My House, My Rules!

Sekarmelati
Chapter #18

Bab 18. Ulang Tahun kedua tanpa Ibu

Olive hanya punya satu detik untuk melirik spion karena detik berikutnya ia harus kembali fokus memelototi jalan di depannya. Wajahnya tampak serius. Dari kaca spion ia bisa melihat Boni membuntutinya dengan kecepatan sedang. Sebelumnya Irfan sudah menawarinya untuk berangkat bersama-sama tapi Boni menolak halus tawaran itu karena ia masih harus pergi ke tempat lain setelah acara ulang tahun Olive selesai.

Ban mobil berderak menggilas hamparan kerikil di halaman rumah Pak Ilham. Olive menginjak rem.

Irfan menengok ke kanan dan kiri, lalu melongok ke belakang. "Maju sedikit, baru mundur," katanya memberi aba-aba. 

Olive mengikuti perintah itu. Meski sejak berangkat telapak tangannya sudah licin karena berkeringat, tapi ia sedang bersemangat untuk belajar. Belakangan ini ayahnya memberinya izin untuk belajar mengemudi. Meski tidak percaya diri di awal, sekarang ia semakin mahir.

Setelah mobil parkir dengan mulus, barulah Olive bisa mengembuskan napas lega. Irfan menepuk bahunya sambil tersenyum lebar. Satu fase lagi sudah ia lalui. Sebagai orang tua, Irfan ingin betul-betul yakin sebelum melepas Olive di jalan sendirian.

Olive mendapat acungan jempol dari Pak Ilham yang sedari tadi mengawasi cucunya dari teras.

Deru sepeda motor terdengar dari arah pagar. Boni tampak membelok masuk ke halaman dan berhenti di samping mobil. Separuh wajahnya tertutup masker. Ia melepas helm dan merapikan rambut. Maskernya dijejalkan ke dalam saku.  

Olive melongok dari jendela lalu meloncat keluar. 

"Halo, Bon," sapa Pak Ilham ramah.

"Pagi, Eyang." Boni maju dan mencium punggung tangan Pak Ilham. "Olive nyetirnya sudah jago," puji Boni. "Aku sampai ketinggalan tadi."

Olive mendorong bahunya sambil tertawa malu. Ia tahu kalau Boni sengaja bertahan di belakangnya sejak mereka berangkat dari rumah. 

Irfan mengajak ayahnya masuk. Mereka meninggalkan kedua remaja itu di depan. Olive dan Boni saling melirik lalu keduanya terkikik berbarengan.

"Mana kado buat aku?" Olive merajuk.

"Oh, iya, hampir lupa" Boni mengeluarkan hadiah yang sudah disiapkannya dari dalam ransel. "Selamat ulang tahun, Oliveku Sayang," katanya tersenyum manis. 

Pipi Olive seketika bersemu merah jambu. Jaket berwarna biru gelap itu dipeluknya erat-erat. 

"Dicoba dong. Aku mau lihat," kata Boni.

Olive memakai jaket itu sambil mematut diri di jendela rumah. 

"Wah, cakep!" Boni mengacungkan jempol. 

"Terima kasih, ya, Bon." Olive memeluk Boni sekilas. "Akan aku pakai waktu latihan basket," janjinya.

"Harus dong, supaya kamu ingat aku terus," sahut Boni sambil pura-pura cemberut.

Olive terbahak. Boni mencubit gemas pipi Olive.

Dari dalam rumah, Irfan diam-diam memperhatikan interaksi keduanya. 

Ada yang berubah dari hubungan Olive dan Boni. Mereka memang masih berpacaran, tapi tidak lagi selekat dulu. Sekarang masing-masing memiliki kegiatan yang berbeda. Olive lebih sering berkumpul dengan teman-teman perempuannya di klub basket sekolah, sedangkan Boni dengan teman-teman band-nya di rusun. Perubahan positif yang otomatis mengurangi kekhawatirannya sebagai orang tua.

Bu Dewi menghambur keluar rumah. "Boniii," serunya bersemangat. Ia tampak sangat senang melihat Boni datang. Bagaimana pun juga, Boni sudah dianggap seperti cucunya sendiri. "Lama tidak ke sini, sombong amat."

Boni memamerkan senyum. "Sibuk, Ni." 

Bu Dewi mengibaskan tangan. "Sibuk apa? Sibuk berantem?" Matanya mengerling ke arah Olive yang seketika cemberut. 

"Sudah baikan, Ni," sahut Boni mengklarifikasi. Kehadirannya hari ini tentu saja mematahkan dugaan kalau hubungan kedua remaja itu sudah selesai. Faktanya ia dan Olive baik-baik saja. Tidak ada lagi masalah, tidak ada rasa canggung. Semua berjalan seperti biasa. 

Pak Ilham merangkul bahu Boni. "Ayo, masuk. Kita sarapan dulu."

Bibir Olive makin maju. "Dari tadi kok Boni terus," katanya kesal.

Bu Dewi tertawa. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar. "Duh, cucu Nini yang lagi ulang tahun, jangan marah-marah terus. Harus happy dong."

Olive membalas pelukan hangat neneknya. 

"Eh, sekarang berapa umurmu, Liv?" Pak Ilham sambil mengerutkan dahi. Meski seorang pensiunan kepala cabang bank yang akrab dengan angka, rupanya ia tidak terlalu pandai mengingat. 

"18 tahun, Eyang!" sahut Olive bangga.

Lihat selengkapnya