng Boni?" tanya Irfan lagi.
Kali ini Olive menggeleng.
Sejak pulang dari Amerika, Irfan jarang melihat Olive bersama Boni. Padahal biasanya kedua remaja itu lengket bagai prangko. Apa ada sesuatu terjadi?
Irfan menimbang-nimbang sejenak lalu menyambar jaketnya. "Ayah antar saja, ya?"
Keduanya berderap menuruni tangga. Langkah kaki mereka spontan berhenti ketika berpapasan dengan Ayu yang baru naik. Perempuan itu tersenyum lebar. Matanya mengedip manja.
"Eh, Mas Irfan," sapa Ayu ramah. "Sudah lama kita tidak ketemu, ya?" Matanya tampak berbinar-binar.
Olive menggigit bibir bawah, menahan tawa.
Ayu mengalihkan perhatian ke Olive. "Mau ke mana ini? Sekolah?"
Irfan mengangguk sopan. "Kami duluan, Mbak Ayu. Takut telat."
"Oh, silakan," sahut Ayu sambil menepi.
Sesampainya di lantai dasar, Olive berjalan mendahului ayahnya. "Bagaimana menurut Ayah?
Alis Irfan bertaut. "Apanya yang bagaimana?"
"Ih, Ayah kura-kura dalam perahu."
Irfan terbahak. "Ayah benaran tidak mengerti maksudmu, bukan pura-pura."