Dewi sedang duduk di kursinya sambil membaca novel. Saat semua teman-temannya keluar untuk menghabiskan waktu istirahat, Dewi lebih memilih tetap di kelas. Pertama, Dewi membawa bekal. Kedua, Dewi masih memiliki novel yang harus dia selesaikan. Karena hari ini adalah batas terakhir peminjaman.
Senyum di wajah Dewi muncul karena akhir dari cerita sesuai dengan harapan. Tentu akhir bahagia. “Seenggaknya nggak ada alesan hari ini aku buat badmood,” ucapnya.
Dewi membuka kotak bekalnya. Hari ini sang ibu membawakan roti isi cokelat dan keju yang memang menjadi kesukaan gadis itu. Dia memakannya perlahan sambil melihat ruang kelas yang kosong.
Tidak berselang lama, beberapa murid perempuan masuk sambil mengobrol. Mereka lalu melihat Dewi yang sendirian dan memutuskan untuk menghampirinya. “Eh, Dew. Masih betah aja di kelas.”
“Aku bawa bekal.”
“Wih … enak, tuh.”
Dewi lantas mendorong kotak bekalnya karena memang masih ada beberapa potong roti yang belum dia makan. “Ambil aja kalo mau,” kata Dewi.
“Serius? Kita berdua aja, San.”
“Oke-oke.”
Setelah itu mereka memilih menempati kursi di depan meja Dewi sambil menikmati roti. Obrolan mengalir begitu saja. “Dew, kakak lo itu satu-satunya cowok di keluarga lo, ‘kan?”
“Iya.”
“Tapi emang Kak Ilham, tuh ya … keren banget.”
“Setuju, gue.”
Dewi tersenyum kecil. Sebenarnya dia sudah sering mendengar pujian itu dari teman-teman sekolahnya. Sejujurnya, Dewi juga menyetujui hal itu. Faktanya memang Ilham keren.
“Pasti dia di kampus banyak yang naksir, ya?”
“Kayaknya malah bukan di kampus aja, sih. Kita-kita kalo boleh juga bakalan naksir.”
Dewi langsung melihat keduanya dengan sorot mata tajam, tapi sudah biasa. Mereka kemudian tertawa. “Bercanda, Dew ….”
“Tapi-tapi, lo pernah kepikiran kalo nantinya Kak Ilham punya pacar?”
Dewi mengerutkan kening. “Enggak.”
“Hah? Serius?”
“Ya karena nggak bakal.”
Dewi menutup kotak bekalnya dan berdiri sambil membawa novel yang tadi dia baca. “Aku mau ke perpus buat balikin ini,” ucapnya.
Setelah kepergian Dewi, kedua temannya tampak saling pandang. “Berarti rumornya emang bener, ya? Kak Ilham nggak dibolehin punya cewek karena adek-adeknya yang nggak mau.”
“Ada-ada aja, tapi lucu juga, sih. Soalnya Kak Ilham nurut.”
><><><
Di kampus, Ilham yang sedang memainkan ponsel tiba-tiba bersin. Bimo menoleh, lalu melihat Ilham menggaruk hidungnya. “Lo kenapa, hah?”
“Nggak tau. Tiba-tiba gatel—”
“Ada yang ngomongin, tuh.”
“Hah?”
Bimo tertawa geli. “Btw lo udah tau soal event kampus yang bentar lagi dlaksanain?”
“Ya taulah. Orang posternya udah muncul di mana-mana. Ini gue juga baru liat yang di-share di medsos,” jawab Ilham, “kenapa lo nanyain soal itu?”
“Gak pa-pa. Gue penasaran aja. Kali ini ketiga adik lo bakal ngasih larangan apa,” ucap Bimo diakhiri tawa geli karena dia baru teringat momen tahun lalu.
Padahal panitia sudah menginformasikan tentang warna dresscode untuk event. Jelas. Sangat jelas. Kuning, putih, atau jingga. Namun, Bimo justru melihat Ilham datang dengan atasan hijau muda dan celana cokelat.
“L-lo apa-apaan, sih? Lagi cosplay jadi pohon atau gimana?”
Ilham hanya bisa tersenyum kecil. “Nggak usah nanyalah. Gue juga udah nggak tau lagi harus ngasih jawaban apa,” katanya, “tapi masih nyambung kalo dipikir-pikir. Gue emang lagi cosplay jadi pohon. Nah, kalian jeruk-jeruknya.”
Bimo tiba-tiba tertawa keras. Dia masih tidak habis pikir karena waktu itu, Ilham justru terlihat tidak mempermasalahkan semuanya. Padahal, akibatnya besar sekali. Ilham berhasil menjadi pusat perhatian karena penampilannya yang berbeda dengan orang-orang.
“Kayaknya gue mau daftar jadi panitia aja, deh. Kalo panitia, nanti gue pilih yang di belakang layar, jadi nggak ada kewajiban buat pake warna sesuai dresscode—”
“Eits, nggak-nggak. Lo malah harus beneran serius ikut event tahun ini, Ham. Karena kemungkinan ini bakal jadi event terakhir kita—mungkin tahun depan kita sibuk sama tugas akhir atau syukur-syukur malah udah lulus,” kata Bimo, “gue mau lo bisa menikmati event ini sebagaimana seharusnya.”