“Bener-bener ada yang nggak beres.”
Dewi sontak mengalihkan pandangannya dari novel yang sedang dia baca. Sinta duduk di sofa sambil meluk bantal. Selama beberapa menit, keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dewi membaca novel, sedangkan Sinta duduk sambil menghadap telivisi yang tidak menampilkan tayangan apa-apa.
Ternyata Sinta memang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Soal Kak Ilham?” tanya Dewi sambil melihat Sinta dan langsung dibalas anggukan.
“Iya, Kak … masa lo nggak ngerasa aneh? Sekarang Kak Ilham kalo ke kampus jadinya naik motor—jarang banget bawa mobil,” ucap Sinta sembari menyandarkan tubuhnya di sofa.
Mereka berdua bisa bebas mengobrol di rumah karena memang di rumah itu hanya ada mereka berdua. Ibu, kakak, dan adik bungsunya sedang pergi untuk membeli kebutuhan rumah yang sudah habis.
Dewi akhirnya menutup novel di tangannya, serius dengan pembicaraan mereka. “Ya … kan emang ada penyebabnya. Jam kuliah Kak Ilham yang udah nggak bisa ngikutin jam berangkat kita,” ucap gadis itu, “dan kamu. Kamu juga harusnya nyadar sendiri.
Kamu belakangan ini selalu milih berangkat sendiri. Entah sama temen atau naik bus. Itu gara-gara apa, deh? Kamu punya pacar, ya?”
Sinta langsung membulatkan mata saat mendengar tuduhan kakaknya. “K-Kak! Bisa-bisanya lo ngomong gitu … itu, tuh, kebetulan aja. Gue emang lagi suka naik angkutan umum dan sekolah gue kan yang paling nggak searah sama kalian. Gue cuma mau ngeringanin beban Kak Ilham. Itu aja, kok!”
“Ya udah. Terus kenapa kamu masih ngerasa ada yang nggak beres? Mungkin Kak Ilham juga lagi nyaman naik motor karena kalo cuma nganterin aku dan Bunga … ya naik motor juga udah cukup,” jelas Dewi sambil membuka kembali novelnya karena merasa ucapannya sudah cukup mengakhiri pembicaraan ini.
Sinta berdecak sebal sambil menyilangkan kedua tangan. “Ck, tapi gue masih nggak tenang. Kayak ada sesuatu … yang kita nggak tau, Kak,” ucap gadis itu, tapi Dewi hanya melihat sebentar sebelum akhirnya kembali membaca.
“Kamu terlalu overthinking.”
Sinta langsung terdiam setelah mendengar ucapan Dewi yang sudah fokus membaca novel. Walaupun yang dikatakan kakaknya mungkin benar, tapi Sinta tetap merasa ada sesuatu di balik perubahan sikap Ilham.
Aaah, gue bener-bener pusing! Harusnya gue lega-lega aja, nggak sih? Karena setau gue emang Kak Ilham lagi nggak dideketin sama siapa-siapa, kata Sinta dalam hati sambil memanyunkan bibirnya.
><><><
Troli itu masih didorong Ilham dengan perlahan. Di depannya, sang ibu menggandeng tangan adik bungsunya yang sedang sibuk menjilat es krim. “Bun, mau mampir ke mana-mana lagi?” Pertanyaan Ilham membuat Ratna menoleh.
“Kita udah beli semua kebutuhan yang abis, kok.”
Ilham tersenyum. “Ada yang kelupaan.”
“Masa, sih?”
“Oleh-oleh buat yang di rumah,” jawab Ilham seraya membuka bagasi ketika mereka sudah sampai di tempat parkir.
Ratna tersenyum geli setelah mendengar jawaban putranya. “Bener juga. Nanti malah ngomel padahal mereka yang nggak mau ikut,” ucap sang ibu sembari melihat anak bungsunya yang masih sibuk memakan es krim.
“Bunga … kira-kira kita beliin apa buat Kak Dewi sama Kak Sinta, ya? Soalnya kamu tadi cuma ngambil satu, es krimnya,” kata Ratna sembari mengusap rambut Bunga.
“Kue cokelat!” jawab Bunga penuh semangat.
Ilham tertawa geli. “Itu mah maunya Bunga, bukan Dewi sama Sinta,” kata laki-laki itu yang langsung dibalas senyuman lebar penuh noda es krim dari Bunga.
“Oke. Kue cokelat.”
“Eh? Diturutin beneran, Bun?”
Ratna tersenyum kepada Ilham. “Dewi sama Sinta juga suka, kok.”