“Anggun, ya? Ini buat id card sama snack-nya, ya.”
“Makasih, Kak,” ucap Anggun diikuti senyum. Perempuan itu langsung mengalungkan id card relawan yang diberikan panitia dan kembali menuju ke barisan kursi untuk meletakkan kotak sncak.
Sejak pagi tadi, senyum di wajah Anggun masih terus terukir. Karena hari ini adalah hari yang sudah dia tunggu-tunggu. Setelah memikirkan banyak rencana untuk bisa mendekati adik bungsu Ilham, Anggun justru mendapatkan kesempatan ini.
Sekolah tempat Bunga menimba ilmu akan mendatangi acara sosial di balai kota. Saat Anggun melihat informasi kalau acara itu membuka lowongan untuk relawan. Anggun tidak berpikir panjang dan langsung mendaftarkan diri.
Akhirnya bisa ketemu Bunga secara langsung, batin Anggun.
Karena rombongan SD Harapan Bunda belum sampai, beberapa panitia dan relawan diberi waktu istirahat. Anggun mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan kepada Ilham. Anggun juga mengirim foto selfie-nya yang sedang tersenyum sambil memamerkan id card relawannya.
Me
Aku excited banget!
Bunga pasti lucu banget, deeeh
Kalo aku kelepasan nyubit dia karena gemes
Kamu marah, nggak?
Ilham
Cantiknyaaa
Boleh-boleh, tapi jangan terlalu kenceng
Nanti repot kalo nangis :P
Me
Duh. Berarti aku harus nahan diri
Tapi tetep nggak sabar ketemu Bungaaa
Ilham
Pokoknya kamu have fun juga
Acaranya keliatan seru
Me
Belom mulai acaranya, Haaam
Ilham
Senyum kamu di foto udah ngejelasin semuanya
Nanti kirim-kirim fotonya juga, yaaa
Biar aku ikutan seneng juga
Anggun tersenyum geli saat membaca balasan pesan dari Ilham. “Dasar, Ilham—”
“Maaf, Kak. Rombongan anak SD-nya udah sampe. Kita disuruh siap-siap nyambut.” Kalimat Anggun terhenti karena seseorang menghampirinya. Perempuan itu sontak berdiri sambil memasukkan ponselnya ke saku.
“A-ah, iya. Makasih udah disamperin,” kata Anggun.
Anggun terlihat merapikan penampilannya, lalu menyusul beberapa relawan yang saat ini sudah berbaris di dekat pintu masuk balai kota. Dari jauh, beberapa minibus terlihat sudah terparkir.
Anak-anak berseragam cerah mulai turun satu per satu dari minibus dengan bimbingan guru mereka. Anggun terus memerhatikan sampai akhirnya senyum di wajahnya makin lebar ketika sosok anak perempuan turun paling terakhir.