My Judgemental Sisters

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #10

BAB 9

ILHAAAM!

Ilham bener-bener keren!

Kalo keringetan gitu, auranya makin aur-auran.

Nggak nyesel gue bela-belain dateng ke sini.

Bimo hanya bisa menahan tawa saat mendengar seruan demi seruan yang berasal dari tribun penonton. Malam ini memang bukan hanya waktunya para lelaki karena saat mereka mengetahui kalau Ilham akan ikut bermain, para penggemar Ilham langsung datang ke sana.

“Jangan kebanyakan nyengir, woy!” omel Ilham sambil melihat Bimo. Laki-laki itu ingin sekali menendang bola di kakinya agar mendarat di wajah Bimo saking kesalnya.

Harusnya gue mikir panjang. Si Bimo emang nggak suka banget ngeliat temennya bisa hidup tenang, batin Ilham.

Ilham menggiring bola sampai mendekati bagian tengah lapangan. Laki-laki itu melihat celah ketika salah satu rekannya di depan sedang tidak dijaga oleh lawan. Ilham lantas tidak membuang kesempatan dan mengoper kepada rekannya itu.

GOOOL!

“Yeay,” ucap Ilham senang diikuti senyum puas. Namun, senyum itu terhenti ketika dia tidak sengaja melihat ke tribun. Dari sekian banyak perempuan yang menempati kursi di sana, pandangan Ilham jadi ke salah satu perempuan.

Anggun?

Bimo yang menyadari perubahan raut wajah Ilham langsung menghampirinya. Laki-laki itu menyenggol lengan Ilham dan berkata, “Gimana? Nggak nyesel ikutan main, ‘kan?”

Namun, Ilham malah memelototi Bimo. “Lo gila, ya??”

“Iya. Gara-gara elo,” balas Bimo, “sebagai temen, gue cuma mau bantuin aja, sih.”

Ilham berdecak pelan. “Gimana kalo ada yang liat gue sama Anggun, Bimo …? Lo tau sendiri gue sama dia udah berusaha buat nggak tampil di publik—”

“Emangnya lo mau terang-terangan? Si Anggun cuma dateng ke sini buat nonton, kali, bukan buat ‘secara langsung’ nemuin elo. Pinter dikit, Ham,” ucap Bimo diakhiri tawa karena melihat raut wajah Ilham yang tampak bingung.

Iya juga. Gue kepedean banget. Ilham sempat melihat ke tempat Anggun, tapi Anggun hanya memberi senyum kecil dan sorot mata seakan-akan berkata, fokus main. Aku nggak ke mana-mana.

Jelas itu hanya halusinasi Ilham yang berhasil membuat pipinya memanas. Untung saja Bimo segera menyadarkan Ilham kalau sekarang mereka masih berada di tengah permainan. Ilham langsung kembali fokus dan berlari mengejar pemain lawan yang sedang menggiring bola.

Bimo hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli. Dasar si Ilham. Ternyata dia kalo lagi jatuh cinta bisa menggelikan gitu, ya? Bimo berucap dalam hati.

><><><

Jam di kafe itu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sebenarnya belum terlalu malam bagi mereka yang terbiasa pulang larut setelah aktivitas kampus dan urusan lain, tapi rasanya berbeda.

Lihat selengkapnya