“Kak Ilham nanti bisa jemput aku, ‘kan?”
“Iiih! Kak Ilham udah janji mau jemput gue abis latihan karate.”
“Lho? Orang Kak Ilham nanti jemput aku, terus kita mau ke toko buku—Kak Ilham juga udah janji. Iya, ‘kan?”
Ilham hanya bisa menggaruk tengkuknya sambil tersenyum. Kenyataannya, laki-laki itu tidak pernah berjanji karena dia tahu tidak bisa menepatinya. Ratna yang sedang membuat kue di dapur langsung keluar, melihat ketiga putrinya.
“Aduh-aduh … kalo aja Kak Ilhamnya bisa dibagi tiga. Biar nggak pada berebut,” canda sang ibu, membuat Ilham melihatnya sambil tertawa geli.
“Euhm … coba kasih tau kakak pelan-pelan. Hari ini kalian pulangnya jam berapa?”