My Judgemental Sisters

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #15

BAB 14

“Bunga. Kakak tinggal ke dapur dulu, ya. Kamu main sendiri nggak pa-pa, ‘kan?”

Bunga yang sedang menyusun puzzle terlihat mengangguk dan membiarkan kakaknya pergi. Ilham langsung menghampiri Ratna yang sedang bekerja di dapur. Kedatangan Ilham ke sana juga sebenarnya dengan tujuan.

Untuk membantu ibunya dan … membicarakan sesuatu.

“Aku mau bantuin Bunda.”

Ratna melihat kedatangan Ilham, kemudian tersenyum. “Pake sarung tangannya dulu, Ham,” ucap sang ibu sambil menunjuk tempat sarung tangan berada.

Setelah memakai sarung tangan, Ilham mulai memasukkan kue buatan Ratna dan ikut menyusunnya di dalam toples lain seperti yang dilakukan sang ibu. Laki-laki itu terlihat sangat serius sampai membuat Ratna tersenyum geli.

Suasana di rumah pada Minggu pagi ini terasa sepi karena kedua adik Ilham yang lain sedang memiliki agenda di luar. Dewi sedang pergi ke acara ulang tahun temannya, sedangkan Sinta mengikuti latihan tambahan karate di sekolahnya.

Selain Ilham yang terlalu serius, Ratna juga memerhatikan sedikit kegelisahan di wajah putranya. Ilham sedang memikirkan sesuatu. Akhirnya setelah Ilham menyelesaikan susunan kue di toplesnya, Ratnya menyuruh mereka berhenti.

“Eh? Aku baru bantuin satu toples, Bun.”

Ratna tersenyum sambil melepaskan sarung tangannya dengan posisi masih melihat Ilham. “Ada yang mau kamu omongin, ‘kan?” Ilham langsung membulatkan mata setelah dia mendengar ucapan ibunya.

Ratna terlihat menyilangkan kedua tangan di dada. “Ada apa, Sayang? Mumpung adek-adek kamu lagi pergi,” lanjutnya, membuat Ilham tersenyum malu sambil melepaskan sarung tangan yang dia pakai tadi.

Ilham tidak langsung bicara. Laki-laki itu beberapa kali menggaruk tengkuknya sambil menghindari kontak mata dengan Ratna. Ilham masih memiliki sedikit keraguan untuk benar-benar menceritakan hal ini kepada sang ibu. Namun, Ilham tidak bisa mundur.

“Sebenernya … ada perempuan yang lagi deket sama aku, Bun.”

Ratna hanya diam. Karena sebenarnya wanita itu juga sudah menduga sejak beberapa waktu lalu. Namun, dia sengaja diam dan menunggu sampai Ilham bicara sendiri. Hari itu akhirnya tiba juga.

“Temen kampus kamu?” Ratna akhirnya bersuara.

Ilham mengangguk. “Namanya Anggun. Aku juga baru kenal sama dia pas event waktu itu, Bun—Festival Jeruk Jingga,” balasnya disertai senyum manis yang berhasil membuat sang ibu juga ikut tersenyum.

Namun, Ratna juga sedang mengingat sesuatu. Anggun? Kayak nama yang waktu itu pernah disebut Dewi—eh? Bunga juga cerita soal kakak-kakak yang ngasih dia gelang manik. Namanya Anggun juga, kata Ratna dalam hati.

“Gelangnya bagus banget, Sayang.”

Lihat selengkapnya