“Oy, Ham!”
Ilham langsung menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya. Ternyata Bimo, teman Ilham. Laki-laki itu lantas menghampiri Bimo yang sudah menempati salah satu meja di kantin.
“Baru kelar kelas, lo?” tanya Bimo, kembali menyuapkan siomay miliknya.
“Ya gitu, deh. Ditambah bantuin Bu Inggar buat nganterin buku dulu,” kata Ilham, “lah, gue malah langsung duduk, belom pesen apa-apa.” Ilham baru menyadarinya setelah sudah duduk di kursi di depan Bimo.
Bimo terkekeh pelan, tapi memberi gesture tangan seperti berkata, lo tenang aja.
Ilham hanya mampu dibuat mengerutkan kening. Selang beberapa menit, meja yang tadinya hanya ditempati oleh Ilham dan Bimo, sekarang sudah bertambah dengan hadirnya dua orang perempuan bersama nampan di tangan mereka.
“Kita gabung, ya?”
“Kursinya pas banget masih ada yang kosong dua.”
Bimo memberikan senyum lebar seperti jawaban, sedangkan Ilham hanya tersenyum kecil. Kedua perempuan itu bernama Jihan dan Alya. Jihan terlihat menggeser piring berisi kentang goreng ke hadapan Ilham.
“Lo nggak jajan, Ham? Ambil punya gue, gak pa-pa, kok.”
“Ng-nggak us—”
“Ilham nggak suka kentang goreng, kali. Ini aja, Ham. Roti bakar—cokelat keju,” ucap Alya yang ikut menggeserkan piring berisi roti bakar miliknya.
Ilham seketika bingung dan ketika melihat Bimo, temannya itu hanya bisa menahan tawa tanpa memiliki niatan untuk membantu Ilham. Aish … jadi maksud dari tangannya si Bimo tadi itu ini ….
><><><
Hari ini Sinta merasa lelah sekali. Mungkin karena tiba-tiba sekolahnya mengadakan agenda kerja bakti atau mungkin Sinta yang lupa kalau agenda itu sudah di-sounding dari jauh-jauh hari.
“Sin, lo pulangnya gimana?”
“Hah?”
“Hah-hoh-hah-hoh. Gue nanya, lo pulangnya gimana?”
Sinta sedang duduk sambil meluruskan kedua kakinya di ruang kelas. Suasana di kelas mulai sepi karena memang bel pulang yang sudah berbunyi sejak beberapa menit lalu. “Euhm … kayaknya gue minta jemput Kak Ilham aja. Cape banget,” katanya.
“Itu mah alesan lo aja emang pengen manja sama abang lo.”
Sinta tertawa mendengarnya. “Udah tau pake nanya.”
“Ya udah, deh. Gue duluan, ya.”
Setelah kepergian temannya, Sinta langsung mengeluarkan ponsel untuk menelepon Ilham. Gadis itu sengaja menyalakan mode loudspeaker karena tidak ada orang lain di sana. Sinta menaruh ponsel itu sembari kedua tangannya yang masih sibuk bergerak ke kanan dan ke kiri.
“… iya, Sin? Ada apa?”
“Kak Ilham udah selese kuliahnya?”
“Udah. Emangnya kenapa? Kamu belom pulang?”