My Judgemental Sisters

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #7

BAB 6

Ilham dan Anggun tidak menyangka kalau mereka akan menikmati acara ini bersama. Padahal tadi Anggun sempat berkata kalau dia mulai lelah dan ingin istirahat saja karena agenda yang dia tunggu masih nanti malam.

Namun, saat bersama Ilham, Anggun justru kembali bersemangat dan tanpa sadar dia juga memperlihatkan sisi yang sebenarnya kepada Ilham. Anggun yang selalu excited dengan segala hal di sana.

“Sebenernya setiap tahun gue suka keliling ke semua stand acara—temen-temen gue kadang ninggalin gue sendiri kalo udah mulai lupa waktu,” ucap Anggun sambil melihat Ilham sekilas saat mereka sedang berada di area pameran karya.

“Gimana, ya? Gue excited-nya suka telat. Misalkan gue dan temen-temen gue lagi ke sini, terus gue diem dulu … lama … nah, temen-temen gue udah selese, tuh, menikmati hal-hal yang ada di sini dan mau pergi, gue malah baru ‘wah … keren’, ‘bentar-bentar. Gue belom puas’, dan akhirnya gue ditinggal,” cerita Anggun diakhiri tawa karena merasa itu lucu.

Namun, Ilham tidak tertawa. Karena sedari tadi laki-laki itu lebih sering memerhatikan Anggun saat bercerita. Wajah perempuan itu, ekspresinya—padahal Anggun bercerita dengan semangat, tapi Ilham selalu merasakan ketenangan saat mendengarnya.

Anggun akhirnya menoleh. “Kalo lo gimana? Paling suka stand acara atau pas agenda apa?” tanyanya, penasaran sekaligus ingin mendengar Ilham bicara.

Ilham tersadar, lalu menggaruk tengkuknya. “Euhm … apa, ya …?”

“Masa nggak ada, sih?”

Ilham masih terlihat berpikir karena dia juga bingung. Selama ini dia tidak terlalu fokus dengan agenda acara dan hanya berusaha menikmatinya saja. Hal itu berhasil memunculkan senyum geli di wajah Anggun.

Saat keheningan sedang menyelimuti mereka, tiba-tiba Bimo datang. “Ham! Astaga … gue udah keliling nyariin lo, tau!” keluh laki-laki itu.

Ilham juga terkejut saat melihat kedatangan Bimo. “B-Bim—”

Namun, Bimo langsung menoleh dan melihat Anggun. “Eh, ternyata Anggun ….”

Anggun tersenyum sambil mengangkat tangan. “Hai, Bim.”

Ilham mengerutkan kening. “Kalian udah saling kenal??”

“Ya … kenal sebatas nama aja, sih. Temen gue temennya Anggun,” jawab Bimo, “a-ah, itu nggak penting, sekarang—lo harus ikut gue.” Bimo sudah lebih dulu menarik pergelangan tangan Ilham, tapi tidak membuat kaki Ilham masih tertahan.

“E-eh, apaan, sih?? Gue lagi sama Anggun—”

“Ck! Gue dari tadi belom upload story, Ham—harus ada elo! Lo paham, ‘kan??”

Setelah mendengar ucapan Bimo, Ilham langsung mengerti. Laki-laki itu hanya bisa mendesah pasrah sambil melihat Anggun. “Gue ikut dia bentar, ya Gun? Nanti gue cari lo lagi,” katanya.

Anggun tersenyum sambil menganggukkan pelan. Setelah Ilham dan Bimo pergi, dia terlihat menutupi mulut untuk menahan tawa. “Tadi mereka pake baju yang sama, ‘kan? Udah kayak anak kembar aja,” ucap Anggun yang masih merasa lucu saat mengingatnya.

Lihat selengkapnya