My Judgemental Sisters

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #4

BAB 3

Suasana di rumah tidak terlalu ramai. Ratna sibuk di dapur, sedangkan kedua putrinya sibuk dengan kegiatan masing-masing, tapi selalu siap jika sang ibu membutuhkan bantuan. Dewi sedang menonton drama di televisi, lalu tiba-tiba berdiri karena dipanggil Ratna.

“I-iya, Bun,” kata Dewi yang tidak lupa menghentikan tayangan drama karena tidak mau tertinggal adegan selanjutnya. Dewi langsung pergi ke dapur, lalu mengambil beberapa toples kue dari rak sesuai permintaan Ratna.

“Dua lagi, Dew.”

“Oke-oke.”

Namun, Dewi baru menyadari kalau Ratna membuat banyak sekali kue. “Siapa yang pesen, Bun? Ini semua pesenan satu orang?” tanya Dewi, masih belum beranjak dari dapur.

“Ya enggak, dong. Hari ini ada tiga orang yang pesen, tapi emang satu orangnya pesen paling banyak. Sampe lima toples sendiri,” ucap Ratna diikuti senyum.

Dewi ikut tersenyum. “Wah … nanti orangnya ke sini atau dianter pake online.

“Tadi udah ngasih kabar kalo mau ngambil langsung, Dew. Mungkin nunggu kabar dari Bunda juga, pesenannya udah jadi atau belom,” jawab Ratna yang sudah mulai memasukkan kue ke dalam toples.

“Kalo gitu aku bantuin, deh—Sinta! Bantuin juga, sini!” Dewi langsung menyebut nama adiknya dan berhasil membuat Sinta terkejut.

“A-astaga, Kak. Kaget, gue,” kata Sinta seraya berdiri.

“Bantuin Bunda. Biar cepet selese, nih,” suruh Dewi, memberikan dua sarung tangan plastik kepada Sinta. Sinta hanya mengangguk pelan dan mulai bekerja.

Ratna tersenyum kepada kedua putrinya. “Makasih banyak, ya? Mumpung si bungsu lagi nggak di rumah—”

“Jadi nggak ada yang ngerecokin, ya?” sambar Sinta, membuat Ratna dan Dewi tidak bisa menahan tawa gelinya.

><><><

Hari ini jadwal Ilham mengajak si bungsu jalan-jalan. Bunga meminta agar mereka hari ini pergi menggunakan motor. Ilham sebenarnya tidak masalah dengan permintaan itu, tapi dia memikirkan kenyamanan adik bungsunya.

“Nanti kena panas, Bunga.”

“Kan pake helm.”

“Kalo tiba-tiba ujan?”

“Bisa pake jas ujan?”

“Kenapa kamu mau naik motor?”

“Soalnya seruuu!”

Ilham hanya bisa tersenyum sambil mencubit pipi Bunga. Adik bungsunya itu memang tidak pernah gagal membuat kakak-kakaknya merasa gemas. “Sekarang … mau ke mana dulu, nih?”

Bunga berpikir sambil mengusap pipi dengan tangan kanan karena tangan kirinya sibuk digandeng oleh Ilham. Setelah itu dia melihat kakaknya. “Es krim?”

Ilham menahan tawa, lalu tersenyum. “Langsung es krim banget?”

Bunga mengangguk penuh semangat. “Yang pake pisang itu, ya Kak!”

“Oooh, banana split, maksudnya? Siaaap.”

Mereka berdua kembali berjalan menuju kedai es krim. Namun, sebenarnya ada hal lain yang sedang dipikirkan Ilham. Aaah, udahlah. Kenapa gue jadi mikirin rencana Bimo, sih? Nggak usah terlalu berharaplah. Ntar kalo gagal, gue juga yang ngerasa kecewa. Padahal itu semua rencananya Bimo, kata Ilham dalam hati.

Lihat selengkapnya