My Judgemental Sisters

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #8

BAB 7

“Kayaknya ini pertama kali gue ke perpus utama kampus, deh,” ucap Ilham yang baru selesai menemui seorang dosen salah satu mata kuliahnya.

Setelah urusannya selesai, Ilham berniat untuk langsung pergi, tapi pandangan laki-laki itu justru berhenti ketika tidak sengaja menemukan sosok Anggun yang sedang duduk di salah satu spot baca.

Perempuan itu sedang duduk di sebuah beanbag berwarna biru sambil membaca satu buku dengan sampul penuh gambar. Sesekali Anggun tersenyum dan tanpa sadar membuat Ilham belum beranjak dari tempatnya selama lebih dari satu menit.

Ilham menggeleng cepat. “Astaga. Gue kenapa cuma diem di sini?” tanya laki-laki itu, “ayo putuskan. Lo mau pergi atau mau nyamperin dia?” Ilham bertanya kepada dirinya sendiri.

Namun, belum selesai menentukan pilihan, Ilham justru dibuat terkejut karena tiba-tiba Anggun menoleh dan menemukan keberadaannya. Perempuan itu memperlihatkan mata yang tampak berbinar diikuti senyum.

Jujur. Ilham yang melihatnya benar-benar dibuat salah tingkah. Langkah demi langkah sampai akhirnya Ilham sudah berdiri di luar area duduk tempat Anggun berada. Anggun masih dalam posisi duduknya mendongakkan wajah.

“Lo abis ngapain?”

“A-ah, tadi ketemu dosen,” kata Ilham, akhirnya berjongkok agar Anggun tidak perlu mendongak saat bicara kepadanya. Tanpa sadar itu berhasil memunculkan senyum di wajah Anggun.

“Berarti sekarang lo mau balik?”

“Tadinya ….”

Anggun mengerutkan kening. “Tadinya?”

Ilham yang baru menyadari ucapannya tampak menggaruk tengkuk. “Lo sendiri di sini ngapain? A-ah … baca buku, ya,” kata Ilham, sedangkan Anggun malah terkekeh pelan.

Anggun menutup bukunya dan terlihat bersiap berdiri. Ilham pun juga ikut berdiri. “Lo udah mau pergi?” tanya Ilham, “gara-gara gue ke sini, ya? Sorry … gue nggak maksud.”

“Kenapa minta maaf, coba? Lagian gue juga udah lumayan lama di sini—udah sore juga dan gue emang mau pergi,” balas Anggun diikuti senyum. Perempuan itu berjalan menuju rak pengembalian buku bacaan dan kembali berdiri di depan Ilham.

“Ayo? Lo masih mau di sini?”

Ilham langsung tersadar. “Eh?”

“Ayo keluar bareng,” ajak Anggun, “mumpung kita ketemu lagi.”

Ilham tidak tahu apakah Anggun sadar dengan ucapannya atau tidak, tapi Ilham benar-benar merasa jantungnya berdetak tidak teratur setiap kali Anggun bicara kepadanya. Laki-laki itu kemudian teringat sesuatu.

Adek-adek belom ngasih kabar hari ini mau dijemput atau enggak, sih. Jadi nggak ada salahnya kalo gue ngabisin waktu dulu sama Anggun, kata Ilham dalam hati.

><><><

“Lo nggak minta dijemput abang lo, Sin? Kayaknya bakal ujan, deh.”

Sinta melihat langit yang memang sudah terlihat gelap. “Kalo gue baru minta jemput sekarang, takut kelamaan dan malah keburu ujan,” ucap gadis itu.

“Bener juga. Terus gimana?”

“Gue mau pesen ojek aja. Biar cepet juga,” balas Sinta seraya mengeluarkan ponselnya.

“Kalo gitu kita duluan, ya!”

Sinta hanya mengangguk. Gadis itu sudah selesai memesan ojek, kemudian membuka grup keluarga untuk memberi kabar kalau hari ini dia pulang sendiri. Terlihat balasan dari sang ibu muncul selang beberapa detik, sedangkan tidak ada balasan langsung dari kakak pertama dan keduanya.

Karena tidak mau ambil pusing, Sinta memutuskan untuk memasukkan kembali ponsel miliknya ke saku sambil menunggu ojek. Sebenarnya ada yang sedang mengganggu pikiran gadis itu selama beberapa hari terakhir.

Setelah acara kampus itu, Ilham pulang larut malam sekali. Baik Sinta dan Dewi sudah tahu kalau agenda acaranya memang sampai malam, tapi mereka tidak menyangka kalau sang kakak benar-benar menikmatinya.

Lihat selengkapnya