“Jadi … mau mulai diceritain dari yang mana dulu?”
Anggun tersenyum geli. “Ya dari yang pertama, dong. Dewi dulu,” katanya, sedangkan Ilham malah mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya kembali bicara.
“Dewi itu … mungkin yang paling kalem, ya, tapi dia juga judes banget sama orang—yang nggak parah banget, sih, tapi gitu,” jelas Ilham, “beda cerita kalo di rumah. Dia manja parah sama aku. Manja malu-malu gitu. Ngerti, ‘kan??”
Jeda sebentar. Ilham menggaruk pelipisnya sambil berpikir. “Kalo Sinta itu tomboi. Dia udah gitu dari dulu—inget banget aku. Dia pernah ikut aku main bola di lapangan deket taman kota. Padahal waktu itu dia masih umur tujuh tahun,” ucapnya yang juga ikut tersenyum saat mengingat hal itu.
“Tapi dia juga yang paling posesif ke kamu, ya??” tanya Anggun, membuat Ilham tidak bisa menahan tawanya.
“Hahaha. Bener, lagi,” kata laki-laki itu, “kalo mode satpamnya keluar, duh … susah.”
Anggun melanjutkan. “Nah … yang bungsu gimana, nih? Kayaknya tanpa kamu cerita, aku udah tau kalo dia itu yang paling gemesin, deh. Pengen banget ketemu Bunga … pengen cubit,” kata perempuan itu yang jelas terlihat sangat tidak sabar untuk bertemu dengan adik-adik Ilham.
Ilham tersenyum sambil mengangguk. “Iya. Bunga itu … bisa dibilang, kehadirannya jadi penyeimbang di rumah,” kata Ilham, “tapi tetep aja. Dia juga sering dijadiin alat sama Dewi dan Sinta buat ngeluluhin aku.”
“Dan selalu berhasil,” ceplos Anggun, membuat Ilham tersenyum.
Anggun kembali dibuat tersenyum geli saat mengingat pembicaraannya dengan Ilham di kafe waktu itu. Karena cara Ilham saat bercerita benar-benar terlihat lucu. Bersemangat, tapi juga ragu. Namun, terlihat jelas kalau Ilham sangat menyayangi adik-adiknya.
“Dia anak cowok satu-satunya juga di keluarga itu. Pastilah sayang banget sama adek-adeknya,” ucap Anggun yang sekarang sedang menyandarkan tubuhnya di sofa rumahnya.
Hari ini Anggun tidak ada agenda ke kampus. Perempuan itu sudah beberapa jam di sana karena sedang memikirkan rencana untuk mendekati ketiga adik Ilham. Namun, baru dia berpikir sebentar, sebuah informasi penting dari Ilham hampir terlupakan.
“Dewi? Dia sekolah di SMA Lentera Abadi.”
Anggun langsung menegakkan posisi duduknya. “Kalo nggak salah, adeknya Milan juga sekolah di sana,” kata perempuan itu. Milan adalah tetangganya. Buru-buru Anggun mengirim pesan kepada Milan untuk memastikannya.
Milan
Iya, bener. Itu sekolahnya Ava.
Kenapa, Gun?
Me
Bagi kontaknya, dong. Penting
Milan
Hah?
Oke, bentar.
Anggun tersenyum senang setelah melihat Milan sudah mengirimkan kontak adiknya. “Oke. Rencana dimulai,” kata perempuan itu.
><><><
Padahal tadi langit sangat cerah. Tidak ada yang menyangka kalau sekarang hujan tiba-tiba turun dan langsung sederas ini. Beberapa murid terlihat masih terjebak di sekolah karena tidak bisa pulang.
Salah satunya Dewi.