My Judgemental Sisters

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #5

BAB 4

“Eh, Bim. Lo apain adek-adek gue, hah? Pas semalem gue pulang, mereka jadi diem banget—nggak kayak biasanya,” kata Ilham yang posisinya sedang duduk bersandar di kasur.

“Hah? Mereka masih diem aja? Belom ada ngomong apa-apa sama lo??”

“Ck. Pokoknya kalo rencana lo malah memperburuk keadaan, gue bakal marah banget sama lo,” ancam Ilham. Laki-laki itu sudah pusing mencari cara setiap kali adik-adiknya marah atau sebal kepadanya.

Ilham memijat pelipisnya pelan, kemudian dibuat terkejut ketika mendengar ketukan di pintu kamarnya. “U-udah dulu, Bim,” kata Ilham seraya mengakhiri panggilan telepon.

“Masuk aja. Nggak dikonci, kok.”

Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok kedua adiknya—Dewi dan Sinta. Ilham kemudian menegakkan posisi duduknya sambil melihat mereka dengan raut wajah bingung. “Eh. Kalian belom pada tidur?” tanya Ilham, lalu menggaruk tengkuknya pelan.

“Kita mau ngomong sesuatu, Kak,” ucap Dewi.

Ilham mengerutkan kening, kemudian menepuk sisi kasurnya agar Dewi dan Sinta bisa duduk. “Ngomong apa?” Ilham melihat kedua adiknya dengan rasa penasaran.

Dewi menyenggol lengan Sinta, memberi kode agar adiknya yang bicara karena Dewi bingung harus memulai dari mana. Sinta yang memang sudah biasa menjadi juru bicara di antara saudari-saudarinya sekarang sudah kembali berdiri. Sinta melihat Ilham dengan raut wajah serius.

“A-ada apan, sih …? Kalian bikin kakak bingung—”

“Ini soal event kampus Kak Ilham,” potong Sinta, membuat Ilham langsung paham.

Sinta mengusap dagunya pelan, lalu beralih menggaruk rambutnya. “Kak Ilham besok pake bajunya sesuai dresscode aja,” kata Sinta, “kalo nggak salah ini bisa jadi tahun terakhir kakak ikut event itu, ‘kan? Tahun depan mungkin udah sibuk skripsian.”

Ilham tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya setelah mendengar perkataan sang adik. “H-hah? Kalian ke sini malem-malem cuma … mau ngomong itu?” tanya Ilham yang sepertinya masih ingin memastikan.

Dewi mengangguk. “Iya, Kak. Pokoknya kakak nikmatin aja acara itu … kita percaya sama kakak,” lanjutnya, membuat Ilham melihat Dewi. Kata ‘percaya’ terasa berat di dada laki-laki itu.

“Ya udah. Kita beneran cuma mau ngomong itu aja, Kak,” ucap Sinta sembari menarik tangan Dewi untuk berdiri. Ilham hanya melihat kedua adiknya yang sempat berhenti sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.

“Selamat tidur, Kak.”

“S-selamat tidur juga ….”

Namun, kenyataannya Ilham malah tidak bisa tidur. Laki-laki itu masih tidak habis pikir kalau Bimo berhasil. Rencana Bimo berhasil. Ilham jadi penasaran, sebenernya dia ngapain, sih? Kok bisa-bisanya Dewi sama Sinta berubah pikiran gitu dan malah mempermudah gue ikutan event kampus yang selama beberapa tahun ini selalu dikasih syarat aneh-aneh.

Ilham mengusap wajahnya dalam posisi berbaring. “Huft … pas udah dikasih lampu ijo gini, gue malah bingung. Aneh,” ucapnya.

Lihat selengkapnya